Author Archives: Ihda Ciptaditama

About Ihda Ciptaditama

Seorang (bukan sebuah atau seekor) mahasiswa teknik sipil yang mengharapkan penghidupan yang lebih baik, paling hobby sama yang namanya travelling diwaktu senja, main musik, ngoprek PC, sama jailin orang, I love sharing too, so welcome to my blog, semoga bisa mengobrak abrik pikiran kalian semua, that's all.

Heart Pieces

Standard

Kata hati : (n). ungkapan yang tak dapat disatukan dalam satu cerita utuh, hanya potongan-potongan yang terjebak dalam suatu lingkaran jenuh.

Semua potongan hati itu, dimulai dari sini :

LOST STARS

As the time’s passing by, people around us changed, you, I, and many other people change, according to the moments they’ve passed those bygone time. And the most terrifying part is finding yourself lost, lost in such thing that nobody else could never find you and bring you back to the right path, but yourself is the only one who can do it. Am I, Are we all lost stars?

HILANG

Setiap orang yang pernah kutemui, tak ada satupun dari mereka yang tidak berubah. Seiring berlalunya waktu, orang orang berubah, keadaan berubah tidak seperti sedia kala. Bagian paling mengerikan buatku saat ini yaitu menyadari kehilanganku dalam suatu kekacauan, kekacauan yang mungkin kubuat sendiri, yang tiada seorangpun yang dapat menemukanku didalamnya lantas membawaku kembali ke jalan yang benar, yang hanya dirikulah yang bias menemukan dan keluar dari keadaan itu.

PERUBAHAN

Aku tahu, entah teman, sahabat, pacar, mantan pacar, atau siapalah itu, mereka perlahan berubah, setiap dari mereka berubah sesuai dengan apa yang telah mereka lalui dan alami selama kurun waktu tertentu, ada yang semakin kuat, semakin teguh, bahkan ada juga yang semakin lemah dan frustasi, satu hal yang kutemukan yaitu kehidupan telah menyebabkan aku, kau, mereka, berubah seperti itu, namun demikian, tetap ada bagian dari diri mereka yang lama, yang masih tersisa dan dapat kutemukan, walaupun tidak seperti sedia kala, seperti ukiran senyum tersirat di wajah yang penuh kehangatan, yang bermuara di pelupuk mata itu. Oh no, mataku tiba tiba berkaca-kaca.

RINDU

Hai kawan, sahabat, lama tidak bertemu, apakah kamu merasakan rindu yang sama? Rindu mengarungi masa-masa indah itu, rindu melalui gang-gang sempit itu, rindu melangkahkan kaki berlari diatas rumput hijau lapangan itu, mengejar layang-layang putus meski entah siapa yang bias meraihnya lebih dulu, serta rindu akan berbagai hal ini dan itu yang telah aku lalui bersamamu. Rindu itu payah, tidak akan sembuh dengan sendirinya, satu satunya obat yang dapat menyembuhkannya yaitu bertemu, dan aku sekarang punya itu, rindu.

 CINTA

Adakah suatu hal kamu sadari yang sama seperti apa yang aku sadari? Aku sadar untuk saat ini, aku tak bisa merasakan cinta, atau apalah kau menyebutnya, satu satunya alasan yang mungkin menyebabkanku tidak dapat merasakan cinta saat ini yaitu karena yang kucintai selama ini hanyalah diriku sendiri. Aku cinta diriku sendiri, melebihi apapun yang kurasakan untuk orang orang di sekitarku, kulakukan segalanya sebagai bentuk rasa cintaku untuk diriku. Entahlah, mungkin ini kutukanku : tak bisa merasakan cinta yang ada disekitarku, bahkan merasakannya untuk mereka. Aku, egoku, mencinta diriku sendiri. I’ll be God damned, I must be cursed.

SAYANG

Senja, aku tak tau, semua rasa sayang yang kurasa untuk mereka, entah benar benar tulus, atau lagi lagi untuk diriku, karena aku yang terlalu takut kehilangan. Aku terlalu bingung untuk menyimpulkan, apakah sayang yang ada untuk mereka hanya sebatas pengorbanan yang kulakukan agar aku tak kehilangan mereka, jika memang begitu adanya, kau boleh menyebutku egois, mengerikan, yang hanya mementingkan egonya sendiri. I curse myself.

