4 Ridiculous Rules In My Past Daily Life

ridiOke, kali ini, gua mau ngebahas lagi sesuatu yang mungkin buat kalian nggak penting, tapi bagi gue, it’s worth enough to discuss, to make the people realize kenapa dan buat apa mereka nurutin aturan. Semua ini tentang beberapa peraturan yang sampai sekarang masih jadi misteri dan nggak masuk akal versi gue.

Well, kalian bener, gue tipikal orang yang nggak suka aturan, I admit it. As we know, everything happens for a reason. Gue kutip lagi dari sepupu gue yang geblek (lagi), beberapa minggu lalu status bbmnya yang bikin gue sejenak termenung, dan gue setuju, gue sepemikiran. Aturan nggak bisa exist selamanya tanpa adanya kejelasan, karna ketidak jelasan Cuma buat orang melanggar aturan tersebut karna penasaran, bener ga? Anggep aja bener. Kita idup di dunia dimana peraturan diberlakukan tanpa diberi alasannya, Cuma dibilang : nanti kalo udah gede juga ngerti, so apa artinya gue belum gede sampe sekarang? Gede loh, iya gede, haha.

topiOke first, ini sebenernya dari sepupu gue sih, tapi gue setuju. Pakai topi buat anak sd, smp, sma, dan sederajat (halah) pas upacara hari senin. Kenapa dengan tidak pakainya topi, seorang anak dihukum, kalau ditanya kenapa harus pakai topi waktu upacara, jawabannya biar seragam, emang dari dulu aturannya udah begitu, nah pertanyaannya : dulunya itu kapan? Lebaran gajah? Kalaupun alesannya gara gara supaya nggak kepanasan, lah bukannya si anak dikasih minum karna kepanasan atau dikasih magical treatment kek disepmrot potion kek kalo yang KO dikasih revive sekalian (ini apa coba), eh malah dihukum, kurang sadis apa? Jadi apakah sebenarnya alasan dibalik aturan memakai topi di sekolah? Masih jadi misteri buat gue.

manSecond, berhubung dulu gue sekolah di pesantren, ada beberapa peraturan yang sebenernya senior yang nyiptain sih (exclude me) yang sumpah peraturan itu ngga masuk akal. Oke kronologinya dulu : Di pesantren itu sama kaya di sekolah sekolah umum, ada sejenis OSIS, Cuma agak sedikit lebih berkuasa lah, sampe yang gue rasa gue takut bukan sama aturan, tapi sama pengurusnya! it’s horrible, thats why being a friendly pengurus is really needed, just like what I’ve done (kata adek kelas sih gue asik ngga ngusik). Oke, peraturan kedua yang nggak masuk akal adalah : ONLY FOR MANAGER, iya, khusus buat pengurus, apa coba? KAMAR MANDI alias WC alias JAMBAN! Coba lo bayangin pas lo lagi kebelet boker dan semua kamar mandi penuh kecuali kamar mandi for manager itu, nahloh. Entah apa tujuannya dibuat such this silly rule. Gue mikir barangkali pengurus naro brangkas disitu isinya emas batangan, ternyata pas gua jadi pengurus masuk kesana gak ada apa apa, atau mungkin WC only for manager itu pintu kemana saja nya doraemon, juga bukan, yah itu sampe sekarang masih jadi misteri buat gue.

norThird, masih dari pesantren, misteri peraturan selanjutnya adalah : NGGAK BOLEH LEWAT DAPUR! Nah, ini. Okelah pas lagi tabkir (pengurus lagi ngehitungin anggota biar gece, kalo ga ngerti pokoknya gitu dah, bayangin aja) ga boleh lewat dapur, biar ngga ada yang kabur kaburan dan ngehargai pengurus yang lagi tugas jadi anak anak lewat di depan dia semua dalam satu jalur, nah kalo lagi jam jam santai? WHYYYY???? Anak anak gaboleh lewat dapur?? Why???? Seakan jalan dapur itu sakral banget, atau sarang hantu yang gaboleh dilewatin, atau yang lewat gerbang dapur langsung kesengat pikachu atau apalah, WHY?? Masih jadi misteri buat gue.

Forth, yang masih menjadi misteri adalah, tolak ukur celana yang diperbolehkan waktu gue nyantri dulu adalah : lubang kakinya (taukan maksud gue, yang deket mata kaki) bisa dimasukin botol aqua! (jadi kaki sama botol aqua bisa masuk dua duanya) WHY botol aqua? Kalo beda merek terus botolnya ga masuk gimana???? Kalo gue liat liat nih, yang nggak muat dimasukin botolpun masih enak enak aja diliat, nggak risih juga, masih nyaman juga, tapi kalo kesempitan macem celana pensil gitu yang ketat banget gue juga kurang suka soalnya pas kebelet boker susah bukanya. Jadi kenapa harus dimasukin botol aqua pas razia?? WHY?? Kenapa nggak galon sekalian?? Eh.

