Monthly Archives: July 2016

Sore gue dan teori Sandi Astina

Standard

Ingatan, sebuah senjata yang dapat menghunus pemiliknya kapan saja. Betapa kejamnya ingatan, muncul kapan dan dimana saja, bahkan saat pemiliknya tak ingin mengingatnya sekalipun. Kenapa manusia nggak bisa mengingat hal hal yang layak untuk diingat saja, kenangan manis misalnya. Kenapa kenangan buruk harus tetap ada dalam ingatan manusia, itu yang menjadi pertanyaan besar, sebuah ketidak adilan menurut gue. Ingatan bisa membuat pemiliknya tak berkutik, stagnan, trauma, bahkan gangguan jiwa. Kenapa hidup bekerja seperti itu, kalau tidak menginjak ya diinjak, kalau tidak menindas ya ditindas, kalau tidak meninggalkan ya ditinggalkan. I’m supposed to trust no one, but however gue butuh orang lain yang bisa mendengar, mendengar gue, gue entah dari kapan masih aja ragu soal pertemanan, adakah orang di dunia ini yang benar benar berteman? Atau malah terpaksa berteman? Akankah berteman kalau nggak ada kepentingan? Akankah berteman bila tidak menyenangkan? Akankah berteman kalau tidak saling menguntungkan. Kesepian memang mengerikan, nggak terkecuali buat gue, tapi menganggap seseorang – teman sedangkan ia ga punya sedikitpun simpati pada gue, itu lebih mengerikan. People come and go, kenapa disaat saat gue lagi butuhnya malah ditinggal, kenapa disaat gue lagi rendah malah diinjak, kalo mau go ya go aja lah but keep off my self, ngga perlu nginjak orang lain. This is madness, ya ini emang gila. Seorang teman gue (lagi lagi temen) nggak, sepupu gue, dia punya teori yang menurut gue itu …. PAS banget. Orang itu ada empat macem. Pertama, dia yang punya faktor X dan diakui, golongan ini biasanya orang yang berkuasa, orang kaya, orang pintar, pokoknya kelas mereka ada di paling atas. Kedua, dia yang punya faktor X yang tidak diakui orang lain, orang gini biasanya dia yang punya kelebihan, tapi dia belum menunjukkan ke orang lain. Ketiga, dia yang ngga punya faktor X tapi diakui orang lain, biasanya orang ini supel, ramah, dan pengertian, jadi banyak orang yang seneng sama dia. Keempat, ini yang paling menyedihkan, nggak punya faktor X dan nggak diakui, duh!.  Orang pertama biasa diiriin sama orang kedua, ketiga dan keempat, dan seterusnya. Yang jadi masalah disini adalah, Dengan licik dan menjijikannya terkadang orang pertama nggak segan menginjak bawahnya supaya posisi dan eksistensinya nggak terkalahkan. Karena tipe orang beda beda, makannya reaksi yang timbul juga beda beda, ada yang semangat buat menggulingkan eksistensi si orang pertama, ada yang merasa puas aja dengan hidupnya, ada juga yang malah ngerasa makin rendah. Nah posisi gue disini, jadi pengen nginjek balik si penginjak itu, atau nggak nyelipin duri di badan gue seenggaknya dia terluka saat nginjek gue, but how, gue nanya sama kalian semua. Ada solusi kasih tau gue ya, for this revenge planning’s successfull. Oke sip! Budayakan tidak lemah dan menyerang balik! Cheer up.

Advertisements