WAKTU

Dear time, the only thing I ask you is not to take those people away from me as you walked away, I beg you let them still be by my side. Satu hal yang pada akhirnya paling kutakuti, adalah semua orang berubah, keadaan berubah, dan mereka yang semula ada, perlahan berubah dan pergi, sehingga rasa itu, sayang itu, semua terkesan terpaksa karena aku terlalu takut kehilangan, waktu, bisakah sedikit saja kau taruh belas kasihanmu padaku? Sudikah?

Advertisements

Those days

Standard

“Bagian menyakitkan dari sebuah proses melupakan adalah tanpa sengaja kembali teringat hal-hal yang dahulu sudah tertinggal”

Tidak ada hal lain yang cukup menyakitkan buatku saat ini selain perpisahan. Berpisah dengan mereka yang sudah seperti keluarga, mereka yang merupakan bagian dari senang dan sedihku, dan karena perpisahan, lagi lagi dan lagi aku harus merelakan sebuah rasa yang telah tertanam kuat untuk melunak, serta membiarkan fikiran ini menyendiri, menenangkan dirinya.

IMG_0249Perpisahan itu, perpisahan yang membuatku tak merindukan jogjakarta samasekali, perpisahan yang tak pernah terbayang sebelumnya. Bahkan jogjakarta dengan segalanya yang dulu selalu kuelukan kini tak lagi sama, keramaian yang dulu seakan memelukku erat, kini meninggalkanku dengan sejuta kesepian, tak tahu kenapa seakan hati ini tetap tertambat disana bersama mereka.

Mendengarkan kembali lagu lagu itu seakan menghadirkan mesin waktu yang membawaku kembali ke masa itu. Tempat tempat yang pernah dikunjungi bersama, jalan jalan yang selalu ditelusuri bersama, bahkan waktu fajar dan senja yang tak pernah terlewatkan tanpa kebersamaan yang menyertainya. Semuanya terekam jelas di benak, kenangan itu tertancap kuat, yang begitu sakit dan pilu bagi siapapun yang mencoba untuk mencabutnya, dan nampaknya ia akan menancap semakin dalam pada hati orang orang yang masih enggan untuk selamanya melupakan. Namun untuk melupakan, bagaimana bisa? Tempat tempat itu, jalan jalan itu, saat saat itu, ditemani wajah wajah menyenangkan dan menghangatkan itu, siapa mampu melupakannya dan beranjak pergi? Aku tahu semua ini cukup untuk menyayat hati, namun aku lebih memilih untuk itu daripada melupakan, because this story is worth to remember, even it’s painful to accept the fact that we no longer stay in that memory, all went done.

IMG_0134

Aku, Senja, Dan Kamu

Standard

Hai Senja, kamu adalah favoritku. Entah mengapa, seketika senja kali ini terasa begitu memilukan, begitu menyayat hati. Kamu, favoritku yang terkadang tak kenal rasa iba menghujami hati dan fikiran ini dengan bayang-bayang itu, bayang dan angan tentang senja, tentangmu. Ketika itu aku percaya, senja dan aku dipertemukan pada satu titik pertemuan; cinta, dan sampai saat ini pun aku percaya memang takdir mempertemukan kami demikian adanya, namun sejak saat itu, senja menjadi tak sesempurna biasanya. Aku hilang cukup lama. Hilang dalam kesendirian, hilang jauh dalam kenangan. Sejak saat itu, seringkali aku mencari dan terus mencari, menanti dan terus menanti, sebuah pencarian dan penantian yang tiada berujung. Ketika rasa hilang dan rindu itu memuncak, aku hanya tahu satu kata kemana aku dapat merebahkan keduanya, mengistirahatkan keduanya, kamu tau itu, empat huruf dalam sebuah kata mengisyaratkan seseorang yang padanya aku mampu melepaskan semua rasa yang ada, kamu.

Hai kamu, bagaimana kabarmu disana? Aku ingin tahu, masihkah tangan mungil itu mampu menuliskan apapun itu yang dapat menyenagkanku, menenangkanku? Senja sebelum saat itu selalu terasa sempurna, saat saat dimana kamu selalu ada menghiasi kosongnya hariku. Senja yang selalu ditemani dengan segala canda dan gurauanmu, meski hanya sekelebat ada dalam ingatan. Senja yang selalu ditemani dengan segala kata-kata itu, puisi-puisi itu, ucapan-ucapan itu. Senja yang mengantarkan terang kepada gelap, yang selalu membuatku merasa bahwa akulah orang yang paling beruntung di dunia, bahwa akulah orang yang paling bahagia di dunia, tahukah kamu letak kebahagiaanku? Hanya Aku, dirimu, dan senja yang dapat menjawab dan merasakannya. Senja, padamu seringkali aku berbagi, berbagi kesenangan, kenestapaan, kenangan, juga harapan. Senja, jangan pergi, aku belum selesai, secepat itukah kau akan meninggalkanku? Percakapan singkat ini kuutarakan hanya padamu, dan mungkin kau bisa mengutarakan padanya, apa maksud diri dan hati, tiga kata yang dapat menggambarkan semua itu, Aku rindu padamu.

