Monthly Archives: August 2018

Reasons (Part 3)

Standard

Hai, jika kalian sudah sampai pada part ini, selamat! Kalian sungguh antusias! teruslah membaca hingga keseluruhan dari kisahku kalian fahami, jangan setengah-setengah karena mungkin pandangan kalian terhadapku akan berubah drastis, yang akhirnya membuat kebiasaan berkomentar jahat kalian semakin menjadi-jadi. Tapi, meskipun seandainya hal tersebut benar terjadi, aku akan berusaha untuk tidak peduli samasekali, toh ini urusanku. Untukmu yang senang membaca tulisan-tulisanku, sekarang kau senang ‘kan? membaca kisahku?

Meskipun hidup tidak sempurna, hidup indah begini adanya. Bukan, itu bukan kata-kataku, itu kutipan dari suatu film yang kutonton beberapa tahun lalu. Sesaat atau mungkin beberapa hari setelah film itu kutonton, segala sesuatunya dapat sedikit membaik karena kata-kata itu. Kata-kata itu sedikit menguatkan, kalian?

 

+3

Cinta selalu bersemi di tempat, waktu, dan situasi yang tidak terduga. Ia laksana mentari di tengah temaram, hijau diantara gersang. Cinta tidak pernah datang tiba-tiba, ia akan mengendap-endap menyusup kedalam urat nadimu, meledakkan jantungmu, lalu meninggalkanmu terbakar habis bersama bayang-bayangnya. Kali ini aku tidak bisa mengelak. Aku yakin bahwa hatiku sudah ada di genggamanmu, menjadi hak milik untuk kau rawat, atau mungkin kau hancurkan.  Sebenarnya hanya satu hal yang ingin aku katakana saat itu, berhenti memikat jika tidak mau mengikat. Begitulah kurang lebih potongan cerita dari salah satu novelis favoritku, fiersa besari dalam novelnya garis waktu, dan karena itu alasan ketigaku muncul, cinta. Bagi sebagian besar manusia, atau mungkin semuanya, cinta itu menguatkan, tapi bagiku, cinta sedikit memiliki peran yang berbeda, ia menguatkan untuk meruntuhkan.

Saat itu aku 19, disaat dirinya; seseorang yang kehadirannya pernah sangat kuagungkan dalam lingkaran jenuhku, datang. Meski sekuat apapun hati ini menolak, tak dapat kuhindari, aku terjerembab dalam jebakan cinta. Pertemuan itu pertemuan yang tak pernah aku rencanakan, bagaimana rasa itu tumbuh bukan juga merupakan hal yang kurencanakan, sama sekali tidak, seperti penggalan cerita diatas, dia mengendap-endap kedalam nadiku, kemudian meledakkan jantungku.

Selama aku mengenalnya, selama itu juga aku dan dirinya menjalani suatu hubungan yang aneh karena kata-kata cinta tak pernah sedikitpun terucap, bagiku saat itu, untuk apa kata-kata cinta ada jika perbuatan bisa lebih jelas menunjukannya, hingga pada suatu saat akhirnya aku mengutarakan kalimat itu, jujur aku malas mengingat kata-kata menjijikan yang waktu itu terungkap, yang pasti kalian lebih tau, ya ‘kan? Setelah kalimat itu tersampaikan, tak ada kata-kata maupun reaksi yang kudapatkan darinya, entah mungkin ia lelah berkata-kata, atau mendadak amnesia, hanya dia, tuhan dan setan yang tau, dan pada akhirnya, momen itupun terlewatkan.

