Aku dan Sebuah Cerita Cinta di Suatu Senja

Kepadamu, yang dekat namun terasa jauh saat senja sore itu, yang hanya dapat kupandangi tanpa pernah dapat kugapai, di tempat itu, kala itu, yang mungkin hanya aku, butiran pasir, deburan ombak yang menerpa karang, serta angin sore yang tau, semua cerita ini dimulai.

 

AKU CAKRA

“Stay a while,

I’m gazing the way you move, from far

Never look back since then

I won’t have to wander the woods again”

Sepeda motor yang kukemudikan perlahan semakin cepat, memulai perjalanan menuju suatu tempat yang akan kami jadikan destinasi perkumpulan saat itu. Lagu demi lagu, berputar seiring dengan putaran roda motor yang terus melaju. Aku Cakra, seorang mahasiswa semester tua yang sampai saat ini masih selalu dikejar berbagai macam deadline, yang masih berjuang menghilangkan status mahasiswa abadinya. Siang ini aku dan beberapa kawanku pergi ke suatu pantai untuk berkemah, yang susah sekali rasanya mendapatkan momen berharga seperti ini dikarenakan kesibukan masing-masing. Selama perjalanan, musik yang terlantun dari ipod kesayanganku membawa diriku ke alam damainya, dan pada suatu ketika, musik yang terputar saat itu terjadi bersamaan dengan pandanganku yang tertuju pada seseorang : kamu, yang hanya dapat kupandangi punggungnya dari kejauhan, tanpa pernah dapat kugapai dan kumiliki, yang hanya dapat kulihat sekilas sorot matanya tanpa pernah dapat kuselami, hanya kamu.

AKU DEWI

“If only I could find my way to the ocean

I’m already there with you

If somewhere down the line

We will never get to meet

I’ll always wait for you after the rain”

Perjalanan kami terhenti, matahari yang begitu terik siang itu membuat kami kepayahan. Setengguk minuman dingin akan terasa cukup untuk mengembalikan energy, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di alf*mart, membeli minuman sambil menunggu teman kami yang tertinggal dibelakang. Aku turun dari motor, mataku menyapu setiap motor teman-teman yang berheti, dan aku tak menemukan sosok itu, kurasa dialah yang tertinggal. Aku Dewi, seorang film maniak yang terobsesi dengan suatu film yang diangkat dari novel dee : Perahu Kertas. Sebagai agen neptunus yang baik, saat ini pun aku sudah menyiapkan perahu kertasku untuk melapor kepada neptunus, laporan atas aku yang saat ini sedang merasa bahwa menemukan jalan ke laut bebas untuk melepas segala perasaan itu jauh lebih mudah daripada menemukan jalan ke ruang lingkup kehidupannya, dia yang tertinggal dibelakang, yang mungkin saat ini sedang asyik dengan dunianya. Andaikan aku dapat menemukan jalan itu, sudah pasti saat ini aku ada ‘disana’ bersamamu. Aku tau saat ini aku tak dapat melakukan apa apa, karena seberapapun dalamnya mataku menatap mata itu, lingkaran pupil itu akan tetap sama, tak ada rasa. Aku tersadar dari lamunanku, antrian kasir sudah habis tak terasa, celakanya aku lupa membawa uang, untung ada temanku, “Dio, aku pinjam uangmu dulu ya, hehehe”.

AKU DIO

“In a far land across

You’re standing at the sea

Then the wind blows the scent

And that little star will there to guide me”

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat dimana semua elemen yang ada di alam berkumpul untuk berpisah dan pulang, serta mengucakpan selamat malam satu sama lain. Saat itu, kaki kaki kecil berjejer di pasir pantai itu, duduk memandangi salah satu keagungan Sang pencipta alam. Matahari terbenam itu terasa hangat dan menenangkan, dari kejauhan mataku tertuju pada siluet seseorang ditepi pantai yang diterpa sinar mentari senja, gelap, hanya rambutnya saja yang terbang tertiup angin, aku mengenalnya, karena hanya kami berdelapan yang ada dipantai saat itu. Aku tahu selama ini pemilik sosok itu begitu baik, membuatku merasa beruntung dan bersalah sekaligus, beruntung karena ternyata ada seseorang yang memperlakukanku begitu istimewa, dan bersalah karena segala keresahan dan kebimbangan yang ada. Saat ini, aku tak bias memikirkan apapun tentang apa jadinya aku dan dia nanti, yang kubisa hanya menengguk perlahan segelas kopi ini, dan berharap bintang yang mulai menampakkan dirinya menunjukkanku jalan menuju kepadamu, atau tidak menuju kepadamu. Saat tegukan ketiga, seseorang dari dalam tenda keluar dan merangkul pundakku lembut, “mataharinya bagus ya sayang”, pacarku.

