Tag Archives: renungan

Renungan di senja hari

Standard

Ketika keajaiban Tuhan datang memenuhi harapan, masihkah kita mempertanyakan akan tanda tanda kebesaran-Nya? tanta tanda kekuasaan-Nya? Sesungguhnya hidup ini adil, semua yang diciptakan-Nya penuh dengan keadilan, hanya saja kita yang terlalu bebal dan bodoh untuk memahami dimana letak keadilan itu. Hidup ini menyenangkan, karena walaupun kita tidak tau, kita dapat merasakan saat saat terakhir kita bersama orang-orang tercinta, entah firasatkah itu atau tanda tanda yang kadangkala tak bisa dimengerti sebelum waktu memanggil. Pelajaran yang dapat kumengerti hari ini, jangan menunda-nunda untuk berbuat kebaikan, jangan berbicara masa depan yang belum pasti ada untuk melakukannya, karena yang nyata adalah kehidupan saat ini, hari ini, apa yang terjadi kemarin adalah sejarah, yang terjadi hari ini adalah hidup kita yang sudah pasti, dan masa depan adalah harapan. Jika bisa melakukan kebaikan mulai detik ini kenapa tidak? Jika terbiasa melakukan dengan segera, mungkin esok hari akan lagi, lagi dan semakin banyak lagi tanpa ada fikiran untuk menunda nunda kebaikan itu. Jangan menunda nunda kebaikan, mungkin dirimu bisa menunggu untuk melakukannya, tapi tidak dengan waktu, dinamika rotasinya berputar tanpa kenal rasa kasihan kepada orang yang menyia-nyiakannya, ia terus berputar dan tanpa disadari ‘jatah’ waktu seseorang semakin berkurang, bahkan habis pada akhirnya, Laa tuakkhir amalaka ilal ghodi maa taqdiru an ta’malahul yauma, never put off till tomorrow what u can do today.

Advertisements

Tuhan, Inilah Saya

Standard

Kalau ada yang bertanya, siapakah orang yang paling munafik di dunia ini, jawabannya adalah saya. Kalau ada orang yang bertanya, siapakah orang yang paling sok tahu, sok pintar, sok agamis di dunia ini, jawabannya adalah saya. Dan kalau ada orang yang bertanya, siapakah orang yang belum mengenal Tuhannya, agamanya dan rasulnya? jawabannya saya. Sejatinya, sayapun belum mengenal siapa diri saya, untuk apa diri ini ada, dan untuk apa diri ini diciptakan. Namun yang saya tahu, Yang Rahman-lah yang menggerakkan tangan saya, fikiran saya lalu mendorong saya untuk terus mengagungkan asma-Nya melalui tulisan ini. Dia yang menenangkan saya dikala musuh saya adalah DIRI SAYA SENDIRI, Kata-Nya : “Janganah takut, tenang, ada Aku yang mengatur”

Ya Rahman, betapa Maha Pengasihnya Engkau. Lalu, disaat kehidupan menuntut lebih, kebutuhan dan keinginan yang belum bias disederhanakan, katanya kuncinya cuma satu TAQWA. Ah, terkadang jiwa ini sempit justru karena ketakutan ketakutan dalam diri sendiri. Padang hidup ini gersang dan kering justru karena keragu-raguan yang ditimbulkan oleh diri sendiri.

Kebahagiaan, kesejahteraan dan kemuliaan hanya dengan Islam, lalu cita cita besar yang telah kau rancang, ribuan kejutan yang telah hanya siap kau ledakkan, ledakkanlah! lakukanlah! Buat semua menjadi nyata bersamaan dengan keagungan ISLAM yang telah kau bawa dari ruh sampai mati, sampai mati.

Jangan pernah mundur, takut, atau lari ke belakang karena firman-Nya telah jelas dalam nash Al-Qur’an “Bersegeralah, berlomba-lombalah” naikilah tangga kreatifitas karena muslim yang kuat lebih dicintai daripada muslim yang lemah.