Another Poem

Standard

Gue sadar, se-suck apa pun hidup gue, masih ada kebaikan yang ada didalamnya, nggak sepenuhnya suck, at least buat ambil pelajaran, nggak saat itu juga, tapi nanti di kemudian hari. Dulu gue sering beranggapan bahwa hidup gue sial, kenapa Tuhan memberikan gue hidup yang kayak gini, jatuh, sakit, kecewa, betrayed, and much more. Dulu gue suka bandingin my life and someone’s else, dan benar, gue selalu beranggapan kalau hidup gue lah yang paling sial. Tapi dengan gue tulisnya cerita gue di chapter ini, gue setidaknya bisa membuktikan kalau anggapan gue diatas nggak sepenuhnya bener bahwa hidup gue yang paling suck. Cerita ini berawal dari beberapa bulan yang lalu, waktu gue mulai semester baru, gue memulai semester baru kemarin penuh dendam, amarah, dan keinginan buat meredam semua itu sekaligus. Selama itu gue hidup dari energi iri, dengki, dendam, dan ketidak pedulian bodo amat sama sekeliling gue, bodo amat whatever the people said, that because gue mikir I’ve been hurt so long, semua nasib dan kenyataan terlalu kejam buat gue waktu itu. Bulan demi bulan berlalu, ke “bodo amat” an “dendam” itu akhirnya mendarah daging, dan gue bisa hidup dengan itu sampe sekarang, dan itu jadi salah satu pijakan buat gue bangkit, yang buat gue sadar ternyata bangkit nggak sesulit itu, dan jatuh nggak sesakit itu. Gue bisa bangkit dan memotivasi diri dengan cara membakar dendam dan marah serta iri itu makin berkobar sehingga gue makin ngga peduli dan makin bisa fokus sama diri gue sendiri tanpa mikirin apa apa yang dilakuin orang lain, gue sekarang totally bodo amat, itu yang gue syukuri, Tuhan telah menganugerahkan gue kebodoamatan yang agung, Tuhan menganugerahkan gue kemampuan mengendalikan dendam, marah, dan iri, menjadi pijakan buat gue melompat lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi, bodo amat setinggi apapun orang lain lompat, gue terus mencoba lompat setinggi yang gue bisa, karena gue bisa, karena kita berbeda, every people are different from each other, and unfortunately I’m the most unique personality type in the place I am. Yang gue dapet, ternyata berusaha nggak se capek itu, bangkit nggak sesusah itu, dan jatuh nggak se menyakitkan itu. Dan gue bersyukur pernah diberi pengalaman berbagai suck in life, so that I get stronger, stronger than I’ve ever been. Thank God.

Remember this?

Standard

Pernahkah lo sejenak mengingat kembali, 9, 10 tahun ke belakang, saat dimana seragam merah-putih lo berlumuran tanah, lumpur, keringet, dan kadang-kadang ingus yang meler ngga berenti berenti, dan segitunya lo disuruh tidur siang sama emak lo nggak mau, haha. Coba lo inget inget lagi, masa disaat lo beli chiki dikocok kocok dulu milih yang mana yang ada hadiahnya, nama chikinya chiki komo ama jaguar kalo gasalah, atau disaat lo mau maunya dikibulin sama tukang judi (ya bisa dibilang gitu sih soalnya untung untungan) yang waktu itu lo narik benang, kalo yang ketarik robot putih, lu dapet ager ager, kalo yang merah lu dapet mainan. Yang lain lagi, mungkin momen saat lo kecepirit dikelas, ups, atau mungkin juga saat pertama lo nemuin cinta monyet lo. All those things couldn’t be forgotten somehow, dan semua memori itu seakan ter,, ter apa yah, terulang atau terputar kembali lah, dengan cepatnya saat gue ketemu lagi sama temen temen SD gue, nih fotonya.

