Keluarga

Momen yang takkan terlupakan, bersama keluarga tercinta dan sahabat :)

Momen yang takkan terlupakan, bersama keluarga tercinta dan sahabat 🙂

‘… keluarga adalah mulut yang makan dari meja yang sama..’ (Jang Jeong-Jong : Marrying the Mafia II)

Tulisan ini bukan tentang keluarga secara umum yang biasa dipahami kebanyakan. Ini tentang orang-orang yang tinggal bersama seatap-serumah-setempat tinggal. Sebagai contoh, ada dua orang mahasiswa nge-kos bareng selama empat tahun dari awal kuliah sampe mereka lulus kuliah (katakanlah mereka lulus normal empat tahun) hubungan emosional apa yang akan terjadi? Saya bisa pastikan akan terjadi hubungan emosional yang sangat erat terjadi di antara kedua mahasiswa tersebut tidak hanya sebagai seorang teman, tetapi, kalau dalam film-film disebut we are brothers, atau artinya yah mereka telah menjadi saudara, mereka telah menjadi keluarga.

Takdir manusia memang selalu hidup bersama. Berkumpul, berkelompok, dan saling berinteraksi satu sama lain. Tetapi, hidup bersama tak serta merta membawa kebersamaan. Ada pertemuan fisik, namun ada dinding jiwa yang membatasinya. Ada interaksi, tetapi minus ikatan hati. Jangankan ikatan jiwa, sentimen kemanusiaan yang paling mendasar pun seringkali absen.

Bersama dan kebersamaan tidak serupa. “Bersama” sekadar menandai pertautan fisik, sementara kebersamaan menjelaskan ikatan jiwa. Kebersamaan akan membangkitkan rasa peduli satu sama lain. Keselamatan orang lain adalah keselamatan kita juga, kenyamanan orang lain adalah kenyamanan kita juga, kesedihan orang lain adalah kesedihan kita juga.

Dalam hidup kebersamaan, kita sangat memerlukan sikap tenggang rasa yang amat besar, memahami orang-orang di sekitar kita, memahami orang-orang yang menjadi keluarga kita. Seorang pelatih sepakbola pernah mengatakan : “Karakteristik setiap orang memang berbeda, tapi jadikan satu dalam karakter tim. Kalau ingin tim berhasil,ungkapkan perasaan kalian meski harus berkelahi dengan begitu kalian bisa tahu pikiran rekan setim dan lama kelamaan kalian akan jadi satu makhluk hidup bernama tim, tim yang kuat terbentuk dengan cara itu…”-Alex Ferguson, Pelatih Manchester United.

Bukankah tim sepakbola adalah keluarga? Maka, kalau boleh sedikit mengubah : Karakteristik setiap orang memang berbeda, tapi menjadi satu dalam keluarga. Kalau ingin keluarga berhasil,ungkapkan perasaan kalian meski harus berkelahi dengan begitu kalian bisa tahu pikiran orang lain dalam keluarga dan lama kelamaan kalian akan jadi satu makhluk hidup bernama keluarga, keluarga yang kuat terbentuk dengan cara itu.

Karena memang tinggal bersama atau kebersamaan tidak mungkin ada tanpa adanya gerak, tanpa adanya dinamika. Pun kalau diam, statis dan tidak bergerak, saya yakin akan ada kebosanan yang kalau kata seorang filsuf asal Jeman yang bernama Arthur Schopenhauer :  “Dua musuh kebahagiaan manusia adalah sakit dan kebosanan.”

Jadi, dinamika dalam keluarga adalah hal yang memang sudah seharusnya terjadi. Yang diperlukan adalah sekali lagi rasa tenggang rasa, rendah diri menerima masukan dan kemauan untuk berubah dalam masing-masing.

Kebersamaan pada akhirnya adalah kebutuhan. “Keluarga” kita yang lain entah di organisasi entah di komunitas atau di tempat manapun selain keluarga asli kita adalah kebutuhan. Karena menyendiri bukan jawaban untuk keamanan, karena pagar sosial bagaimanapun lebih kokoh dari pagar beton. Menyendiri juga bukan jawaban untuk ketenangan, karena rasa tak paralel dengan suasana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s