Hari-hari pasca pengutaraan itu berjalan seperti biasa, aku bernafas, dia juga bernafas, kurang lebih seperti itu. Ada satu hal yang menggelitik untuk kusampaikan yaitu, meski tak ada jawaban, perlakuannya padaku tetap begitu manis, seolah ‘apa’ yang ada diantara kita masih ‘ada’, sehingga aku berasumsi bahwa diamnya seorang wanita adalah jawaban iya, tapi kenyataan berkata lain. Setelah perlakuan manis yang tetap ia lakukan pasca pengutaraan perasaanku, ia memutuskan untuk menambatkan perahu di dermaga lain saat dermagaku telah kupersiapkan hanya untuknya. Mengapa tak kau ubah saja haluanmu dari dulu? Untukmu, selamat! Kamu masuk alasan ketigaku mengapa aku membenci hidupku, tapi kamu hanya bagian kecil dari itu, berbanggalah! Ada yang lebih mengejutkan dari pengubahan haluanmu, adalah bahwa dermaga tempatmu singgah, memang ternyata seringkali disinggah-tinggalkan oleh perahu-perahu lain, ups. Aku tidak mengada-ada, dermaga sahabatku yang telah dia persiapkan untuk sebuah perahu menambatpun ‘tidak jadi’ untuk ditambatkan, lagi-lagi karena dermaga itu. Bagi sebagian perahu, dermaga itu terlalu indah sehingga dermaga lainpun rela ditinggalkan, begitulah. Sejak saat itu, kuputuskan dermagaku tutup sampai waktu yang tak kutentukan.

Bagaimana dengan dongengnya? Apa kalian masih suka? Jujur aku mulai lelah menyampaikan cerita ini secara halus, biar setelahnya kugambarkan secara lebih gamblang. Alasan yang menguatkanku untuk membenci segala kejadian buruk yang terjadi saat itu adalah kisah teman dekatku, satu lagi teman dekatku mengalami kejadian serupa. Ia ditinggalkan oleh kekasihnya dengan alasan sang kekasih ingin menempuh jalan yang syar’i, dan setelah beberapa bulan, temanku mendapati kekasihnya telah memiliki pengganti dirinya, bagiku, membawa alasan agama untuk minta berpisah adalah pengalihan isu yang brengsek, aku iba pada temanku dan sekaligus frustasi. Akhirnya lagi-lagi hal tidak menyenangkan terjadi, menyaksikan 3 kejadian serupa yang kusaksikan langsung; aku, sahabatku, dan teman dekatku, semua hal itu melahirkan suatu statement mengerikan yang menggugus dalam benakku, “Girls are evil, and I hate girls”, Im sorry to say that, benci disini dalam hal percintaan itu,  nggak lebih. Banyak juga dari kalian yang baik kok, jadi tenang aja dan tak perlu merasa marah atau kecewa, toh kita tak pernah bercinta, ya ‘kan?

Salah satu ungkapan Bahasa Inggris yang kudapatkan saat sekolah menegah dulu adalah “Let gone be by gone”, yang lalu biarlah berlalu. Setelah kejadian itu, kuputuskan untuk melanjutkan hidup dengan statement mengerikan yang telah terpatri, bahwa aku takkan bisa menerima cinta yang datang bagaimanapun bentuknya, ingat dengan tulisanku tentang kutukanku yang tidak dapat merasakan cinta? Sekarang kalian tau asal mulanya. Waktupun tetap berjalan tak peduli, saat itu keadaan tak lagi sama, selain ketiga plusku, ditambah satu plus lagi yang sukses membuatku bertanya-tanya; apakah hidup ini adil? Mengapa langit selalu tega mengambil kebahagiaan orang-orang yang berbuat baik? Lalu apa salahnya menjadi buruk? FYI, ayahku masih sakit, perselisihan masih ada, akademik masih berantakan, ditambah satu plus lagi.

Sejenak mengingat kembali plus keduaku, saat perasaan ditinggalkan itu muncul, saat itu juga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan. Meninggalkan kehidupanku yang lama, kehidupan baikku yang lama. Yang kumaksud dengan hidup baikku disini misalnya, rajin melakukan ibadah, rajin berdoa, ramah kepada orang-orang disekitarku, optimis menghadapi kehidupan, dan hal-hal semacam itu. Itu hidup baik versiku, kalau menurutmu itu tidak ada baiknya samasekali, itu beda urusan.

