Monthly Archives: May 2014

Danger and the Dragon

Standard
Advertisements

Belajarlah, Mengertilah!

Standard

aAku tak tahu, darimana, dari siapa, atau kepada siapa aku harus belajar, belajar mengandung arti luas, kau dapat mendefinisikannya sesukamu. Tapi menurutku, semua yang Tuhan ciptakan dapat memberi pelajaran kepada kita, asal kita mau mempelajari, mengerti, dan memahami.

Belajarlah dari elang, semua elang itu pemangsa, janganlah kau jadi elang pemangsa, tapi jadilah elang yang mampu bersahabat dengan angin dan badai, mampu menaklukkan langit dengan sayap kokohnya. Gunakan ketajaman mata untuk memandang jujur kehidupan. Gunakan paruh runcingmu untuk berani mengatakan kebenaran. Gunakan cakar tajammu untuk mencengkram karya emas yang akan kau hasilkan kelak.

Belajarlah dari petir, yang tak pernah ragu dalam melangkah, ia selalu menyambar apapun yang ia suka, dengan pasti. Buanglah segala keraguan dalam melangkah di kehidupan ini, yakinlah akan dirimu, kemampuanmu, karena dengan keyakinan yang kuat, impian yang kau rasa tidak mungkin dapat menjadi mungkin.

Belajarlah dari awan, yang tak pernah menyomongkan dirinya walau ia diatas, selalu bergerak perlahan namun pasti, selalu menaungi apa yang ada dibawahnya, dan rela kehilangan dirinya untuk menyejahterakan kehidupan dibawahnya, hujan. Berusahalah untuk menekan hati, terus mencoba untuk rendah hati, karena kesombongan hanyalah tipu daya dan menjauhkan kita dari fakta, bahwa apa yang kita punya, apa yang kita bisa, hanyalah secuil dari nikmat Tuhan yang dianugerahkan. Melangkahlah dengan pasti seperti awan, meski lambat. Tak pernah kau lihat awan bergerak maju lalu mundur lagi bukan? Terus maju pantang mundur, walau perlahan, dan bersiaplah, kesuksesan ada di depan mata. Belajarlah untuk dapat merasakan apa yang orang lain rasa, simpati dan empati. Belajarlah untuk berkorban demi orang lain, memang tidak mudah, tapi bisa dan mungkin untuk dilakukan, apalagi untuk orang terkasih.

Belajarlah dari daun, ia tak pernah membenci angin sejauh apapun ia dihempas dari tempat yang tinggi, sampai akhirnya jatuh tak berdaya di tanah, di tempat yang rendah. Belajarlah untuk tidak menyalahkan keadaan, mencoba untuk berfikir realistis dan tidak selalu berprasangka buruk. Belajarlah untuk tidak terus menerus menyalahkan ketentuan Tuhan, keadaan itum tapi cobalah untuk memperbaiki apa yang ada, karena sejatinya Tuhan tidak merancang manusia untuk gagal, manusia lah yang merancang kegagalannya sendiri.

Belajarlah dari kisah hidup banyak orang, kisah apapun itu. Memang dengan membaca kisah hidup banyak orang tidak dapat merubah kita menjadi orang bijak dengan sekejap, namun darinya, dapat kita fahami berbagai pandangan akan hidup ini menurut ‘mereka’ dan mengambil pelajaran, karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda akan hidup yang dijalani, tahukah engkau akan itu?

Dissapointed

Standard

mendungDear dera.

Kelabu,

Keceriaan langit dengan sekejap sirna oleh kelabu, namun bukan berarti tiada keceriaan yang ia punya, hanya tertutup kelabu. Kurasa, mungkin sama sepertiku saat ini, perasaanku. Dengan sekejap kelabu mampu untuk membawa keceriaan langit pergi, itu kelabunya. Dan kelabuku? Kekecewaan, kekesalan, dan kemarahan. Semuanya mengubah, memporakporandakan hati yang mulanya tenang menjadi gusar, gundah gulana. Setiap orang pasti pernah merasakan kecewa, ya pasti! Dan saat ini saat kecewaku, kekesalanku, dan, ah! Entahlah apa aku menyebutnya, yang pasti, ia membawa pergi fikiran jernihku, dan aku harus berusaha untuk mendapatkannya kembali walau sulit ditengah tengah energi negatif yang ada.

