Monthly Archives: January 2015

Apa?

Standard

Apa? Apa yang salah dengan hidup ini?

Apa? Apa cuma muka gue yang penuh akan guratan keputusasaan dan kejenuhan yang mendalam?

Apa? Apa hidup ini adil?

Apa? Hidup ini selalu memudahkan jaslan semua orang kecuali GUA yang selalu dipersulit!

Apa? Lu bilang gue egois atau apa?

Apa? Ini gue terlalu jenuh capek dan selalu bertanya tanya kenapa!

Apa? Gue selalu susah in everyway

Apa? lu mau bilang apa?

Apa? Bisa lu hibur gua yang kaya gini?

Apa?

Apa?

Apa?

sekian

Advertisements

Loneliness

Standard

Do u know how does loneliness feels like? taukah rasanya kesendirian? If you haven’t known it well, I’ll show you how does it feels like. Kesepian dan kesendirian adalah kata yang mengerikan buat gue, karna gue tau persis gimana rasanya merasa sepi sendiri walau ditengah keramaian, karna gua tau betul rasanya kehilangan arah, karna gua tau betul gimana rasanya ditinggal pergi. Kesepian, kehilangan arah, itu semua tentang pencarian gue, tentang masa depan gue, tentang jati diri yang katanya dicari cari waktu remaja yang bahkan sampai saat ini gue belum tau apa dan siapa gue. Gue ngelakuin pencarian yang bahkan ujungnya gue nggak tau, yang bahkan kepastiannya aja gue nggak tau kapan dan bagaimana semuanya selesai, gue cuma mau tau apa dan siapa gue aja, cukup. Tiga pertanyaan yang selalu muter muter di kepala gue adalah : apa gue? siapa gue? dan bisakah gue mengenal Tuhan tanpa gue mengenal apa dan siapa gue. Gue bingung, takut, kalut, galau. Seandainya pencarian itu nggak ada ujungnya dan nggak kunjung selesai, kapan gue bisa mengenal Tuhan? katanya siapa yang mengenal dirinya mengenal Tuhan. Gue takut umur gue nggak terlalu panjang buat pencarian itu, dan semua itu bikin gue lelah. Harus gue akui, tiga hal ini yang sering bikin gue ngelantur, ngelamun selagi berkendara, ngerasa fobia kesendirian atau apalah, jujur semua gara gara itu. Gue nggak kenal diri gue, diri gue yang sebenar benarnya diri, bukan diri yang terdiri dan diri yang terdari. Gue butuh orang lain, ya butuh orang lain, butuh SANG PENCERAH, dan anehnya temen lebih sering nanggap ini guyonan dan hal yang, alay atau apalah, padahal gue butuh orang lain, mereka lah temen temen gue yang seenggaknya bisa ngasih kenyamanan walau sesaat. Gue butuh orang lain, gue bosen sendiri, gue bosen merenung sendiri tanpa ada pencerahan dan nggak tau jawaban dan ujungnya dimana, gue butuh. *asik plong udah curhat di blog*

Salam Ukhuwwah Ya Ikhwani

Standard

IMG_1497Entah apa yang harus kukatakan, semua tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, hanya mampu mengucap Alhamdulillah, puji syukur atas karunia-Nya yang sangat melimpah. Teman, kata orang lebih mudah mencari lawan daripada mendapat kawan, benarkah begitu? Teman, tahukah engkau, rasa takut yang menghantui ini bukan karena takut kehilangan berbagai tunjangan, atau apa, yang kutakuti hanya : kehilangan kebersamaan yang telah kita bangun beberapa bulan terakhir ini, kebersamaan yang begitu berarti buatku, karena aku tak memiliki banyak teman. Benar, aku tak memiliki banyak teman, tapi yang pasti percayalah, aku akan menjaga setiap teman yang aku punya, buatku jumlah tak berarti, yang berarti adalah rasa saling mengerti dan memahami, walau sedikit.  Jujur, aku jarang menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kurang berarti buatku, tapi untuk mereka yang berarti, hujan badai, pegunungan, aku sanggup melewati hanya untuk sekedar berkumpul, bercerita, saling mendengarkan. Tahukah kawan, disaat kau jatuh cinta pada seseorang yang bahkan warna matanya saja engkau tak tau, yang hanya dapat kau lihat punggungnya, yang hanya bisa kau kagumi dari jauh, jauh lebih baik rasanya untuk tidak mengenal apapun darinya daripada telah mengetahui bahkan tiap senti dari dirinya lalu ia berkata tidak, ah apalah itu lupakan.

