Monthly Archives: June 2016

Kata Hati

Standard

2 tahun, 8 bulan, 22 hari. Tak sedikitpun penyesalan itu berkurang. Dua tahun terakhir, masa masa yang sulit untukku. Sulit menafikan segala bayang dan penyesalan akan apa yang telah kuputuskan dan kuperbuat padamu. Raga memang terpisah jarak, waktu, dan kenyataan, namun entah, hati ini tetap tertambat pada satu tambatan yang sedikitpun tak berubah.

Hai kamu, apa kabar hari dan hati? Semoga iman tetap menanjak maju didalamnya. Pagi, merupakan awal yang baik untuk mengawali hari, karena didalamnya, terdapat harapan harapan baru, semangat baru serta target target baru. Kata-kata yang selalu kuingat, tak pernah sedikitpun terlupa. Taukah, tak sedikitpun ia pernah beranjak pergi.

Embun di pagi buta, sejuknya udara pagi yang memasuki jendela kamar kerap kali mengingatkanku akan doaku pada tuhan kali itu; semoga dirimu yang menjadi kamu-ku.

Hujan yang menusuk tubuh seringkali berucap, seakan ingin mengutarakan suatu pesan, seringpula menampar wajah ini, fikiran ini, dengan berbagai kenangan, lukisan, untaian kata, puisi, nyanyian, senandung disaat tiap bulirnya jatuh didepan mata dimasa lalu.

Semoga semakin dewasa, semakin bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, semoga kamu mendapat tempat dihati orang orang yang menyayangimu, turut serta atas bahagia dan sedihmu. Doaku untukmu, jika ia tak kasat mata, pilinan warna warninya akan memenuhi langit dunia, menunggu tangan yang Maha Kuasa untuk turut andil mewujudkannya. Kado terindah, My sweetest sweet seventeen.

Meskipun semua yang berisi kenangan menghilang entah kemana, semua kenangan tentangmu, selalu terpatri di relung jiwa. Aku merasa jahat. Jahat karena tak bisa melepasmu begitu saja, jahat karena terkadang hadir sebagai ilusi dalam kehidupanmu.

Neptunus, haruskah aku kembali melapor? Ingatkah laporan terakhirku dulu? Di pantai lepas itu.

Apalah ini engkau menyebutnya, aku hanya ingin membiarkan hati ini bicara, setelah sekian lama termenung lelah membungkam.

Advertisements