AKU, SEMILIR ANGIN DI SORE HARI

“Ketika angin bicara

tunjukkan arah titik bertemu

maukah kau simpan waktu

lupakan dunia temui aku di sana”

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, ini waktunya untuk berkumpul dan berpisah, akan tetapi ada sesuatu yang menahanku untuk pulang sore itu. Hai kamu, yang duduk terdiam menengguk secangkir kopi sambil memandangi dia di seberang sana, jika kamu mau, aku dapat menyampaikan pesanmu padanya, bicaralah dan berhenti membuat raut wajah resah dan bersalah itu, jika kamu tak sanggup untuk bertemu dan berkata, biar aku yang tunjukkan arahnya, maukah kau simpan waktu? Sejenak lupakan masalahmu dan temui aku disana? Baiklah, aku akan menghampirinya.

Hai kamu yang berdiri termenung memandanginya dari kejauhan, meski wajahmu menjadi siluet, aku masih dapat melihatmu, tatapan itu, sama seperti yang kutemukan dua hari lalu saat pasangan itu kemari dan mengikrar janji, tatapan cinta dan penuh kasih sayang, tak inginkah kau aku untuk menyampaikan sayang itu sekali lagi? Akhirnya aku kembali.

Akhirnya aku menyerah, biarlah insan-insan itu membungkam bisu dalam tatapan serta segala yang mendera fikirnya, mungkin suatu saat, setiap dari mereka akan menemukan jawabannya. Oh! Hai senja! Kau masih disini?

AKU SENJA

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, aku biasa pulang lebih larut dari yang lain, hingga pertemuanku dengan angin sore terjadi. Aku hanya bisa tersenyum, sedikit kasihan, namun lucu, jujur aku tak dapat berkata, jika saja kau rasa, aku telah berusaha memelukmu, memeluk kalian dan memberikan segala kehangatan yang kupunya untuk menenangkan kalian, hanya saja, perasaan kalian yang terlalu larut, sehingga aku seakan terabaikan, tapi percayalah, AKU ADA.

AKU TAMA

Ipod tua ini masih berfungsi dengan sangat baik, rasanya kurang sempurna jika tidak kuputar lagu favoritku untuk mengisi backsound senja ini. Aku ada, lagu favoritku, karena aku yakin bahwa aku selalu ada.

“Melukiskanmu saat senja

Memanggil namamu ke ujung dunia

Tiada yang lebih pilu

Tiada yang menjawabku selain hatiku

Dan ombak berderu

 

Di pantai ini kau slalu sendiri

Tak ada jejakku di sisimu

Namun saat ku tiba

Suaraku memanggilmu akulah lautan

Ke mana kau s’lalu pulang

 

Jingga di bahuku

Malam di depanku

Dan bulan siaga sinari langkahku

Ku terus berjalan

Ku terus melangkah

Kuingin kutahu engkau ada

 

Memandangimu saat senja

Berjalan di batas dua dunia

Tiada yang lebih indah

Tiada yang lebih rindu

Selain hatiku

Andai engkau tahu

 

Di pantai itu kau tampak sendiri

Tak ada jejakku di sisimu

Namun saat kau rasa

Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan

Memeluk pantaimu erat

 

Jingga di bahumu

Malam di depanmu

Dan bulan siaga sinari langkahmu

Teruslah berjalan

Teruslah melangkah

Ku tahu kau tahu aku ada”

Dan akhirnya dipenghujung lagu, baterai ipodku drop bersamaan dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat, menutup segala cerita cinta di senja sore ini, senja dengan segala rasa yang mewarnainya, dan segala yang terfikirkan saat melewatinya.

 

Advertisements

Heart Pieces

Kata hati : (n). ungkapan yang tak dapat disatukan dalam satu cerita utuh, hanya potongan-potongan yang terjebak dalam suatu lingkaran jenuh.

