Monthly Archives: September 2015

A little Chaos

Standard

chaosHai senja, semakin lama aku hidup di dunia, semakin bertambah usiaku, semakin tua aku, sadar tak sadar semakin bertambah pengalaman hidupku, dan semoga semakin banyka pula hal hal baru tentang kehidupan yang kupelajari, yang kuperoleh setiap harinya. Senja, beberapa hari ini aku dapat menyimpulkan suatu hal yang menurutku baru : an order and chaos. Dimanapun, kapanpun ada suatu keteraturan, keseimbangan, akan selalu ada kekacauan yang menyertainya. Kekacauan yang berawal dari ketenangan yang terusik, yang berpotensi untuk merusak sebagian bahkan seluruh keteraturan yang ada, seperti yin dan yang, seperti raava dan vaatu, order dan chaos tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lain, salah satu dari mereka akan ‘terlahir kembali’ jika salah satunya hancur, keteraturan tidak dapat meniadakan kekacauan yang ada, begitu pula kekacauan. Kekacauan yang berpotensi menimbulkan kerusakan, walaupun tak nampak pada permulaannya, namun pada saat klimaks, pada saat kritisnya, ia dapat menghancurkan segala keteraturan. Kekacauan yang melahirkan sebuah turbulensi dalam dinamika kehidupan, mulai dari individu terkecil, hingga terbesar, dari amoeba, hingga manusia, turbulensi terjadi dimaman mana, indahkah? mungkin, namun menurutku tidak begitu adanya. Berbagai turbulensi telah terjadi dalam dinamika kehidupanku yang taida pernah datar adanya, turbulensi yang terkadang merapuhkan, menjatuhkan, atau membangkitkan semangat baru dari kepingan harapan dan kekecewaan yang hancur melebur bersama, turbulensi yang terkadang membuatku terjatuh ke dasar jurang yang dasarnya tanpa sadar kubuat sendiri dari harapan semu dan bayangan tanpa arti. Satu yang ada di benakku, melawan arus, melawan keteraturan yang ada, akankah ini menjadi turbulensi terdahsyatku? akankah aku mampu melewati turbulensi ini? ataukah ia akan menarikku ke dasar jurang terdalam? ataukah akan ada turbulensi berikutnya yang akan ku hadapi? Duhai semesta, siapa yang jahat disini? jahatkah aku yang telah mencinta-mati, anormakah perasaan ini yang terbangun tanpa aku sadar, yang bagaimana permulaannya-pun aku tak tahu?

Advertisements

Surat Kecil Untuk Tuhan

Standard

Tuhan, maafkan kelancanganku menulis surat kecil ini untuk-Mu

Tuhan, aku lemah, melindungi diriku sendiri dari marabahaya pun aku tak kuasa

Tuhan, aku amat bodoh, bagaimana aku memahami takdirku pun aku tak tahu

Tuhan, aku begitu dungu, banyak tak mengerti ini dan itu

Tuhan, aku bingung, untuk apa Engkau beri aku masalah?

Tuhan, aku tak tahu, Engkau memberiku masalah karena aku kuat menghadapinya, melewatinya, atau menghindarinya?

Tuhan, aku lelah, lelah dengan berbagai masalah dan penyelesaian yang tiada akhirnya

Tuhan, mengapa mereka harus hadir dikehidupanku, orang orang yang hanya menyusahkanku?

Tuhan, apa Kau marah padaku? katakan padaku Tuhan

Tuhan, apa aku boleh meminta? satu saja : peluk aku sejenak dalam pangkuan-Mu; aku lelah

Tuhan, haruskah kegelisahan itu menghantui disetiap aku membuka mata dipagi harinya?

Tuhan, apakah ini takdirku untuk selalu terjaga dalam kewas-wasan, dalam kegundah gulanaan

Tuhan, kini aku bermurung durja, tahukah Engkau? aku yakin Engkau Maha Tahu dan Maha Mendengar

Tuhan, haruskah kesenangan itu berlalu dengan cepat?

Tuhan, haruskah aku menjalani hidup yang seperti ini? apakah ini kehendak dan keinginan-Mu

Tuhan, aku tak tahu, aku hanya bisa menerima; bimbinglah aku

Tuhan, kujalani hariku dengan berbagai pertanyaan terus membenak di kepala hari demi harinya

Tuhan, adakah sisi lain dari dunia ini yang Engkau ciptakan tanpa kesedihan?

Tuhan, adakah sisi lain dari kehidupan ini yang Engkau ciptakan tanpa kenestapaan?

Tuhan, Engkaulah yang tahu dan Yang Maha Tahu, maafku atas suratku, aku bersimpuh menghadapmu, Tuhan.