Menginjak usiaku yang ke 20, aku ‘terlahir’ sebagai individu yang baru, yang masabodoh, yang tak lagi menggantungkan kehidupan kepada siapapun, tak terkecuali, siapapun, yang berhenti untuk berharap, kepada-Nya sekalipun, Dia pun tidak peduli ‘kan? Seiring berjalannya waktu, semenjak meninggalnya aku, aku melihat kehidupan lebih dengan kepala mendongak, menantang sombong. Aku tak tau entah apalagi yang akan takdir lakukan demi kesenangan dirinya sendiri, kuputuskan aku siap menghadapinya, meskipun hatiku mengatakan sebaliknya. And voila! it worked, but only for a while, saat itu prestasiku tidak memperburuk track recordku 4 semester sebelumnya, teman-temanku bertambah, hampir sebagian besar aspek kehidupanku membaik, kurasa, aku menyebutnya renaissance. Meskipun semuanya seakan membaik , tetap ada beberapa hal yang harus kurelakan untuk ‘hilang’, seperti teman-teman ‘baik’ ku, dan ketenangan batin itu, they’ve just gone, segalanya terasa hampa dan kosong.

-3

Disetiap kisah, ada klimaks dan antiklimaksnya, begitu juga cerita ini. Ya, kalian pasti sudah menangkap maksud dari plus dan minus dari dua part sebelumnya. Jika plus adalah klimaksnya, maka minus adalah antiklimaksnya. Mungkin saja antiklimaks yang ada hanya sampai part 3 ini, selanjutnya belum tahu, karena aku belum menemukan alasan lain bagiku untuk tetap hidup, baru t-i-g-a alasan.

Alasan ketigaku untuk tetap hidup adalah kalian, teman-temanku. Meski aku tak memiliki banyak teman, aku akan selalu berusaha menjaga setiap teman yang kupunya, kecuali jika temanku sendiri yang berusaha merusak pertemanan kami, sekalipun dengan cara yang tidak ia sadari, misalnya perahu dan dermaga itu. Jika aku tak pernah mengatakan ini pada kalian, mungkin sekarang waktunya: teman-teman, aku sayang kalian dan tak mau kehilangan kalian. Teman-teman, panggil aku jika kalian butuh, dan kumohon kalian untuk tetap ada, kuatkan aku, buat alasan terakhirku ini lebih kuat dari 7 plusku. Pada akhirnya, antiklimaks yang ada cukup sampai pada part ini. Untuk saat ini, bertahan masih kujadikan opsi terbaik, esok? Siapa yang tau.

Advertisements

Reasons (Part 2)

Standard

Dari berbagai kisah hidup manusia yang kuamati dan kuketahui, dapat kuambil kesimpulan bahwa kebanyakan orang yang berhasil, orang yang kaya, menyukai kisah hidupnya, dan dengan begitu semangat menyebarkan kisahnya dengan tag line ‘kisah inspiratif’. Sedangkan sebagian dari orang yang menerima dinginnya perlakuan kenyataan, tidak menyukai kisahnya, meskipun tetap ada secuil kisah indah yang masih bisa disukai, namun terlalu banyak kisah kopinya. Ketika si kaya berperang memenangkan suatu kongsi bisnis, yang lain hanya bisa berperang melawan dirinya sendiri. Disaat sang suksesor bersikeras merumuskan hal hal yang akan dilakukannya besok, bulan depan, tahun depan, dan tahun tahun yang akan datang, sebagian yang lain hanya bisa bersikeras mengendalikan segala macam pikiran aneh yang ada di benaknya, ya begitulah kehidupan ini bekerja, tapi yang kurasa, roda itu tidak benar benar berputar bagiku, ia hanya stagnan bercanda.

+2

Sudah tahu kan kenapa kunamai part-part selanjutnya dengan (+) dan (-)? Tahukah? perjalanan mengenang masa lalu ini sebenarnya tidak terlalu menyenangkan, Karena harus kembali membuka perban yang tertutup rapat, bukan bekas luka, karena masih diperban, sembuh saja belum, tapi bagaimana lagi, kalian suka dengan dongeng sebelum tidur seperti ini ‘kan?