Aku percaya, Tuhan telah merencanakan sesuatu yang terbaik buatku. Tapi, apa ini? Ketentuan atau kebetulan? Atau ketidakberuntungan? Atau kecurangan? Aku tak tahu. Percayakah kau akan keberuntungan dan kebetulan? Untuk yang pertama mungkin aku percaya, namun yang kedua, hm, aku tak tahu pasti, apakah benar ada di dunia ini sebuah kebetulan. Jika melihat kondisi, kurasa kebetulan itu ada benarnya, namun jika kutelaah lagi, “katanya semua yang ada di kehidupan ini sudah ada yang mengatur?” begitukah?

Mampu bertahan ditengah kekecewaan menurutku bukan lagi hal yang sulit, namun tak mudah juga. Bukannya aku meremehkan, hanya saja aku telah lama bergelut dalam ITU. Kau bisa berkata aku pembohong, pembual atau apapun, namun asal kau tahu, kekecewaan dalam hidup, kegalauan, telah berhasil merubahku menjadi lebih tegar dan tahan malang. Ya, betul! Sekali lagi menerima semua kenyataan yang berlawanan dengan harapan itu tak mudah, ingat : Tak mudah. Aku tak berkata susah, kau sendiri yang menafsirkannya, aku hanya berkata ‘tak mudah’, berarti BISA. Bisa karena terbiasa, yah, bisa dibilang seperti itu.

Terkadang, kurasa hidup dalam ketidakpastian tidak mengasyikkan, tidak enak, apa kau berfikiran sama denganku? Namun kata orang hidup tanpa tantangan, nothing. Aku suka tantangan, tapi tidak ketidakpastian. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun, kau tau? Apa yang akan terjadi padamu? Itu yang kurang kusukai, tak dapat menyingkap tabir rahasia masa depan. Tapi dengannya, aku terlatih untuk dapat memprediksi dan menganalisa kejadian yang mungkin terjadi, lantas menyiapkan berbagai rencana, jikalau rencana utama tidak tercapai, bukankah hidup tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan? Benarkah begitu?

Bagaimanapun, mau tak mau, siap tidak siap, demi menjadi manusia dengan nilai jual tinggi, aku, kau, dan mereka harus siap menghadapi segala kemungkinan yang ada, dan sekarang, rencana utama ini gagal, waktunya mengubah haluan, meski bagaimanapun, aku, kau, mereka, harus pantang mundur, layar telah dibentangkan, meski ada karang menghadang, kita tak perlu mundur, hanya perlu mengubah haluan dan akhirnya sampai di satu titik pertemuan, akhir yang kita dambakan, kita impikan.

Kita Selamanya

Standard

 

IMG_0736

eiyo..it’s not the end, it’s just the beginning
ok..detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario..eyo..baru mulai diusung
lembaran kertas baru pun terbuka
tinggalkan yang lama,biarkan sang pena berlaga
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
memori crita cinta aku, dia dan kamu

Saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
cinta masa sekolah yang pernah terjadi
dat was the moment a part of sweet memory
kita membumi, melangkah berdua
kita ciptakan hangat sebuah cerita
mulai dewasa, cemburu dan bungah
finally now, its our time to make a history
*Reff: Bergegaslah, kawan..tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan.
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat..kita untuk slamanya!

Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat di dalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan

saat duka bersama, tawa bersama
berpacu dalam prestasi..(huh) hal yang biasa
satu per satu memori terekam
di dalam api semangat yang tak mudah padam
kuyakin kau pasti sama dengan diriku
pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
kawan..kau tahu, kawan..kau tahu khan?
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan

*Reff: Bergegaslah, kawan..tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan.
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat..kita untuk slamanya!

Kita untuk slamanya 🙂 #FUTURE.GEN

Abadi, kelabu, lembayung, senja

Standard

edelweissAbadi.