Terimakasih teman, walau diri ini seringkali merasakan kehampaan, kesunyian, kejenuhan yang tak pernah bosan menghampiri, kalian mampu menepis semua itu, ketakutan ketakutan itu. Aku bodoh ataupun apa, whatever, sepertinya orientasi studi sudah sedikit menyimpang, bukan lagi belajar bersama, tapi yang penting bersama, entah belajar atau tidak, ajaib ya.

Teman, kita saudara, seagama, setanah air, satu nusa satu bangsa, mau dikatakan apapun aku tak peduli, tapi aku sayang kalian. Semua yang berarti, semoga tak akan pernah pergi. Semua orang di kehidupan kita boleh datang dan pergi begitu saja, tapi kawan sejati akan selalu di hati. Salam ukhuwah ya ikhwani, najhadu fi sabilillah fi iqomati si’ari dinih, semoga Allah selalu melindungi kita, amen.

In memoriam, Drini Beach, 27th of December 2014

Yogyakarta, a City with Cultural Diversity

Standard

kota-yogyakarta-_130822224920-808Yogyakarta is one of Indonesia’s provinces which located not far from Merapi volcano. For all this time, Yogyakarta is only known as a city of the learners, where a lot of students from many provinces in Indonesia study there, whereas Yogyakarta is not only a city of the learners, but also a city with a lot of cultural heritages that might be interesting for us to know. Therefore, this paper is written in order to describe such information about Yogyakarta with its culture diversity.

Yogyakarta has many inherited traditions and heritages. One of the causes that contribute to Yogyakarta’s inheriting tradition is the role of Keraton Yogyakarta in conserving those traditions and heritages such as traditional clothing, an old clothes and old daily ancient Javanese furniture, all those are kept well in Keraton Yogyakarta. Yogyakarta’s inherited tradition is not only in that case, but also in many other cases such as its periodic ceremonials, arts, and daily habitual traditions. According to Yogyakarta’s periodic ceremonial, Yogyakarta still keeps those old traditions, some periodic ceremonial known are Grebeg, Bekakak, Nguras Enceh, Cupu Panjala, Wiyosan Kanjeng Kyai Tunggul Wulung, and Rebo Wekasan. According to Yogyakarta’s art, Yogyakarta has various art, some of them known are traditional dances such as Golek Ayun-Ayun, Beksan Srikandi Suradewati, Arjuna Wiwaha, and Serimpi, traditional music instrumental such as Gamelan, Gendang, and Rebab, and theater shows such as Ketoprak and Wayang. According to daily habitual tradition of Yogyakarta’s citizen, the people are still keeping the good Javanese culture values such as using the Javanese language in daily communication, using polite language to speak to an older age, and respecting the others.

Yogyakarta has wonderful traditional building architectures. Many traditional buildings in Yogyakarta have wonderful construction and artistic, for examples are Keraton Yogyakarta, Joglo, and Tamansari. Fist, Keraton Yogyakarta building’s architecture can only be found in Yogyakarta. The architecture of Keraton Yogyakarta is very Indonesia, besides it is beautiful and unique, the spatial and ornaments through the building make it wonderful. Second, Joglo has a unique and wonderful design and it’s the only one in the world. Third, Tamansari also has a unique architecture which is the combination of two cultures, Javanese and Portugueses, the visitors will be surprised in the time he looks its architecture.