Semua potongan hati itu, dimulai dari sini :

LOST STARS

As the time’s passing by, people around us changed, you, I, and many other people change, according to the moments they’ve passed those bygone time. And the most terrifying part is finding yourself lost, lost in such thing that nobody else could never find you and bring you back to the right path, but yourself is the only one who can do it. Am I, Are we all lost stars?

HILANG

Setiap orang yang pernah kutemui, tak ada satupun dari mereka yang tidak berubah. Seiring berlalunya waktu, orang orang berubah, keadaan berubah tidak seperti sedia kala. Bagian paling mengerikan buatku saat ini yaitu menyadari kehilanganku dalam suatu kekacauan, kekacauan yang mungkin kubuat sendiri, yang tiada seorangpun yang dapat menemukanku didalamnya lantas membawaku kembali ke jalan yang benar, yang hanya dirikulah yang bias menemukan dan keluar dari keadaan itu.

PERUBAHAN

Aku tahu, entah teman, sahabat, pacar, mantan pacar, atau siapalah itu, mereka perlahan berubah, setiap dari mereka berubah sesuai dengan apa yang telah mereka lalui dan alami selama kurun waktu tertentu, ada yang semakin kuat, semakin teguh, bahkan ada juga yang semakin lemah dan frustasi, satu hal yang kutemukan yaitu kehidupan telah menyebabkan aku, kau, mereka, berubah seperti itu, namun demikian, tetap ada bagian dari diri mereka yang lama, yang masih tersisa dan dapat kutemukan, walaupun tidak seperti sedia kala, seperti ukiran senyum tersirat di wajah yang penuh kehangatan, yang bermuara di pelupuk mata itu. Oh no, mataku tiba tiba berkaca-kaca.

RINDU

Hai kawan, sahabat, lama tidak bertemu, apakah kamu merasakan rindu yang sama? Rindu mengarungi masa-masa indah itu, rindu melalui gang-gang sempit itu, rindu melangkahkan kaki berlari diatas rumput hijau lapangan itu, mengejar layang-layang putus meski entah siapa yang bias meraihnya lebih dulu, serta rindu akan berbagai hal ini dan itu yang telah aku lalui bersamamu. Rindu itu payah, tidak akan sembuh dengan sendirinya, satu satunya obat yang dapat menyembuhkannya yaitu bertemu, dan aku sekarang punya itu, rindu.

 CINTA

Adakah suatu hal kamu sadari yang sama seperti apa yang aku sadari? Aku sadar untuk saat ini, aku tak bisa merasakan cinta, atau apalah kau menyebutnya, satu satunya alasan yang mungkin menyebabkanku tidak dapat merasakan cinta saat ini yaitu karena yang kucintai selama ini hanyalah diriku sendiri. Aku cinta diriku sendiri, melebihi apapun yang kurasakan untuk orang orang di sekitarku, kulakukan segalanya sebagai bentuk rasa cintaku untuk diriku. Entahlah, mungkin ini kutukanku : tak bisa merasakan cinta yang ada disekitarku, bahkan merasakannya untuk mereka. Aku, egoku, mencinta diriku sendiri. I’ll be God damned, I must be cursed.

SAYANG

Senja, aku tak tau, semua rasa sayang yang kurasa untuk mereka, entah benar benar tulus, atau lagi lagi untuk diriku, karena aku yang terlalu takut kehilangan. Aku terlalu bingung untuk menyimpulkan, apakah sayang yang ada untuk mereka hanya sebatas pengorbanan yang kulakukan agar aku tak kehilangan mereka, jika memang begitu adanya, kau boleh menyebutku egois, mengerikan, yang hanya mementingkan egonya sendiri. I curse myself.

WAKTU

Dear time, the only thing I ask you is not to take those people away from me as you walked away, I beg you let them still be by my side. Satu hal yang pada akhirnya paling kutakuti, adalah semua orang berubah, keadaan berubah, dan mereka yang semula ada, perlahan berubah dan pergi, sehingga rasa itu, sayang itu, semua terkesan terpaksa karena aku terlalu takut kehilangan, waktu, bisakah sedikit saja kau taruh belas kasihanmu padaku? Sudikah?

Those days

“Bagian menyakitkan dari sebuah proses melupakan adalah tanpa sengaja kembali teringat hal-hal yang dahulu sudah tertinggal”

Tidak ada hal lain yang cukup menyakitkan buatku saat ini selain perpisahan. Berpisah dengan mereka yang sudah seperti keluarga, mereka yang merupakan bagian dari senang dan sedihku, dan karena perpisahan, lagi lagi dan lagi aku harus merelakan sebuah rasa yang telah tertanam kuat untuk melunak, serta membiarkan fikiran ini menyendiri, menenangkan dirinya.

