Tentang Hati, dipilih, bukan memilih, ia berlabuh

Bingung itu, disaat tidak tau kemana harus pergi, pada siapa harus bercerita, dimana harus bersandar. Bingung itu, disaat butuh seseorang untuk bersandar, but you feel nobody out there for you. Sunyi itu sepi, sepi itu sendiri, sendiri itu gelap, gelap itu saat tak ada secercah cahayapun di hati.

Bertahan, mungkin tak semua orang mampu melakukannya. Mampu bertahan di depan orang, belum tentu bisa berdamai dengan semua rasa yang mengusik kalbu, mengusik perasaan, dan mendera fikiran. Hujan menyimpan semua kenangan itu, dan ia dengan kejamnya mengembalikan itu semua, melemparkannya tanpa rasa kasihan sedikitpun pada korbannya, yang terus berusaha mengubur semua kenangan kenangan itu, yang tak ingin kenangan kenangan indah-menyakitkan itu kembali dari tidur panjangnya, seperti aku. Terlalu banyak kenangan indah yang aku, dia dan hujan lalui bersama, hujan merekam semuanya dengan baik, sampai sekarang, aku kehabisan akal untuk mengubur semua kenangan itu.

Hati itu dipilih, ia berlabuh, tak bisa dipaksa. Mungkin kini masih tersisa secercah rasa itu seujung kuku, namun masih bisa kurasakan pedih dan warna warninya, indah dan galaunya, senang dan sedihnya, masih terasa, masih tergambar jelas di mata, saat keindahan itu berubah menjadi sesuatu yang kelam, yang tak pernah kuharapkan sedikitpun kehadirannya.

Cahaya baru datang, dan aku berusaha mendapat penerangan darinya, perlahan aku berjalan mendekati cahaya dari lorong gelap, dan tak tahu kapan aku harus berlari untuk mendapatkannya, yang pasti aku akan berlari. Namun aku ragu. Cahaya itukah yang akan menerangi hidupku kedepannya? atau aku harus mencari cahaya lain, yang siap setia menerangi sampai akhir nanti?

Kamu, yang sekarang menjadi harapan baru buatku. Kamu, alasan kenapa aku dapat tetap tersenyum. Kamu, alasan kenapa aku bisa terus melangkah menata masa depan. Kamu, cahaya yang kutemukan beberapa saat lalu, dan perlahan aku kini mulai berjalan mendekati, tapi aku tetap tak tahu kapan aku harus berlari, aku takut cahaya itu padam disaat aku berada sejengkal darinya, untuk itu biar aku mendapat penerangannya dari jauh, namun tetap menenangkan, daripada dekat, namun padam seketika.

Aku percaya akan ketentuan Tuhan, Tuhan menjawab dengan tiga cara setahuku, Dia berkata ya, maka Dia mengabulkan permintaanmu, Dia berkata tunggu, maka Dia mempersiapkan agar sesuatu itu indah pada waktunya, dan Dia berkata tidak, maka dia telah mempersiapkan yang terbaik untukmu 🙂 , dan apapun itu, aku percaya, segelap apapun hidupku sekarang, sesulit apapun hati ini terus berharap meronta ronta dalam kesunyian, mencari cari cahaya dalam kegelapan, aku percaya, Tuhan telah mempersiapkan semua yang terbaik buatku. Tapi satu yang harus kau tau, aku sayang dengan sepenuh hatiku, tanpa melihat ke masa lalu, aku siap untuk memulai, aku siap untuk beranjak, dan kupastikan sekarang semuanya sudah terkubur, aku hanya ingin ada aku, kamu, kita.

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Hati, dipilih, bukan memilih, ia berlabuh

  1. cahaya di hadapanmu kini..
    bukan untuk kau kejar, kau raih
    lantas kau dapat terangnya
    dan berharap akan selamanya..
    tapi juga kau jaga
    jangan biarkan pudar
    seperti dulu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s