You know? Semua peraturan itu gue jalanin tanpa tau kenapa alesannya, walhasil Cuma bisa bertanya tanya sambil dumel dalem hati tapi nerima (cupu sih iya, udahlaa), jadi, kalo kalian punya adik, atau punya anak kelak, all you have to do is sebisa mungkin lo kasih alesan di setiap aturan yang lo buat, harus masuk akal, jangan sekali kali keluarin kata kata nanti gede juga ngerti, atau udah dari dulu aturannya gitu, sekreatif mungkin lah kalian buat alesannya, bukan apa apa, biar si bocah ga jadi arwah penasaran! *lah.

Oke, the forth itu yang terakhir, tapi bukan berarti semua tanda tanya gue berakhir, mungkin masih ada peraturan peraturan diluar sana yang aneh dan nggak masuk akal, so, share with me, thanks for reading this weird post (again), bye, and see ya.

A little Chaos

chaosHai senja, semakin lama aku hidup di dunia, semakin bertambah usiaku, semakin tua aku, sadar tak sadar semakin bertambah pengalaman hidupku, dan semoga semakin banyka pula hal hal baru tentang kehidupan yang kupelajari, yang kuperoleh setiap harinya. Senja, beberapa hari ini aku dapat menyimpulkan suatu hal yang menurutku baru : an order and chaos. Dimanapun, kapanpun ada suatu keteraturan, keseimbangan, akan selalu ada kekacauan yang menyertainya. Kekacauan yang berawal dari ketenangan yang terusik, yang berpotensi untuk merusak sebagian bahkan seluruh keteraturan yang ada, seperti yin dan yang, seperti raava dan vaatu, order dan chaos tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lain, salah satu dari mereka akan ‘terlahir kembali’ jika salah satunya hancur, keteraturan tidak dapat meniadakan kekacauan yang ada, begitu pula kekacauan. Kekacauan yang berpotensi menimbulkan kerusakan, walaupun tak nampak pada permulaannya, namun pada saat klimaks, pada saat kritisnya, ia dapat menghancurkan segala keteraturan. Kekacauan yang melahirkan sebuah turbulensi dalam dinamika kehidupan, mulai dari individu terkecil, hingga terbesar, dari amoeba, hingga manusia, turbulensi terjadi dimaman mana, indahkah? mungkin, namun menurutku tidak begitu adanya. Berbagai turbulensi telah terjadi dalam dinamika kehidupanku yang taida pernah datar adanya, turbulensi yang terkadang merapuhkan, menjatuhkan, atau membangkitkan semangat baru dari kepingan harapan dan kekecewaan yang hancur melebur bersama, turbulensi yang terkadang membuatku terjatuh ke dasar jurang yang dasarnya tanpa sadar kubuat sendiri dari harapan semu dan bayangan tanpa arti. Satu yang ada di benakku, melawan arus, melawan keteraturan yang ada, akankah ini menjadi turbulensi terdahsyatku? akankah aku mampu melewati turbulensi ini? ataukah ia akan menarikku ke dasar jurang terdalam? ataukah akan ada turbulensi berikutnya yang akan ku hadapi? Duhai semesta, siapa yang jahat disini? jahatkah aku yang telah mencinta-mati, anormakah perasaan ini yang terbangun tanpa aku sadar, yang bagaimana permulaannya-pun aku tak tahu?