Sabtu, 8 Februari 2014, Inspirated by : Khulaimah Musyfiqah

Happy Birthday For Me

Standard

Hai, apa kabar? semoga baik ya,

Gimana kabar hari dan hati? semoga iman senantiasa menanjak maju didalamnya.

Waktu adalah hal misterius, dinamika rotasinya berputar, tapi entahlah. Kadang kita terpaku hanya pada satu hal didalamnya. Apa ada perbedaan antara waktu dan durasi? Tapi, diatas semua itu, satu hal yang kuyakini, pasti semua orang didunia ini selalu berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin, terlebih lagi kamu, dan kini, 17 tahun usiamu.

Hari ini, walau aku nggak tau kapan tepatnya, Tuhan masih berbaik hati mencurahkan bagian waktu-Nya kepadamu. Menunggu, apa y ang akan dilakukan atas pemberian itu, dengan persiapan hadiah, ataukah hukuman, pahala atau dosa.

Tapi di atas segalanya, aku yakin, kamu laki-laki baik dan hasan, mengerti akan pelajaran kehidupan ini. Berbahagialah stas rizki Tuhan yang tak terperi ini. 17 tahun dan segala yang ada di dalamnya. Abu Nawas-pun berkata : Usiaku berkurang setiap hari, sedangkan dosaku kian bertambah, bagaimana aku menanggungnya??

Apapun kata kata ini, saya menitip doa kepada-Nya, semoga:

1. Di tahun ini kamu bias meraih apa yang kamu rencanakan. Maka jangan takut! hidup berawal dari mimpi, tapi jangan tidur mulu :p

2. Di tahun ini iman selalu bersemayam dihatimu. Yakinlah bahwa Tuhan selalu menjagamu.

3. Di tahun ini kamu bisa lebih dewasa lagi, maka berdamailah dengan perubahan.

4. Di tahun ini kamu lebih mendapat tempat dihati orang orang yang menyayangimu, terlebih orang tua.

Dan masih banyak pilinan harap dan doaku untukmu. Bahkan, kalaupun ia kasat mata. Warna warninya akan terlihat sebagaimana harapan harapan itu, dan langit akan menampungnya, menunggu, menunggu keikutsertaan tangan-Nya, Sang Maha Segalanya.

SELAMAT ULANG TAHUN! atau apalah disebutnya. Saya ikut serta untuk bahagia dan sedihmu, 🙂 Percaya, Kita selamanya 🙂

#In memoriam : 30 Maret 2013

Tafakkur di Pagi Hari 2

Standard

merenungDi pagi yang cerah,

Jika kau mau berfikir sedikit saja dan merasakan betapa banyak nikmat Tuhan yang telah dianugerahkan kepadamu, niscaya tiada ruang dihatimu bagi segelintir penyakit hati seperti iri, dengki dan hasud, yang tak kalah berbahaya : kufur nikmat!

Pagi ini, coba rasakan, atau hari ini, coba renungkan, betapa banyak nikmat-Nya, sehingga saat kau menyadari bahwa rahmat dan kasih saying-Nya melangit luas kau akan tersungkur sujud, bahkan menangis saat itu juga.

Mungkin ini yang dimaksud dengan tafakkur dipagi hari oleh temanku farhan, walau aku belum tau apa yang seharusnya kurenungkan, aku tetap mencoba untuk berfikir. Saat ini alam telah berbagi keceriaanya padaku. Semilir angin sepoi-sepoi, udara pagi yang sejuk serta kicauan burung-burung selaras dengan apa yang dibutuhkan jiwa ini sekarang. Semua nyanyian alam bertujuan satu : mengagungkan nama-Nya.

Tentang kematian, mungkin sebagian besar orang tak suka membicarakan tentang itu, termasuk aku, kenapa? Karena pada hakikatnya aku belum mencapai tujuan hakiki dari penciptaanku : menjadi abdi setia-Nya. Untuk menjadi sempurna memang terdengar mustahil, namun berusaha untuk menuju ke arah itu tak ada salahnya, maka dari itu, mulai saat itu aku bertekad untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari sekarang, bismillah, pasti bisa.