Seperti kataku di plus satu, aku tak menyukai perselisihan ataupun perpecahan, aku bahkan benci. Pada part ini, plus keduaku erat kaitannya dengan plus pertamaku, perpecahan, hanya saja terdapat amplifikasi disuatu bagiannya, menyebabkan butterfly effect yang terjadi semakin menjadi jadi. Kala itu aku 19, disaat kopi kopi kehidupan itu datang tanpa ampun, ya walaupun secara langsung  mulut dan lidahku tidak mengucapkannya, tapi hati ini iya, pasti, ia menjerit.

Tahun 2015, sebenarnya sejak 2014, orang terdekat di lingkaran jenuhku mengalami kejadian tidak menyenangkan, ya bagiku tidak menyenangkan, kalau bagimu terkapar hampir selama dua tahun itu menyenangkan, itu beda urusan, pokoknya buat kami ini tidak menyenangkan sama sekali, dan inilah amplitudonya.

Air keruh, mungkin dapat dijernihkan, hati keruh, mungkin dapat dibersihkan, keadaan keruh, mungkin dapat diperbaiki, namun entah penyelesaian itu tidak ada saat itu, keruh ya keruh saja.

Aku rasa tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak menyayangi orang tuanya, begitu juga aku, sekali lagi, kalua kamu tidak sayang orang tuamu, itu beda urusan. Ketika itu ayahku yang sedang terbaring lemah hampir dua tahun karena operasi penyakit yang telah lama diidapnya, masih saja mendapatkan serangan sana sini, aku sebagai anak, kalian tau apa yang kurasakan? Kalau nggak tau, itu beda urusan, pokoknya yang ada dicerita ini semuanya urusanku, kalau beda dengan urusanmu ya maap L. Kukira dengan sakitnya ayahku, segala perselisihan dapat mereda, setidaknya untuk sementara, ternyata tidak, entah apa yang orang-orang dewasa ini fikirkan, tidak cukupkah bagi mereka melihat orang yang diserang tergolek lemah, bahkan berkata-kata saja tidak bisa, sungguh aku tidak tau apa isi pikiran mereka.

Oh iya, sejauh ini aku belum mendeskripsikan siapa aku. Aku adalah seonggok daging bernyawa yang secara kebetulan Tuhan ciptakan menjadi suatu organisme. Hanya satu hal dari diriku yang kusukai saat itu adalah bahwa aku diterima sebagai mahasiswa baru jurusan teknik sipil, sesuai dengan jurusan yang kumau, tanpa tau monster apa yang menanti didalamnya, yang kutau pokoknya teknik itu keren, keren sih, pengorbanannya juga ga kalah keren, yang dipelajari juga ga kalah keren, pokoknya keren, karena saking kerennya, di semester awal, mereka satu paket keren keren itu berhasil menjatuhkanku, ya benar, nilaiku jeblok, permulaan yang tidak terlalu baik, I guess. Disaat itu aku mulai dibanding-bandingkan oleh orang-orang dalam lingkaranku dengan anak-anak luar teknik yang notabenenya selalu berprestasi sempurna. Bagaimana rasanya dibanding-bandingkan? Jika kamu suka dibanding-bandingkan, itu beda urusan.

Di tahun itu, yang kupikirkan hanya bagaimana aku mengatasi atau menghindari ketiga hal yang terus memenuhi pikiranku : perselisihan yang tak kunjung usai, kondisi ayahku, dan kondisi akademisku, seakan tiga hal itu menekanku dari tiga arah secara bersamaan bagaikan uji triaksial, benda uji itu bengkok, terdistorsi, bahkan patah, dan ini bagai aku yang menjadi benda ujinya, see?

Disaat itu, penasehat-penasehat bodong mulai bermunculan, penasehat yang berbicara tanpa tau apa yang harus dibicarakan dengan orang dihadapannya, menghakimi tanpa mau mengerti, berbicara tanpa mau mendengar. Mereka bilang aku kurang dekat dengan Tuhan, padahal disetiap rintihan doa yang ada aku selalu mempertanyakan kehidupanku pada-Nya, yang ternyata tak kunjung Ia jawab, membuatku merasa ditinggalkan, bahkan oleh yang telah berjanji akan selalu ada di hati sekalipun, aku merasa seluruh semesta berhenti untuk peduli, selanjutnya mereka berjalan saja seperti sediakala, ada dan tiadanya aku bagi mereka sama saja. Menyesal atas perasaan ditinggalkan, akhirnya kuputuskan untuk ‘meninggalkan’.