Tentang Rasa 2

imagesHai senja, maaf melewatkanmu hari ini. Senja, apalah bahasa itu, aku tak mengerti. Bagiku bahasa hanya tentang bagaimana seseorang atau sekelompok orang membuat “sesuatu” agar bisa berkomunikasi satu dengan yang lain. Bagiku, bahasa setiap manusia berbeda, aku memiliki bahasaku sendiri, yang jika diekspresikan dengan bahasa yang kami gunakan mungkin maknanya tidak 100% sama atau bahkan berbeda samasekali. Senja, apalah bahasa itu, disaat aku merasakan seperti ini (seperti apanya-pun mungkin kau tak tahu), aku tidak tahu dengan kata apa aku menyebutnya, karena bahasa kami terlalu sedikit, bahasa diri ini lebih kaya dan lebih berwarna, perasaan tidak berbahasa bagiku senja. Senang, sedih, gundah, gulana, yang banyak orang katakan sebagai suatu perasaan, mungkin saja memiliki arti berbeda pada setiap orangnya, aku yakin itu. Sedih yang kurasa mungkin bukan merupakan “kesedihan” bagi orang lain. Apa yang aku anggap senang, mungkin orang lain memiliki definisi tentang kesenangan yang berbeda denganku, bagaimana denganmu? Tentang bahasa, mungkin tak perlu terlalu memikirkannya, bahasa ini hanya diri ini yang mengerti, setiap ketukan dan tuntunannya hanya diri ini yang bisa merasa dan memahami. Mungkin lebih baik begini adanya, sebab aku tak ingin semua orang tahu “bahasaku”. Ya, mungkin aku tak perlu terlalu memikirkan tentang bahasa, karna aku lebih banyak berbicara pada diriku, selalu bertanya ini itu, bahkan segalanya, temanku seorang hanya diriku, teman bicaraku, yang mungkin satu satunya yang bisa mengerti apa dan bagaimana keadaan hati, kujelaskan dengan “bahasaku sendiri”. Senja, cukup indah hari ini yang kulewati ‘sejenak’ bersamamu, menyusuri pinggiran kota, mengulang kembali kenangan yang kita bangun bersama, dan sekali lagi, disitulah aku tak tahu harus ‘membahasakan’ perasaan ini dengan apa, akupun bingung, aku hanya menyebutnya ‘perasaan ini’, entahlah sampai kapan dan sudah berapa macam perasaan dan ekspresi yang kusebut dengan ‘perasaan ini’. Satu yang mungkin dapat aku bahasakan ke dalam bahasa ‘manusia’, yaitu perasaan nyaman, selain itu, semuanya terlalu kompleks dan sekali lagi sampai sekarangpun aku belum mengerti, dan mungkin suatu saat aku akan menemukan, mengerti da  memahami apa hakikat dari si ‘perasaan ini’ dan ‘bahasa’ diri ini. Senja, dengan ini, aku sadar betapa Agungnya Tuhan, karena dengan ‘bahasa’ diri yang sedemikian banyaknya di dunia ini, Tuhan tetap dapat mendengar dan memahami, apa yang aku, dia, dan mereka rasakan serta keluhkesahkan, yang bahkan akupun masih kebingungan dengan perasaan dan bahasaku. Senang melihatmu senja, karena dengan melihatmu, aku dapat tetap mensyukuri nikmat hidup yang diberikan-Nya, walaupun aku belum bisa sepenuhnya menjalankan misi ku sebagai hamba-Nya dengan sebaik mungkin, menjadi agen penyebar kebaikan di bumi ini, menjadi khalifatullah fil-ard, aku tetap senang dan terus berusaha menjadi sebaik mungkin. Selamat menempuh perjalanan hingga esok hari senja, semoga kita bertemu di kesempatan lain, dengan momen serta kenangan yang mengalir, lagi.

Memaafkan dan Memberi

beriHidup ini menyenangkan, kau sadar itu?

Jika kira memikirkan tentang untung dan rugi, maka tiada untungnya bagi kita untuk mempermasalahkan orang yang tidak mempermasalahkan kita, “pusing pusing mikirin orang yang nggak disukai, belum tentu dia memusingkan kita”. Jika ingin merubah kelakuan orang tersebut, dibutuhkan suatu aksi yang pasti menghasilkan reaksi. Jika kau menemukan kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak bisa dengan lisanmu, dan jika tidak bisa juga maka rubahlah dengan hatimu, dengan doa.

Jangankan kita, Allah saja tidak akan merubah keadaan suatu kaum kecuali mereka sendiri yang merubahnya. Disaat keburukan menghampirimu, maka bersabarlah, karena Allah memerintahkan kita untuk bersabar dan berbuat kebaikan. Ingat Firman-Nya dalam surat Luqman yang isinya : Dirikanlah sholat, berbuat baik dan tunjukkan orang bagaimana berbuat baik, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu.

Disaat nano nano kebencian mewarnai diri, cobalah bertafakkur, jawabannya sudah tersedia : berbuat baiklah. Jika kau mau sebentar saja merenungi ayat-ayat Al-Qur’an, kau akan menemukan bahwa salah satu ciri ulul albaab ata yang sering kita sebut sebagai orang berpendidikan adalah orang yang membalas keburukan dengan kebaikan. Walaupun terasa konyol, tapi semua itu mungkin untuk dilakukan, maka cobalah.