IMG_0249Perpisahan itu, perpisahan yang membuatku tak merindukan jogjakarta samasekali, perpisahan yang tak pernah terbayang sebelumnya. Bahkan jogjakarta dengan segalanya yang dulu selalu kuelukan kini tak lagi sama, keramaian yang dulu seakan memelukku erat, kini meninggalkanku dengan sejuta kesepian, tak tahu kenapa seakan hati ini tetap tertambat disana bersama mereka.

Mendengarkan kembali lagu lagu itu seakan menghadirkan mesin waktu yang membawaku kembali ke masa itu. Tempat tempat yang pernah dikunjungi bersama, jalan jalan yang selalu ditelusuri bersama, bahkan waktu fajar dan senja yang tak pernah terlewatkan tanpa kebersamaan yang menyertainya. Semuanya terekam jelas di benak, kenangan itu tertancap kuat, yang begitu sakit dan pilu bagi siapapun yang mencoba untuk mencabutnya, dan nampaknya ia akan menancap semakin dalam pada hati orang orang yang masih enggan untuk selamanya melupakan. Namun untuk melupakan, bagaimana bisa? Tempat tempat itu, jalan jalan itu, saat saat itu, ditemani wajah wajah menyenangkan dan menghangatkan itu, siapa mampu melupakannya dan beranjak pergi? Aku tahu semua ini cukup untuk menyayat hati, namun aku lebih memilih untuk itu daripada melupakan, because this story is worth to remember, even it’s painful to accept the fact that we no longer stay in that memory, all went done.

IMG_0134

Aku, Senja, Dan Kamu

Hai Senja, kamu adalah favoritku. Entah mengapa, seketika senja kali ini terasa begitu memilukan, begitu menyayat hati. Kamu, favoritku yang terkadang tak kenal rasa iba menghujami hati dan fikiran ini dengan bayang-bayang itu, bayang dan angan tentang senja, tentangmu. Ketika itu aku percaya, senja dan aku dipertemukan pada satu titik pertemuan; cinta, dan sampai saat ini pun aku percaya memang takdir mempertemukan kami demikian adanya, namun sejak saat itu, senja menjadi tak sesempurna biasanya. Aku hilang cukup lama. Hilang dalam kesendirian, hilang jauh dalam kenangan. Sejak saat itu, seringkali aku mencari dan terus mencari, menanti dan terus menanti, sebuah pencarian dan penantian yang tiada berujung. Ketika rasa hilang dan rindu itu memuncak, aku hanya tahu satu kata kemana aku dapat merebahkan keduanya, mengistirahatkan keduanya, kamu tau itu, empat huruf dalam sebuah kata mengisyaratkan seseorang yang padanya aku mampu melepaskan semua rasa yang ada, kamu.

Hai kamu, bagaimana kabarmu disana? Aku ingin tahu, masihkah tangan mungil itu mampu menuliskan apapun itu yang dapat menyenagkanku, menenangkanku? Senja sebelum saat itu selalu terasa sempurna, saat saat dimana kamu selalu ada menghiasi kosongnya hariku. Senja yang selalu ditemani dengan segala canda dan gurauanmu, meski hanya sekelebat ada dalam ingatan. Senja yang selalu ditemani dengan segala kata-kata itu, puisi-puisi itu, ucapan-ucapan itu. Senja yang mengantarkan terang kepada gelap, yang selalu membuatku merasa bahwa akulah orang yang paling beruntung di dunia, bahwa akulah orang yang paling bahagia di dunia, tahukah kamu letak kebahagiaanku? Hanya Aku, dirimu, dan senja yang dapat menjawab dan merasakannya. Senja, padamu seringkali aku berbagi, berbagi kesenangan, kenestapaan, kenangan, juga harapan. Senja, jangan pergi, aku belum selesai, secepat itukah kau akan meninggalkanku? Percakapan singkat ini kuutarakan hanya padamu, dan mungkin kau bisa mengutarakan padanya, apa maksud diri dan hati, tiga kata yang dapat menggambarkan semua itu, Aku rindu padamu.