-2

Sepertinya aku akan menyukai bagian ini, karena pada bagian ini terdapat alasan kedua yang cukup menguatkan akan eksistensiku di semesta.

Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang disuka maupun tidak disuka, tidak terkecuali aku. Sebersar besarnya kebencianku pada kehidupan, terdapat beberapa saat bagian darinya dimana aku ingin waktu terhenti dan berlama lama ada didalam momen itu, ia adalah senja. Aku suka senja, walau senja mengantarkan terang kepada gelap, walaupun perlahan langit biru terpayungi mega lembayung, aku selalu dapat menikmati saat saat itu. Senjaku begitu indah, banyak kenangan indah yang selalu dapat kita kenang bersama, hanya aku dan senja, lewat angin sore, biarkan kita bercengkrama, mungkin ia satu satunya bagian dari semesta yang keberadaannya kuingini dan keberadaanku diinginkannya, seolah olah kita teroneksi dan tak terpisahkan, aku dan senja adalah kesatuan, kami saling menguatkan.

Bagiku kehidupan akan tetap indah jika senjaku selalu ada, dan untuk satu hal, aku sangat berterimakasih kepada Tuhan atas izin-Nya bagiku untuk terus dapat menatap wajah senja, walau dilain kesempatan aku banyak ingkarnya. Tak perlu kuuraikan lebih mengenai senjaku, karena kalianpun tau seberapa berarti senja bagiku, namanya saja pengembara senja, masa tidak suka senja, setuju?

Reasons (Part 1)

Standard

images

Hai, siapapun, yang membaca ini, aku ingin memberi tau bahwa, terkadang yang orang butuhkan saat dia pikir tidak ada lagi tempat baginya untuk pergi, tidak ada seorangpun untuk dia datangi, hanyalah telinga, percayalah, tidak kurang tidak lebih, dengarkan saja apa yang ingin ia katakan dan utarakan, dan jangan lakukan kebiasaanmu untuk kali ini : memberikan komentar jahat, just don’t do it, because it just makes everything worse.

Meskipun jika nanti aku tidak lagi disini, percayalah aku tetap ada, hidup dalam cyber digital yang entah sampai kapan akan tetap ada, hanya saja mungkin takkan ada lagi kisah-kisah selanjutnya bagi kalian yang senang dengan dongeng sebelum tidur semacam yang biasa kutulis belakangan ini.

Ini bukan catatan bagaimana aku meneyerah pada hidupku dan bagaimana aku mengakhirinya, sama sekali bukan, karena itu terdengar mengerikan, sebut saja ini : Perjalanan mengenang masa lalu.

Bagi sebagian orang, masalalu dapat dijadikan batu pijakan untuk melompat lebih tinggi di kemudian hari, tapi bagiku, masa lalu menempati salah satu dari ruang ruang yang ada di alam bawah sadarku, ia mengganggu. Karena itu, terkadang aku membenci masa lalu itu dan selalu bertanya, kenapa segala hal buruk itu harus terjadi, namun tak selamanya buruk, hal hal yang indah dan layak untuk dikenang juga banyak kok, misalnya waktu yang aku lalui sama kamu kamu, sama kalian, iya kalian yang mungkin lagi baca tulisan ini.

+1

6b3acde154581f7193c41b074fa20c6dKalian pernah baca tulisanku tentang suatu lingkaran jenuh? heart pieces? Untuk kali ini, bukan kepingan hati itu yang terjebak dalam suatu lingkaran jenuh, tapi aku, kamu, dia, mereka. Semua orang yang ada di kehidupanku terjebak dalam suatu lingkaran jenuh, yang jika terlihat, benang benang tautan antara satu orang dengan orang yang lain amatlah awut awutan, semuanya saling berinteraksi, saling berhubungan, dan saling mempengaruhi. Setiap dari orang itu mungkin tidak tau, bagaimana dan kapan, apa yang dilakukannya akan berdampak pada orang lain, you will never know how what you did will affect someone else, trust me.