img_0178

Ada si kembar danu doni, ada fairuz, hanif, dicki, ada temen sebangku gue jevri (say hello), ada vedina, ada kutu buku sella, maniak matematika widya, ada temen arisan ria, aprilia, sherly, nurmala (btw dulu sd gua punya klub arisan haha), dan semua temen temen yang ngga bisa gue sebutin satu persatu. Oh iya underline ya gue gapernah kecepirit dikelas (serius). Semua yang telah dilalui, selama ini, menabok gua (literary) dan buat gue sadar, waktu berlalu begitu cepat, yang seringkali gue ngga sadar, dan bahkan terlena. Gue kemarin semester 1, sekarang udh smt 6 aja, tua. Temen gue yang tadinya mewek mulu, sekarang udah punya anak, haha. That’s all guys, so, hargai waktu lu, teman teman lu, dan segala yang lu punya sekarang, karna suatu saat nanti, semua itu will be worth to remember, trust me.

Tentang Not Balok dan Antek-Anteknya

Standard

Oke, setelah di postingan sebelumnya gue udah bahas sedikit mengenai scale, sekarang kita maju ke babak selanjutnya, notasi balok. Soal seberapa penting belajar not balok, menurut gue, gue kasih nilai 7 dari skala 10. Why? Gue pernah kasih alesan di postingan gue Tips Belajar Musik for Beginners,  jadi ngga usah gue bahas lagi disini.

Agar bisa lancar kemudian dalam membaca not balok, menurut gue ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi yang baru mulai belajar baca not balok. Pertama komponen notasi balok itu sendiri, kedua time signature (sebenernya ini juga masuk komponen), ketiga adalah timing dalam memainkannya (gue bingung harus gimana bilangnya).

Seperti pepatah bilang “tak kenal maka tak gendong”, sebelum belajar not balok, kita perlu taarufan dulu sama komponen komponen yang ada di dalamnya. Well, komponen komponen yang ada di not balok sendiri terdiri dari garis paranada, notasi, kunci, birama, dan time signature.

  1. Garis Paranada

para.png

Garis paranada adalah serangkaian garis dimana notasi notasi balok nantinya akan diletakkan. Notasi balok diletakkan bisa tepat pada garis tersebut, atau pada ruang diantara garis tersebut (ditengah-tengah dua garis). Garis paranada yang dipakai buat nulis notasi itu sendiri ada 5 garis, yang berarti ada 4 ruang diantaranya. Kalau ada nada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari garis paranada yang defaultnya, maka dibuatlah garis bantu. Tinggi rendahnya suatu nada dilihat dari letaknya di garis paranada, semakin tinggi (atas) letak suatu titik nada, maka nadanya semakin tinggi dan sebaliknya.

  1. Notasi

Notasi itu sendiri adalah bagaimana nantinya musik itu akan dimainkan. Notasi bisa berupa titik nada, bisa berupa tanda istirahat, atau simbol lainnya. Untuk titik nada dan tanda istirahat, masing masing punya waktu nya, seberapa lama dia dimainkan, disini kita pakainya ketukan. Nah ini yang gue maksud dengan timing dalam memainkannya, karena teori aja nggak cukup. Meskipun lo tau not ½ itu dimainkan dalam 2 ketuk, not ¼ itu 1 ketuk not 1/8 itu ½ ketuk, tapi lo ngga pernah praktek, bahkan pas ngedenger bunyinya aja lo pangling “itu not berapa sih”, it’s a problem, itulah kenapa menurut geu timing dalam memainkannya (yang gue bingung bilangnya apa) penting banget, so pertajam kuping dan nalar kalian.

NAD

  1. Kunci (Cleff)

Disetiap awal paranada selalu ditulis kunci. Kunci yang umum digunakan biasanya kunci G dan F (disini kunci G dan F TIDAK SAMA DENGAN do=G atau do=F, camkan itu). Kunci ini fungsinya buat menandakan letak not not yang dimankan. Agak ribet sih jelasinnya, jadi gue kasih contoh aja. Misal di awal suatu paranada ditulis Kunci G, maka not G pada garis paranada tersebut terletak di ‘perut’ tanda kunci itu. Dalam kunci G, perut si Kunci itu ada di garis paranada kedua (dari bawah) yang menandakan disitulah letak nada G. Beda halnya dengan kunci F, perut si kunci F itu ada di garis paranada keempat (dari bawah), maka letak nada F pas/sejajar dengan letak perut si kunci itu.

GIni Kunci G

FIni Kunci F

  1. Birama

Birama sendiri adalah segmen segmen yang memisahkan notasi notasi sesuai dengan time signature nya.

bira

  1. Tiime signature

Time signature sendiri adalah penanda ketukan dalam setiap birama, singkatnya begitu.