Another Poem

Gue sadar, se-suck apa pun hidup gue, masih ada kebaikan yang ada didalamnya, nggak sepenuhnya suck, at least buat ambil pelajaran, nggak saat itu juga, tapi nanti di kemudian hari. Dulu gue sering beranggapan bahwa hidup gue sial, kenapa Tuhan memberikan gue hidup yang kayak gini, jatuh, sakit, kecewa, betrayed, and much more. Dulu gue suka bandingin my life and someone’s else, dan benar, gue selalu beranggapan kalau hidup gue lah yang paling sial. Tapi dengan gue tulisnya cerita gue di chapter ini, gue setidaknya bisa membuktikan kalau anggapan gue diatas nggak sepenuhnya bener bahwa hidup gue yang paling suck. Cerita ini berawal dari beberapa bulan yang lalu, waktu gue mulai semester baru, gue memulai semester baru kemarin penuh dendam, amarah, dan keinginan buat meredam semua itu sekaligus. Selama itu gue hidup dari energi iri, dengki, dendam, dan ketidak pedulian bodo amat sama sekeliling gue, bodo amat whatever the people said, that because gue mikir I’ve been hurt so long, semua nasib dan kenyataan terlalu kejam buat gue waktu itu. Bulan demi bulan berlalu, ke “bodo amat” an “dendam” itu akhirnya mendarah daging, dan gue bisa hidup dengan itu sampe sekarang, dan itu jadi salah satu pijakan buat gue bangkit, yang buat gue sadar ternyata bangkit nggak sesulit itu, dan jatuh nggak sesakit itu. Gue bisa bangkit dan memotivasi diri dengan cara membakar dendam dan marah serta iri itu makin berkobar sehingga gue makin ngga peduli dan makin bisa fokus sama diri gue sendiri tanpa mikirin apa apa yang dilakuin orang lain, gue sekarang totally bodo amat, itu yang gue syukuri, Tuhan telah menganugerahkan gue kebodoamatan yang agung, Tuhan menganugerahkan gue kemampuan mengendalikan dendam, marah, dan iri, menjadi pijakan buat gue melompat lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi, bodo amat setinggi apapun orang lain lompat, gue terus mencoba lompat setinggi yang gue bisa, karena gue bisa, karena kita berbeda, every people are different from each other, and unfortunately I’m the most unique personality type in the place I am. Yang gue dapet, ternyata berusaha nggak se capek itu, bangkit nggak sesusah itu, dan jatuh nggak se menyakitkan itu. Dan gue bersyukur pernah diberi pengalaman berbagai suck in life, so that I get stronger, stronger than I’ve ever been. Thank God.

Remember this?

Pernahkah lo sejenak mengingat kembali, 9, 10 tahun ke belakang, saat dimana seragam merah-putih lo berlumuran tanah, lumpur, keringet, dan kadang-kadang ingus yang meler ngga berenti berenti, dan segitunya lo disuruh tidur siang sama emak lo nggak mau, haha. Coba lo inget inget lagi, masa disaat lo beli chiki dikocok kocok dulu milih yang mana yang ada hadiahnya, nama chikinya chiki komo ama jaguar kalo gasalah, atau disaat lo mau maunya dikibulin sama tukang judi (ya bisa dibilang gitu sih soalnya untung untungan) yang waktu itu lo narik benang, kalo yang ketarik robot putih, lu dapet ager ager, kalo yang merah lu dapet mainan. Yang lain lagi, mungkin momen saat lo kecepirit dikelas, ups, atau mungkin juga saat pertama lo nemuin cinta monyet lo. All those things couldn’t be forgotten somehow, dan semua memori itu seakan ter,, ter apa yah, terulang atau terputar kembali lah, dengan cepatnya saat gue ketemu lagi sama temen temen SD gue, nih fotonya.

img_0178

Ada si kembar danu doni, ada fairuz, hanif, dicki, ada temen sebangku gue jevri (say hello), ada vedina, ada kutu buku sella, maniak matematika widya, ada temen arisan ria, aprilia, sherly, nurmala (btw dulu sd gua punya klub arisan haha), dan semua temen temen yang ngga bisa gue sebutin satu persatu. Oh iya underline ya gue gapernah kecepirit dikelas (serius). Semua yang telah dilalui, selama ini, menabok gua (literary) dan buat gue sadar, waktu berlalu begitu cepat, yang seringkali gue ngga sadar, dan bahkan terlena. Gue kemarin semester 1, sekarang udh smt 6 aja, tua. Temen gue yang tadinya mewek mulu, sekarang udah punya anak, haha. That’s all guys, so, hargai waktu lu, teman teman lu, dan segala yang lu punya sekarang, karna suatu saat nanti, semua itu will be worth to remember, trust me.