Kenapa aku namai bagian ini dengan +1? Kusebut +1 karena pada bagian ini, kalian akan mendapati 1 alasan kenapa aku membenci hidupku dan ingin istirahat darinya.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, setiap orang dari lingkaran jenuh itu mungkin tidak tau, bagaimana dan kapan apa yang dilakukannya akan berdampak kepada orang lain dalam lingkaran itu, dan disini alasan pertamaku.

Tidak ada manusia yang tidak ingin dihargai, begitupula mereka yang ada dalam lingkaran jenuhku. Sekecil apapun, perlakuan tidak menyenangkan tidak ada yang mau menolerirnya begitu saja. Dan bisa kubilang, alasan pertamaku terjadi sebelum aku punya cukup akal untuk memahami segala yang ada, kala itu aku masih 4, tahun 2000. Perilaku tidak menyenangkan yang salah seorang dari lingkaran jenuhku lakukan, menimbulkan butterfly effect dikemudian hari, tidak langsung meledak saat itu juga, tapi merembet pada hal-hal yang lain. Seseorang dalam lingkaran jenuhku, melakukan perlakuan tidak menyenangkan kepada seseorang, atau orang orang yang lain, menimbulkan perpecahan, aku yang masih 4 mana tau apa itu perselisihan, yang kutahu hanya dot berisi susu coklat yang selalu kuminta pada ibuku saat dia pulang dari tempat kerja. Aku benci untuk mengatakan ini, tapi ya, kurasa engkaulah yang menyebabkan alasan pertamaku muncul, aku tidak suka perselisihan dan perpecahan.

-1

Order and chaos, dua sisi berlainan yang tidak akan pernah dapat saling meniadakan, yang satu merupakan bagian dari yang lain, dan saat yang satu musnah, tidak lama akan terlahir kembali dalam bentuk yang baru. Order and chaos selalu terjadi pada segala aspek kehidupan manusia, begitu juga aku. Ada persaan tidak nyaman disaat aku harus menyayangi dan menyalahkan seseorang dalam waktu yang bersamaan, tapi itulah realitanya.

Kenapa aku namai bagian ini dengan -1? Kunamai demikian karena pada bagian ini, kepalaku, perasaanku, sejenak melunak pada kehidupan. Pada bagian ini, aku condong ke arah penerimaan dan penghargaan atas hidup yang telah Ia berikan, sehingga disini, kalian akan mendapatiku ingin tetap tinggal, karena selain membenci hidup ini, aku mempunyai alasan untuk tetap menjalaninya, setuju?

Alasan itu bermula di tahun yang bahkan aku sendiri pun tidak tau aku ada dimana saat itu, waktu itu aku -2, tahun 1994. Alasanku untuk tetap bertahan bermula disaat dua orang dalam lingkaranku bertemu, memutuskan untuk menciptakan suatu dunia baru yang dijalani bersama, sekata dan seiya, mereka adalah orang tuaku. Alasan aku disini, berjuang, menikmati hidup yang sebenarnya tidak begitu nikmat, biasa saja, adalah mereka. Alasan kenapa aku harus tetap tinggal dan berjuang adalah mereka.

Ah! Order and chaos memang selalu mampu memporakporandakan fikiran, disaat aku mati-matian (atau mungkin hidup-hidupan) bertahan, mereka menguatkan, namun tanpa disadari menumbangkan secara perlahan dengan cara tak langsung, butterfly effect. Namun yang aneh adalah, selain mereka yang ‘memaksaku’ bertahan, ada secuil dari perasaan ini yang tidak ingin menyakiti dan mengecewakan, entah sebagai bentuk terimakasih, atau rasa sayang, bahkan cinta? Entahlah, kaupun tau semua rasaku telah mati dan tertinggal didasar jurang gelap itu, ya kan? Tapi, bagaimanapun, di bagian ini, aku ingin berterimakasih atas segala yang telah mereka lakukan untukku, karena mereka, aku ingin tetap hidup.