Tentang Rasa 2

Standard

imagesHai senja, maaf melewatkanmu hari ini. Senja, apalah bahasa itu, aku tak mengerti. Bagiku bahasa hanya tentang bagaimana seseorang atau sekelompok orang membuat “sesuatu” agar bisa berkomunikasi satu dengan yang lain. Bagiku, bahasa setiap manusia berbeda, aku memiliki bahasaku sendiri, yang jika diekspresikan dengan bahasa yang kami gunakan mungkin maknanya tidak 100% sama atau bahkan berbeda samasekali. Senja, apalah bahasa itu, disaat aku merasakan seperti ini (seperti apanya-pun mungkin kau tak tahu), aku tidak tahu dengan kata apa aku menyebutnya, karena bahasa kami terlalu sedikit, bahasa diri ini lebih kaya dan lebih berwarna, perasaan tidak berbahasa bagiku senja. Senang, sedih, gundah, gulana, yang banyak orang katakan sebagai suatu perasaan, mungkin saja memiliki arti berbeda pada setiap orangnya, aku yakin itu. Sedih yang kurasa mungkin bukan merupakan “kesedihan” bagi orang lain. Apa yang aku anggap senang, mungkin orang lain memiliki definisi tentang kesenangan yang berbeda denganku, bagaimana denganmu? Tentang bahasa, mungkin tak perlu terlalu memikirkannya, bahasa ini hanya diri ini yang mengerti, setiap ketukan dan tuntunannya hanya diri ini yang bisa merasa dan memahami. Mungkin lebih baik begini adanya, sebab aku tak ingin semua orang tahu “bahasaku”. Ya, mungkin aku tak perlu terlalu memikirkan tentang bahasa, karna aku lebih banyak berbicara pada diriku, selalu bertanya ini itu, bahkan segalanya, temanku seorang hanya diriku, teman bicaraku, yang mungkin satu satunya yang bisa mengerti apa dan bagaimana keadaan hati, kujelaskan dengan “bahasaku sendiri”. Senja, cukup indah hari ini yang kulewati ‘sejenak’ bersamamu, menyusuri pinggiran kota, mengulang kembali kenangan yang kita bangun bersama, dan sekali lagi, disitulah aku tak tahu harus ‘membahasakan’ perasaan ini dengan apa, akupun bingung, aku hanya menyebutnya ‘perasaan ini’, entahlah sampai kapan dan sudah berapa macam perasaan dan ekspresi yang kusebut dengan ‘perasaan ini’. Satu yang mungkin dapat aku bahasakan ke dalam bahasa ‘manusia’, yaitu perasaan nyaman, selain itu, semuanya terlalu kompleks dan sekali lagi sampai sekarangpun aku belum mengerti, dan mungkin suatu saat aku akan menemukan, mengerti da ┬ámemahami apa hakikat dari si ‘perasaan ini’ dan ‘bahasa’ diri ini. Senja, dengan ini, aku sadar betapa Agungnya Tuhan, karena dengan ‘bahasa’ diri yang sedemikian banyaknya di dunia ini, Tuhan tetap dapat mendengar dan memahami, apa yang aku, dia, dan mereka rasakan serta keluhkesahkan, yang bahkan akupun masih kebingungan dengan perasaan dan bahasaku. Senang melihatmu senja, karena dengan melihatmu, aku dapat tetap mensyukuri nikmat hidup yang diberikan-Nya, walaupun aku belum bisa sepenuhnya menjalankan misi ku sebagai hamba-Nya dengan sebaik mungkin, menjadi agen penyebar kebaikan di bumi ini, menjadi khalifatullah fil-ard, aku tetap senang dan terus berusaha menjadi sebaik mungkin. Selamat menempuh perjalanan hingga esok hari senja, semoga kita bertemu di kesempatan lain, dengan momen serta kenangan yang mengalir, lagi.

Dear Brother And Sisters

Standard

Hidup Cuma sekali, hiduplah yang berarti. Perjuangan bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk nanti. Kau boleh percaya bahwa tidak perlu susah susah menjadi rajin dan berprestasi untuk mendapatkan masa depan yang baik, akan tetapi yang harus kau tau, kerajinan dan prestasimu saat ini akan mempermudah jalanmu untuk menuju kesuksesan. Belajar bukan hanya kini, tapi juga nanti dan akan selalu selama raga masih mengandung nyawa. Jangan pernah berfikir jika kau tak mampu ataupun tak bisa, karna sejatinya kamu; kita semua adalah seorang pemenang, yang mau tak mau keluar menjadi pemenang mengalahkan ribuan saudara kita dahulu. Ketahuilah, disaat kau menyerah dan hampir putus asa, sesungguhnya keberhasilan itu amatlah dekat, jika saja kau mau tetap berjuang dan bersabar sedikit lagi. Jadikan apa yang teman temanmu katakan tentangmu pijakan bagimu untuk melompat lebih tinggi, memasang kuda kuda lebih mantap serta tekad yang yang lebih kuat dari sebelumnya, jadikan apa yang sebelumnya tak mungkin menjadi mungkin, karena manusia akan tetap hidup selagi ia punya harapan, selagi ia punya cita dan cinta. Jala itu masih menanjak, gapailah hingga kau dapat, seperti elang kepakkan sayap menembus kokoh angkasa yang pekat. Semangat adikku, doaku menyertaimu