Tentang Not Balok dan Antek-Anteknya

Oke, setelah di postingan sebelumnya gue udah bahas sedikit mengenai scale, sekarang kita maju ke babak selanjutnya, notasi balok. Soal seberapa penting belajar not balok, menurut gue, gue kasih nilai 7 dari skala 10. Why? Gue pernah kasih alesan di postingan gue Tips Belajar Musik for Beginners,  jadi ngga usah gue bahas lagi disini.

Agar bisa lancar kemudian dalam membaca not balok, menurut gue ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi yang baru mulai belajar baca not balok. Pertama komponen notasi balok itu sendiri, kedua time signature (sebenernya ini juga masuk komponen), ketiga adalah timing dalam memainkannya (gue bingung harus gimana bilangnya).

Seperti pepatah bilang “tak kenal maka tak gendong”, sebelum belajar not balok, kita perlu taarufan dulu sama komponen komponen yang ada di dalamnya. Well, komponen komponen yang ada di not balok sendiri terdiri dari garis paranada, notasi, kunci, birama, dan time signature.

  1. Garis Paranada

para.png

Garis paranada adalah serangkaian garis dimana notasi notasi balok nantinya akan diletakkan. Notasi balok diletakkan bisa tepat pada garis tersebut, atau pada ruang diantara garis tersebut (ditengah-tengah dua garis). Garis paranada yang dipakai buat nulis notasi itu sendiri ada 5 garis, yang berarti ada 4 ruang diantaranya. Kalau ada nada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari garis paranada yang defaultnya, maka dibuatlah garis bantu. Tinggi rendahnya suatu nada dilihat dari letaknya di garis paranada, semakin tinggi (atas) letak suatu titik nada, maka nadanya semakin tinggi dan sebaliknya.

  1. Notasi

Notasi itu sendiri adalah bagaimana nantinya musik itu akan dimainkan. Notasi bisa berupa titik nada, bisa berupa tanda istirahat, atau simbol lainnya. Untuk titik nada dan tanda istirahat, masing masing punya waktu nya, seberapa lama dia dimainkan, disini kita pakainya ketukan. Nah ini yang gue maksud dengan timing dalam memainkannya, karena teori aja nggak cukup. Meskipun lo tau not ½ itu dimainkan dalam 2 ketuk, not ¼ itu 1 ketuk not 1/8 itu ½ ketuk, tapi lo ngga pernah praktek, bahkan pas ngedenger bunyinya aja lo pangling “itu not berapa sih”, it’s a problem, itulah kenapa menurut geu timing dalam memainkannya (yang gue bingung bilangnya apa) penting banget, so pertajam kuping dan nalar kalian.

NAD

  1. Kunci (Cleff)

Disetiap awal paranada selalu ditulis kunci. Kunci yang umum digunakan biasanya kunci G dan F (disini kunci G dan F TIDAK SAMA DENGAN do=G atau do=F, camkan itu). Kunci ini fungsinya buat menandakan letak not not yang dimankan. Agak ribet sih jelasinnya, jadi gue kasih contoh aja. Misal di awal suatu paranada ditulis Kunci G, maka not G pada garis paranada tersebut terletak di ‘perut’ tanda kunci itu. Dalam kunci G, perut si Kunci itu ada di garis paranada kedua (dari bawah) yang menandakan disitulah letak nada G. Beda halnya dengan kunci F, perut si kunci F itu ada di garis paranada keempat (dari bawah), maka letak nada F pas/sejajar dengan letak perut si kunci itu.

GIni Kunci G

FIni Kunci F

  1. Birama

Birama sendiri adalah segmen segmen yang memisahkan notasi notasi sesuai dengan time signature nya.

bira

  1. Tiime signature

Time signature sendiri adalah penanda ketukan dalam setiap birama, singkatnya begitu.

Timesig.jpg

Oke, cukup sekian postingan tentang not balok dan antek-anteknya. Seperti biasa gue mencoba untuk selalu menghadirkan yang beda buat kalian. Thanks for reading.