Yogyakarta city has special charms. Yogyakarta has charms in many sides such as its culinary, its atmosphere, its natural sceneries, and its recreational places. From culinary side, Yogyakarta has a great culinary called gudeg, gudeg is the special food of this city. From the atmosphere side, Yogyakarta’s peaceful atmosphere made the people want to visit Yogyakarta again and again, besides that, Malioboro’s night atmosphere could always attracts the people to go there even only to drink a cup of coffee at the place called angkringan. From the natural sceneries side, Yogyakarta has a lot of natural views such as Star Hill, Baron beach, Indrayanti beach, and many other. From the recreational places side, one of Yogyakarta’s recreational places called Alun-alun Kidul, has a unique vehicles called Becak-becakan. That’s all what made Yogyakarta has a special charms, and many other Yogyakarta’s charms that could not be described here.

From the passage above, we know that Yogyakarta is not only the city of the learners, but also the city with a lot of culture heritages. Yogyakarta’s success in conserving those heritages and cultures is worth to be an example for another region to conserve their own heritages and cultures, because those heritages and cultures are our identity and pride, Indonesia.

Originally written by  : Ihda Ciptaditama

Thinking out of the box

Standard

t6hinkBerfikir diluar kebiasaan, could I? yap semua orang punya bakat dan kelebihan di bidangnya masing masing, jadi yang salah siapa kalo suatu saat otak kita gak mampu karena belum terbiasa melakukan “unusual thing”? tak berhenti menyalahkan diri sendiri mungkin bukan jawaban yang tepat, sebenarya bukan tidak bisa, hanya belum terbiasa. Ibarat berada di ujung timur pulau papua dan sekejap harus berada di pulau weh di sabang sana, memang mustahil, harus ada yang namanya perjalanan, butuh proses, dan gue rasa begitu juga belajar. Beberapa hari ini, kebiasaan menyalahkan diri sendiri dan menganggap diri sendiri sangat sangat, extremely stupid datang kembali, ya sesuai tema, thinking out of the box, ini keadaan gue sekarang, dimana gue yang biasa berfikir sesuatu hal yang berbau ilmiah, yang selalu disaertai penyebutan item item itu, sekarang dipaksa untuk “menghilangkan” penyebutan itu, disubtitusi dengan penjabaran, sehingga dihasilkan suatu persamaan baru yang tidak sama dengan penyebutan, namanya penjabaran, apalah itu, gue nggak kenal sebelumnya sama yang namanya penjabaran. Satu yang gue tau, sewaktu nulis sesuatu, gue cuma bisa menyebutkan fakta fakta dan fakta, ya gue akui gue emang orang yang gak terlalu suka beropini, bahkan ngga pernah dalam tulisan ilmiah gue ada opini, everything is based on the fact, semua bisa disebutkan, jelas, dan pasti. Sekarang gue dipaksa buat menghilangkan, I’ve to omit all those things i used to write -,-. It’s the reason why i called ‘this’ thinking out of the box but out of this galaxy, LOL, whatever you read, whatever you think, this is me, anak ipa yang mendadak harus berfikir sosial, harus berfikir luas harus mengembangkan fikiran, memecahkan suatu permasalahan dengan tidak menyertakan konsep algebra, logaritma diferensial integral atau segala macam konsep matematika fisika lainnya, cuma dituntut buat berfikir, berfikir dan berfikir tanpa tau acuan benar dan salahnya, nggak seperti matematika yang pasti benar salahnya, masalah yang kompleks, kalo disini gue dapet kosakata baru, angel kasta temen temen gua. Dan satu satunya masalah gua sekarang adalah : belum nemu titik terang dimana gue bisa nyebrang dari merauke ke sabang secepet kilat, as the lightening speed, gua belum nemuin dimana transisi, peralihan dimana gua bisa switch mode otak gua dari dari mode full logika ke mode baru ini (gue juga belum punya nama yg tepat buat nyebut mode ini ), that’s all. Tulisan ini absurd, nggak jelas, atau apa, yang pasti gua yakin lu pada pernah ngerasain such a silly thing happened to me, this was just a little piece of this story, dan mungkin masih banyak hal hal absurd yang menanti gue kedepannya, balik lagi ke SMP dah, belajar banyak tau dikit. Enough