Monthly Archives: July 2014

Rehat Sejenak : Refreshing Ke Sari Ater Subang

Standard

Terjebak dalam rutinitas yang kita tak bisa melarikan diri darinya kadang terasa membosankan, menghibur diri sesekali pun tiada salahnya bukan? menghibur diri sekaligus mentadabburi tanda tanda kebesaran Allah Yang Maha Kuasa, itu yang kusuka, bukan menggunakan uang untuk foya foya secara berlebihan, sekedarnya saja. Banyak hal yang tidak kita tahu dari rahasia Ilahi, masa depan, takdir, namun masih bisa diprediksi dan dirangkai dengan langkah langkah yang mendekatkan kita kepada apa yang dicita citakan, selebihnya, biar Yang Maha Kuasa yang mengatur, percayalah, itu yang terbaik.

Bosan, kucoba untuk mengambil gambar gambar menggunakan kameraku, dan inilah hasilnya, bagusnya pengambilan gambar gambar ini, itu karena tangan ini begitu saja bergerak ; kehendak-Nya, namun jelek dalam pengambilannya, sepenuhnya karena kebodohanku :), karena aku bukanlah fotografer handal, amatirpun tidak, hanya berkeinginan menjadi fotografer suatu hari nanti :), akan tetapi objek yang kuambil merupakan ciptaan-Nya yang tiada cacat sedikitpun 🙂

Look at these pictures :

109876543210177373_802431829768438_5998304637923528262_n

That’s the answer why I was filled with gratitude for all Allah has given to me :), Alhamdulillahirobbil’aalamiin 🙂

Advertisements

Apa ini?

Standard

indexRamadhan, bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh rahmat. Di bulan ini merupakan bulan yang penuh dengan kebaikan, kebaikan apapun itu, bagaimanapun cara penyampaiannya, yang pasti itu baik buat kita, yang terbaik menurut yang Maha Kuasa. Dan aku percaya, semua yang telah ditetapkan-Nya padaku merupakan hal terbaik yang pernah terjadi, tanpa aku tau alasan kenapa semua itu harus terjadi, aku hanya percaya, semua memiliki nilai untuk diambil pelajarannya jika kita mau mengerti dan memahami. Seperti senja, aduh, lagi lagi senja! haha. Aku suka senja walaupun kenyataan langit biru yang kusuka akan hilang dengan lembayung yang perlahan lahan memayungi cakrawala, walaupun kenyataan bahwa senja mengantarkan terang kepada gelap. Yang aku butuhkan dan usahakan adalah bagaimana untuk mengerti dan memahami, kenapa langit biru harus hilang, kenapa ada kalanya terang dan ada kalanya gelap, karena hanya dengan mengerti dan memahami itulah aku bisa menikmati senja tanpa penyesalan akan kehilangan langit bur dan gelap. Semua itu sama, suatu kejadian yang kualami, mau tak mau aku harus berusaha untuk mengerti dan memahami, agar semua terasa indah tanpa ada sedikitpun penyesalan tertanam di benak dan dihati. Walaupun, aku tak tahu apa ini namanya, tak ada air mata, namun terkadang hati ini menangis, tak ada luka namun terkadang ia juga merasakan sakit, dan semakin aku mencoba untuk bersabar akan semua itu, semakin berat rasanya untuk bertahan.

Aku, seorang pengembara senja, yang terkadang tak memiliki arah dan tujuan kemana harus pergi. Aku, seorang pengembara senja yang sesekali dapat merasakan apa itu sakit, bagaimana rasanya rapuh. Aku seorang pengembara senja yang mencari sebuah ketenangan jiwa. Aku, pengembara senja yang selalu berusaha menepis bayang bayang cerita masa lalu yang ingin kubuang dan kukubur dalam dalam. Angin, sudikah kau membawaku pergi bersamamu? mengembara bersama, dan menemui teman lamaku senja, sudah lama kita tak mengembara bersama. Angin, aku ingin pergi jauh, entah kemana, karna satu : gundah gulana. Kemanapun itu aku tak peduli, yang penting ke suatu tempat dimana aku bisa mengubur semuanya, semuanya, hingga hanya aku, kau, senja, sahabat sahabat, teman, dan orang orang yang kuinginkan keberadaannya, serta ketenangan, ya, semua yang kubutuhkan untuk mampu berdiri lagi, menatap hari esok yang belum pasti bagaimana jadinya, mempersiapkan diri untuk menerima takdir, baik buruknya, mengosongkan hati, membuatnya menjadi lebih lapang untuk menerima segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Aku jenuh.