Reasons (Part 2)

Standard

Dari berbagai kisah hidup manusia yang kuamati dan kuketahui, dapat kuambil kesimpulan bahwa kebanyakan orang yang berhasil, orang yang kaya, menyukai kisah hidupnya, dan dengan begitu semangat menyebarkan kisahnya dengan tag line ‘kisah inspiratif’. Sedangkan sebagian dari orang yang menerima dinginnya perlakuan kenyataan, tidak menyukai kisahnya, meskipun tetap ada secuil kisah indah yang masih bisa disukai, namun terlalu banyak kisah kopinya. Ketika si kaya berperang memenangkan suatu kongsi bisnis, yang lain hanya bisa berperang melawan dirinya sendiri. Disaat sang suksesor bersikeras merumuskan hal hal yang akan dilakukannya besok, bulan depan, tahun depan, dan tahun tahun yang akan datang, sebagian yang lain hanya bisa bersikeras mengendalikan segala macam pikiran aneh yang ada di benaknya, ya begitulah kehidupan ini bekerja, tapi yang kurasa, roda itu tidak benar benar berputar bagiku, ia hanya stagnan bercanda.

+2

Sudah tahu kan kenapa kunamai part-part selanjutnya dengan (+) dan (-)? Tahukah? perjalanan mengenang masa lalu ini sebenarnya tidak terlalu menyenangkan, Karena harus kembali membuka perban yang tertutup rapat, bukan bekas luka, karena masih diperban, sembuh saja belum, tapi bagaimana lagi, kalian suka dengan dongeng sebelum tidur seperti ini ‘kan?

Seperti kataku di plus satu, aku tak menyukai perselisihan ataupun perpecahan, aku bahkan benci. Pada part ini, plus keduaku erat kaitannya dengan plus pertamaku, perpecahan, hanya saja terdapat amplifikasi disuatu bagiannya, menyebabkan butterfly effect yang terjadi semakin menjadi jadi. Kala itu aku 19, disaat kopi kopi kehidupan itu datang tanpa ampun, ya walaupun secara langsung  mulut dan lidahku tidak mengucapkannya, tapi hati ini iya, pasti, ia menjerit.

Tahun 2015, sebenarnya sejak 2014, orang terdekat di lingkaran jenuhku mengalami kejadian tidak menyenangkan, ya bagiku tidak menyenangkan, kalau bagimu terkapar hampir selama dua tahun itu menyenangkan, itu beda urusan, pokoknya buat kami ini tidak menyenangkan sama sekali, dan inilah amplitudonya.

Air keruh, mungkin dapat dijernihkan, hati keruh, mungkin dapat dibersihkan, keadaan keruh, mungkin dapat diperbaiki, namun entah penyelesaian itu tidak ada saat itu, keruh ya keruh saja.

Aku rasa tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak menyayangi orang tuanya, begitu juga aku, sekali lagi, kalua kamu tidak sayang orang tuamu, itu beda urusan. Ketika itu ayahku yang sedang terbaring lemah hampir dua tahun karena operasi penyakit yang telah lama diidapnya, masih saja mendapatkan serangan sana sini, aku sebagai anak, kalian tau apa yang kurasakan? Kalau nggak tau, itu beda urusan, pokoknya yang ada dicerita ini semuanya urusanku, kalau beda dengan urusanmu ya maap L. Kukira dengan sakitnya ayahku, segala perselisihan dapat mereda, setidaknya untuk sementara, ternyata tidak, entah apa yang orang-orang dewasa ini fikirkan, tidak cukupkah bagi mereka melihat orang yang diserang tergolek lemah, bahkan berkata-kata saja tidak bisa, sungguh aku tidak tau apa isi pikiran mereka.

Oh iya, sejauh ini aku belum mendeskripsikan siapa aku. Aku adalah seonggok daging bernyawa yang secara kebetulan Tuhan ciptakan menjadi suatu organisme. Hanya satu hal dari diriku yang kusukai saat itu adalah bahwa aku diterima sebagai mahasiswa baru jurusan teknik sipil, sesuai dengan jurusan yang kumau, tanpa tau monster apa yang menanti didalamnya, yang kutau pokoknya teknik itu keren, keren sih, pengorbanannya juga ga kalah keren, yang dipelajari juga ga kalah keren, pokoknya keren, karena saking kerennya, di semester awal, mereka satu paket keren keren itu berhasil menjatuhkanku, ya benar, nilaiku jeblok, permulaan yang tidak terlalu baik, I guess. Disaat itu aku mulai dibanding-bandingkan oleh orang-orang dalam lingkaranku dengan anak-anak luar teknik yang notabenenya selalu berprestasi sempurna. Bagaimana rasanya dibanding-bandingkan? Jika kamu suka dibanding-bandingkan, itu beda urusan.

Di tahun itu, yang kupikirkan hanya bagaimana aku mengatasi atau menghindari ketiga hal yang terus memenuhi pikiranku : perselisihan yang tak kunjung usai, kondisi ayahku, dan kondisi akademisku, seakan tiga hal itu menekanku dari tiga arah secara bersamaan bagaikan uji triaksial, benda uji itu bengkok, terdistorsi, bahkan patah, dan ini bagai aku yang menjadi benda ujinya, see?

Disaat itu, penasehat-penasehat bodong mulai bermunculan, penasehat yang berbicara tanpa tau apa yang harus dibicarakan dengan orang dihadapannya, menghakimi tanpa mau mengerti, berbicara tanpa mau mendengar. Mereka bilang aku kurang dekat dengan Tuhan, padahal disetiap rintihan doa yang ada aku selalu mempertanyakan kehidupanku pada-Nya, yang ternyata tak kunjung Ia jawab, membuatku merasa ditinggalkan, bahkan oleh yang telah berjanji akan selalu ada di hati sekalipun, aku merasa seluruh semesta berhenti untuk peduli, selanjutnya mereka berjalan saja seperti sediakala, ada dan tiadanya aku bagi mereka sama saja. Menyesal atas perasaan ditinggalkan, akhirnya kuputuskan untuk ‘meninggalkan’.

-2

Sepertinya aku akan menyukai bagian ini, karena pada bagian ini terdapat alasan kedua yang cukup menguatkan akan eksistensiku di semesta.

Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang disuka maupun tidak disuka, tidak terkecuali aku. Sebersar besarnya kebencianku pada kehidupan, terdapat beberapa saat bagian darinya dimana aku ingin waktu terhenti dan berlama lama ada didalam momen itu, ia adalah senja. Aku suka senja, walau senja mengantarkan terang kepada gelap, walaupun perlahan langit biru terpayungi mega lembayung, aku selalu dapat menikmati saat saat itu. Senjaku begitu indah, banyak kenangan indah yang selalu dapat kita kenang bersama, hanya aku dan senja, lewat angin sore, biarkan kita bercengkrama, mungkin ia satu satunya bagian dari semesta yang keberadaannya kuingini dan keberadaanku diinginkannya, seolah olah kita teroneksi dan tak terpisahkan, aku dan senja adalah kesatuan, kami saling menguatkan.

Bagiku kehidupan akan tetap indah jika senjaku selalu ada, dan untuk satu hal, aku sangat berterimakasih kepada Tuhan atas izin-Nya bagiku untuk terus dapat menatap wajah senja, walau dilain kesempatan aku banyak ingkarnya. Tak perlu kuuraikan lebih mengenai senjaku, karena kalianpun tau seberapa berarti senja bagiku, namanya saja pengembara senja, masa tidak suka senja, setuju?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s