Itulah yang yang kudapat, yang kufahami dari bunga edelweiss, entah kenapa, ia bisa abadi, tak seperti kebanyakan hal, yang cenderung rapuh, dan mudah rusak dimakan waktu. Tak seperti tanaman lain, edelweiss tak mudah tumbuh dimana saja, hanya dai satu tempat, menggambarkan suatu kepribadian, atau ideologi yang kokoh, yang dipegang teguh oleh seseorang yang meyakini dan menjadikannya ideologi hidup. Edelweiss dapat tumbuh diatas batu, tanpa tanah, yang merupakan sumber kehidupan bagi tumbuhan lain, ia tumbuh tanpa pupuk yang merupakan penyemangat bagi tanaman lain, namun tanpa keduanya, ia bisa memikat orang orang dengan nilai estetika yang tinggi, bahkan menyaingi ‘mereka’ yang mendapatkan itu. Edelweiss, lambang keabadian yang begitu memikat, dan tidak semua orang dapat menikmati keelokannya, menggambarkan sebuah nilai jual seseorang yang tinggi, tak dapat diraih dengan cara mudah, susah pastinya. Namun, seberat apapun tantangan hidup yang dijumpai, teruslah mencoba dan berusaha untuk menghadapinya, agar menjadi manusia dengan nilai jual tinggi, menjadi mahal, dan tentunya tak semua orang dapat menjadi seperti itu, hanya mereka yang bersungguh sungguh. Jangan menyalahkan Tuhan jika kau bernasib buruk, bukan Tuhan pilih kasih! Kau tanya Dia “mengapa aku ditakdirkan menjadi orang gagal, sedangkan mereka kebalikannya, Kau tidak adil Tuhan!” Mungkin Tuhan akan menjawab : “Aku tidak pilih kasih, Aku hanya mengasihi hamba-Ku yang pantas untuk Ku kasihi, apa kau sudah pantas?” dan sekali lagi manusia itu termenung. Tanyalah hati kecilmu, bagian dari dirimu : apa kau sudah pantas menerima ketentuan baik-Nya? Seberapa besar doamu? Usahamu?

Kelabu,

Hidup ini kelabu, mungkin bagiku. Remang remang dan tak dapat diketahui dengan pasti apa jadinya. Tak perlu menunggu nanti untuk melakukan kebaikan, akankah ada ‘nant’i pada hidup kita? Kau tau? seperti adakah pelangi setelah badai usai? Belum tentu!

Hidup ini kelabu, terkadang apa yang kita mau tak sesuai dengan kenyataan, sungguh kelabu. Masa depan? Kau yakin akan masa depan cerahmu? Takdir? Apa kau percaya takdir? Lalu, jika masa depanmu kelabu, remang remang tak jelas, apa itu takdir? Hanya kau yang bisa menjawab. Hanya satu yang kutau, usahamu menentukan takdirmu, bukankah Tuhan memberitahu bahwa takdir ada yang bisa diubah dan ada yang tidak? Just like the future, we could design it as good as we want. Takdir memang tak ada yang tahu, namun kesuksesan, presentase keberhasilan dapat diprediksi, dengan berkaca kepada masa lalu, usahamu.

Lembayung.

Aku berharap untuk dapat terus melihat biru langit meskipun lembayung sedikit demi sedikit memayungi cakrawala, karenanya aku mendapatkan semangat, karenanya aku bergairah. Aku suka langit, apapun bentuknya, terkecuali badai.

Senja.

Senja merupakan penampilan terindah langit yang disajikan Tuhan buatku. Langit senja memiliki banyak warna, tidak jelas, biru, merah, jingga, kelabu, dan masih banyak lagi. Namun dari semua ketidak jelasan itu, tersirat seni tersendiri, indah, dan berarti. Senja buatku menggambarkan tentang perbedaan, perbedaan pendapat dalam bersosialisasi, yang secara kasat mata terlihat kacau, rusuh, dan apalah. Namun perbedaan yang begitu beragam, jika digabungkan menjadi satu kesatuan tanpa dipermasalahkan, bukankah akan menjadi seni tersendiri juga? Diperdebatkan boleh, tapi mungkin tidak untuk dipermasalahkan selama perbedaan itu tidak menyimpang dari norma dan nilai yang ada. Just like bhinneka tunggal ika, semua akan menjadi indah seperti senja :), jangan berdebat tentang senja! Hanya perbedaan pendapat, tak lebih. Kau akan terlihat bodoh jika merebutkan senja yang sama dengan orang lain hanya untuk memuaskan dirimu, pendapatmu. Berbagilah senja, karena senja itu luas, cakrawala Tuhan luas, bukalah fikiran 🙂 menuju kearah yang lebih baik.

Tentangku, Pulang, Takdir, dan Cinta

Standard

pulangPulang.