Timesig.jpg

Oke, cukup sekian postingan tentang not balok dan antek-anteknya. Seperti biasa gue mencoba untuk selalu menghadirkan yang beda buat kalian. Thanks for reading.

Tentang Major Scale dan Formulanya

Standard

Hello readers! Seperti yang gue pernah bilang di postingan sebelumnya, kali ini gue bakal sedikit ngebahas tentang teori musik. Well, sebenernya gue nggak expert expert banget dalam hal teori musik ini, jadi anggaplah kita lagi sama sama lagi belajar, dan disini gue coba untuk berbagi, so, CMIIW.

 Oke, kali gue mau ngebahas tentang scale terlebih dahulu. Sebelum gue bahas lebih jauh soal scale atau tangga nada, gue bakal jelasin singkat dulu apa itu tangga nada atau scale. Tangga nada atau scale adalah sekumpulan not musik yang diatur sedemikian rupa sehingga memiliki karakteristik tertentu. Pada umumnya, scale yang sering dijumpai adalah scale mayor dan minor. Aturan baku yang mengatur not not ini disebut interval. Dalam scale sendiri, ada 8 not yang orang biasa sebut do re mi fa sol la si do (do masuk oktaf berikutnya).

Kali ini, gue bahas dulu yang bagian major scale. Kenapa major scale? Karena major scale lah yang paling umum digunakan dalam berbagai komposisi musik. Major scale sendiri memiliki rumus interval : 1 – 1  – ½  – 1 – 1 – 1 – ½ . Maksud dari angka angka itu adalah jarak antar nada-nada penyusun major scale. Oke, sekarang gue ambil contoh scale C major. Sebelumnya yang perlu kalian tau, “Do” yang sering kalian sebut, itu adalah C. Do re mi fa sol la si do, kalau dibahasa musikkan jadi C D E F G A B C. Masing masing dari not not itu punya jarak sesuai sama rumus major scale diatas. Jarak C ke D adalah 1, D ke E jaraknya 1, E ke F jaraknya ½ , dst. Penasaran kenapa E ke F dan B ke C Cuma berjarak ½ nada? Oke, biar gampangnya kita lihat gambar tuts tuts piano ini.

keyb

Take a look at the keyboards, semua tuts putih punya tuts hitam yang nyempil diantara keduanya, kecuali di antara E&F, dan diantara B&C. So, setiap jarak tuts ke tuts berikutnya adalah ½ nada (berarti tuts putih ke hitam jaraknya ½ nada, putih ke putih jadi 1 nada kecuali E ke F dan B ke C) . Nah, karna hampir di antara setiap dua tuts putih ada nyempil tuts hitam (kecuali antara E&F dan B&C), maka jarak tuts putih ke putih adalah 1, jarak dari tuts putih ke hitam adalah ½ . gitu. Muter muter? Emang, initinya paham kan? Oke.

Setiap nada diatas punya tuts hitam kecuali E dan B, disini sebut aja dulu kres (#), jadi, keseluruhan nada yang ada adalah : C-C#-D-D#-E-F-F#-G-G#-A-A#-B-C. Jarak C ke C# = ½, C# ke D = ½ , D ke D# = ½. Dan seterusnya. Mengikuti formula interval nada scale major, maka untuk skala C mayor dengan rumus 1-1-1/2-1-1-1-1/2, didapatkan nada nada pada tangga nada C mayor adalah C D E F G A B C. Gimana dengan D mayor? Ya tinggal ikutin rumus diatas, diawali dari D, maka akan menjadi D E F# G A B C# D, gimana untuk E mayor? Sama, dimulai dari E jadi E F# G# A B C# D# E. Untuk F Mayor, G mayor, dan lainnya bisa dicari pakai rumus interval diatas. Untuk memperjelas penjelasan gue, bisa dilihat video dibawah yang gue ambil dari youtube tentang demonstrasi scale scale mayor.

Menurut gue, pengetahuan tentang scale adalah pengetahuan yang paling dasar bagi seseorang yang pingin belajar musik. Kalau scale udah faham, InsyaAllah (God Will) kesananya bakalan gampang, karna ya ini yang paling dasar. Oke, mungkin cukup sekian untuk postingan kali ini, semoga bisa membantu, misalnya disaaat kalian searching tentang teori scale dan hasilnya semua tulisan yang lo baca sama (kopas sana sini diposting ulang), gue coba hadirkan yang berbeda buat lo (asik dah). Thanks for reading, see ya.