Monthly Archives: August 2014

People Come And Go

Standard

people come and goPeople come and go, sesuatu yang dapat kuambil pelajarannya malam ini yaitu mengahrgai setiap momen yang kita lalui bersama orang orang tersayang, teman, sahabat, orang tua, guru guru tercinta, baik itu kebetulan atu terencana, semua patut untuk dihargai, karena kita tidak tahu kapan momen terakhir kita bersama mereka. Jika dulu pingin kumpul ya tinggal kumpul, mau ketemu tinggal ke kamar, sekarang mau komunikasi terkadang pending, mau share di grup dibilang norak, mau nget-tag di facebook, dikiranya apaa itu.. mau bikin multiple chat, dibilang norak juga, jadi serba salah, karena mereka, orang orang itu, bagaimanapun telah memberikan warna di kehidupan kita, bahkan jika ia kasat mata, pilinan keharmonisannya tertulis jelas di benak, sekalipun ia orang yang menyebalkan, ada kalanya kita rindu mereka, dan bukan lagi menjadi raha sia umum lagi. Therefore, hargai setiap momen yang kau lalui bersama mereka, coz we don’t know, perhaps it’s the last :).

Advertisements

Thank You Allah

Standard

Terimakasih Allah, kiranya hari ini Engkau dengan segala kuasa dan kasih sayang-Mu masih mengizinkanku untuk merasakan berbagai kenikmatan hidup, menghirup udara-Mu, bernafas dengan organ tubuh yang telah Engkau berikan, berjalan dengan kaki yang Engkau anugerahkan, semua menjadi mukjizat bagiku saat kulihat sebuah kenyataan bahwa tak semua orang seberuntung diriku. Jarang terfikirkan olehku bahkan tidak pernah, bagaimana jika salah satu saja dari limpahan nikmat-Mu padaku Engkau cabut, bodohnya aku yang belum pandai mensyukuri nikmat-Mu, maka jadikanlah aku golongan hamba-Mu yang  pandai bersyukur ya robbal alamiin, tetap berjalan lurus di jalan-Mu, meniti kehidupan yang penuh duri, penuh lika liku, jangan putuskan rahmat-Mu kepadaku, karena tanpanya niscaya aku bukan apa apa melainkan hanya sebutir debu.

Renungan saat mentari mencapai ufuk barat. Senja, lama tak berkelana bersama, dan kini kurasakan lagi hangat dan bersahabatnya dirimu. Jangan marah padaku senja, ini hanya sebuah keadaan. Terimakasih senja, sekali lagi kau dapat membuatku merenung, mengagumi ciptaan-Nya yang ntak terdefinisi keindahannya, designnya, artistiknya, sempurna dan tiada cela. Senja, dapatkah aku menjadi bagian dari golongan itu? golongan orang orang yang pandai mensyukuri nikmat Tuhannya? Yakinkan aku bahwa aku bisa, bahwa aku mampu merubah diriku menjadi pribadi yang lebih baik dari ini. Satu lagi yang kuminta darimu, jangan pernah berhenti membuatku terus merenung dan mengagumi ciptaan-Nya, sehingga aku tak pernah lupa untuk mensyukuri nikmat dan menyadari betapa indah nikmat hidup yang Tuhan berikan, dan hari demi hari aku semakin pandai untuk bersyukur, taat menyembahnya, mematuhi perintah dan menjauhi larangan larangan-Nya, menjadi abdi setia-Nya, meraih jannah-Nya.

 

Yogyakarta, 27 Agustus 2014

Renungan di senja hari

Standard

Ketika keajaiban Tuhan datang memenuhi harapan, masihkah kita mempertanyakan akan tanda tanda kebesaran-Nya? tanta tanda kekuasaan-Nya? Sesungguhnya hidup ini adil, semua yang diciptakan-Nya penuh dengan keadilan, hanya saja kita yang terlalu bebal dan bodoh untuk memahami dimana letak keadilan itu. Hidup ini menyenangkan, karena walaupun kita tidak tau, kita dapat merasakan saat saat terakhir kita bersama orang-orang tercinta, entah firasatkah itu atau tanda tanda yang kadangkala tak bisa dimengerti sebelum waktu memanggil. Pelajaran yang dapat kumengerti hari ini, jangan menunda-nunda untuk berbuat kebaikan, jangan berbicara masa depan yang belum pasti ada untuk melakukannya, karena yang nyata adalah kehidupan saat ini, hari ini, apa yang terjadi kemarin adalah sejarah, yang terjadi hari ini adalah hidup kita yang sudah pasti, dan masa depan adalah harapan. Jika bisa melakukan kebaikan mulai detik ini kenapa tidak? Jika terbiasa melakukan dengan segera, mungkin esok hari akan lagi, lagi dan semakin banyak lagi tanpa ada fikiran untuk menunda nunda kebaikan itu. Jangan menunda nunda kebaikan, mungkin dirimu bisa menunggu untuk melakukannya, tapi tidak dengan waktu, dinamika rotasinya berputar tanpa kenal rasa kasihan kepada orang yang menyia-nyiakannya, ia terus berputar dan tanpa disadari ‘jatah’ waktu seseorang semakin berkurang, bahkan habis pada akhirnya, Laa tuakkhir amalaka ilal ghodi maa taqdiru an ta’malahul yauma, never put off till tomorrow what u can do today.