Pada saatnya semua harus pulang, seperti mentari, diawali dengan terbit, berakhir dengan terbenam, dan diantara keduanya merupakan sebuah perjalanan. Hidup pun seperti itu, diawali dengan kelahiran, berakhir dengan kematian, dan apa yang ada diantara keduanya merupakan perjalanan, perjalanan hidup yang harus ditempuh dan diperjuangkan.

Aku suka senja, sekali lagi. Walaupun senja mengantarkan terang kepada gelap, dan senja merupakan tanda kepulangan mentari. Dan saat ini juga aku sudah pulang, pulang dari shooting sebuah babak, bersiap untuk babak selanjutnya, babak dalam kehidupanku yang entah kapan, dimana, dan bagaimana akan berakhir.

Takdir.

Takdir itu ketetapan. Takdir itu ketentuan. Atau apalah kau mengartikannya, yang pasti, aku, dia, dan mereka dipertemukan oleh takdir, dan takdir pula yang memisahkan. Kadang kita menyukai takdir, kadang tidak. Perpisahan adalah takdir tak kusukai yang tak dapat kupungkiri keberadaannya, bukan perpisahan yang kutangisi, namun pertemuan yang kusesali, tapi, ah tidak juga

Cinta.

Cinta itu seperti kopi panas, paling enak diminum saat panas, tapi resikonya cepat habis. Jika diminum sedikit sedikit akan tahan lama, tapi resikonya keburu dingin. #milli&nathan

Entahlah apa itu cinta, dan bagaimana setiap orang mengartikannya, aku tidak mengatakan cinta itu indah atau cinta itu sakit atau apalah, tapi yang ku tau dari cinta, segelintir orang bisa menjadi lebih baik karenanya, lebih dewasa, dan lebih bijaksana dalam menyikapi sesuatu. Dan karena cinta, seseorang bisa mengerti, menghargai, serta mengapresiasi. Bagiku, cinta memberi banyak pelajaran hidup, salah satunya, kebahagiaan bisa melihat yang dicintai bahagia, cukup itu. Jika kata orang cinta tak harus memiliki, menurutku tak begitu adanya. Cinta harus tetap memiliki, memiliki rasa solidaritas, memiliki rasa empati dan simpati. Tanpa itu, akankah seseorang bisa dibilang mencintai? lha habis putus cinta aja marahan atau selek, atau benci, bah! katanya cinta tak harus memiliki, itu menurutku. Tapi semua orang punya pandangan tersendiri tentang kata itu, tidak salah, hanya beda pendapat, semua patut dihargai.

Senja II

Standard

senjaSenja, aku suka senja, walaupun senja mengantarkan terang kepada gelap, meskipun dengannya, hari ini telah usai, waktunya intropeksi dan mengoreksi. Dengannya, aku bisa mengingat kenangan kenangan indah bersama orang orang yang spesial, darinya, aku mengerti bahwa segalanya akan kembali, akan pulang, hingga pada suatu saat kita harus berpulang ke haribaan Ilahi Robbi, seperti senja yang mengantarkan sang mentari kembali pulang.

Senja menghubungkan terang dan gelap, dan apa yang ada diantara keduanya merupakan perjalanan, hingga mentari itu pulang. Sama halnya dengan hidup ini, sakaratul maut menghubungkan kehidupan dan kematian, dan apa yang ada diantara keduanya merupakan perjalanan pula.

Senja menutup lelahnya usaha sang mentari menjalankan misinya, menyinari semesta. Senja, bagiku menyudahi lelahnya sebuah penantian, sebuah perjumpaan yang entah kapan waktunya.

Senja, Begitu banyak kenangan yang tersimpan padanya, suka, maupun duka, penuh dengan seni. Seni itu disaat kita hidup dipenuhi suka dan didampingi duka, namun masih bisa tersenyum.

Senja, kau mengingatkanku, rasanya ingin ku ungkapkan, aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi untuk abadi bersamamu. Senja, menyimpan semua itu dengan rapi, mengemasnya.

Untukmu senja, kenangan itu tertulis di wajah pagi dan tersirat di keningmu, izinkan ia tetap ada disana, agar aku bisa selalu mengenangnya bersama keindahan serta ketentraman yang kau berikan.

Senja, semuanya pasti akan kembali, akan pulang, aku tahu, tapi aku hanya,,,, belum siap,, salahkah aku? Senja, bisakah kau tunda kepulangan mentari dan membuatmu lebih lama bersamaku, untuk kurasakan keindahanmu dan ketentramanmu?