Tag Archives: resah

Aku dan Sebuah Cerita Cinta di Suatu Senja

Standard

Kepadamu, yang dekat namun terasa jauh saat senja sore itu, yang hanya dapat kupandangi tanpa pernah dapat kugapai, di tempat itu, kala itu, yang mungkin hanya aku, butiran pasir, deburan ombak yang menerpa karang, serta angin sore yang tau, semua cerita ini dimulai.

 

AKU CAKRA

“Stay a while,

I’m gazing the way you move, from far

Never look back since then

I won’t have to wander the woods again”

Sepeda motor yang kukemudikan perlahan semakin cepat, memulai perjalanan menuju suatu tempat yang akan kami jadikan destinasi perkumpulan saat itu. Lagu demi lagu, berputar seiring dengan putaran roda motor yang terus melaju. Aku Cakra, seorang mahasiswa semester tua yang sampai saat ini masih selalu dikejar berbagai macam deadline, yang masih berjuang menghilangkan status mahasiswa abadinya. Siang ini aku dan beberapa kawanku pergi ke suatu pantai untuk berkemah, yang susah sekali rasanya mendapatkan momen berharga seperti ini dikarenakan kesibukan masing-masing. Selama perjalanan, musik yang terlantun dari ipod kesayanganku membawa diriku ke alam damainya, dan pada suatu ketika, musik yang terputar saat itu terjadi bersamaan dengan pandanganku yang tertuju pada seseorang : kamu, yang hanya dapat kupandangi punggungnya dari kejauhan, tanpa pernah dapat kugapai dan kumiliki, yang hanya dapat kulihat sekilas sorot matanya tanpa pernah dapat kuselami, hanya kamu.

AKU DEWI

“If only I could find my way to the ocean

I’m already there with you

If somewhere down the line

We will never get to meet

I’ll always wait for you after the rain”

Perjalanan kami terhenti, matahari yang begitu terik siang itu membuat kami kepayahan. Setengguk minuman dingin akan terasa cukup untuk mengembalikan energy, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di alf*mart, membeli minuman sambil menunggu teman kami yang tertinggal dibelakang. Aku turun dari motor, mataku menyapu setiap motor teman-teman yang berheti, dan aku tak menemukan sosok itu, kurasa dialah yang tertinggal. Aku Dewi, seorang film maniak yang terobsesi dengan suatu film yang diangkat dari novel dee : Perahu Kertas. Sebagai agen neptunus yang baik, saat ini pun aku sudah menyiapkan perahu kertasku untuk melapor kepada neptunus, laporan atas aku yang saat ini sedang merasa bahwa menemukan jalan ke laut bebas untuk melepas segala perasaan itu jauh lebih mudah daripada menemukan jalan ke ruang lingkup kehidupannya, dia yang tertinggal dibelakang, yang mungkin saat ini sedang asyik dengan dunianya. Andaikan aku dapat menemukan jalan itu, sudah pasti saat ini aku ada ‘disana’ bersamamu. Aku tau saat ini aku tak dapat melakukan apa apa, karena seberapapun dalamnya mataku menatap mata itu, lingkaran pupil itu akan tetap sama, tak ada rasa. Aku tersadar dari lamunanku, antrian kasir sudah habis tak terasa, celakanya aku lupa membawa uang, untung ada temanku, “Dio, aku pinjam uangmu dulu ya, hehehe”.

AKU DIO

“In a far land across

You’re standing at the sea

Then the wind blows the scent

And that little star will there to guide me”

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat dimana semua elemen yang ada di alam berkumpul untuk berpisah dan pulang, serta mengucakpan selamat malam satu sama lain. Saat itu, kaki kaki kecil berjejer di pasir pantai itu, duduk memandangi salah satu keagungan Sang pencipta alam. Matahari terbenam itu terasa hangat dan menenangkan, dari kejauhan mataku tertuju pada siluet seseorang ditepi pantai yang diterpa sinar mentari senja, gelap, hanya rambutnya saja yang terbang tertiup angin, aku mengenalnya, karena hanya kami berdelapan yang ada dipantai saat itu. Aku tahu selama ini pemilik sosok itu begitu baik, membuatku merasa beruntung dan bersalah sekaligus, beruntung karena ternyata ada seseorang yang memperlakukanku begitu istimewa, dan bersalah karena segala keresahan dan kebimbangan yang ada. Saat ini, aku tak bias memikirkan apapun tentang apa jadinya aku dan dia nanti, yang kubisa hanya menengguk perlahan segelas kopi ini, dan berharap bintang yang mulai menampakkan dirinya menunjukkanku jalan menuju kepadamu, atau tidak menuju kepadamu. Saat tegukan ketiga, seseorang dari dalam tenda keluar dan merangkul pundakku lembut, “mataharinya bagus ya sayang”, pacarku.

AKU, SEMILIR ANGIN DI SORE HARI

“Ketika angin bicara

tunjukkan arah titik bertemu

maukah kau simpan waktu

lupakan dunia temui aku di sana”

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, ini waktunya untuk berkumpul dan berpisah, akan tetapi ada sesuatu yang menahanku untuk pulang sore itu. Hai kamu, yang duduk terdiam menengguk secangkir kopi sambil memandangi dia di seberang sana, jika kamu mau, aku dapat menyampaikan pesanmu padanya, bicaralah dan berhenti membuat raut wajah resah dan bersalah itu, jika kamu tak sanggup untuk bertemu dan berkata, biar aku yang tunjukkan arahnya, maukah kau simpan waktu? Sejenak lupakan masalahmu dan temui aku disana? Baiklah, aku akan menghampirinya.

Hai kamu yang berdiri termenung memandanginya dari kejauhan, meski wajahmu menjadi siluet, aku masih dapat melihatmu, tatapan itu, sama seperti yang kutemukan dua hari lalu saat pasangan itu kemari dan mengikrar janji, tatapan cinta dan penuh kasih sayang, tak inginkah kau aku untuk menyampaikan sayang itu sekali lagi? Akhirnya aku kembali.

Akhirnya aku menyerah, biarlah insan-insan itu membungkam bisu dalam tatapan serta segala yang mendera fikirnya, mungkin suatu saat, setiap dari mereka akan menemukan jawabannya. Oh! Hai senja! Kau masih disini?

AKU SENJA

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, aku biasa pulang lebih larut dari yang lain, hingga pertemuanku dengan angin sore terjadi. Aku hanya bisa tersenyum, sedikit kasihan, namun lucu, jujur aku tak dapat berkata, jika saja kau rasa, aku telah berusaha memelukmu, memeluk kalian dan memberikan segala kehangatan yang kupunya untuk menenangkan kalian, hanya saja, perasaan kalian yang terlalu larut, sehingga aku seakan terabaikan, tapi percayalah, AKU ADA.

AKU TAMA

Ipod tua ini masih berfungsi dengan sangat baik, rasanya kurang sempurna jika tidak kuputar lagu favoritku untuk mengisi backsound senja ini. Aku ada, lagu favoritku, karena aku yakin bahwa aku selalu ada.

“Melukiskanmu saat senja

Memanggil namamu ke ujung dunia

Tiada yang lebih pilu

Tiada yang menjawabku selain hatiku

Dan ombak berderu

 

Di pantai ini kau slalu sendiri

Tak ada jejakku di sisimu

Namun saat ku tiba

Suaraku memanggilmu akulah lautan

Ke mana kau s’lalu pulang

 

Jingga di bahuku

Malam di depanku

Dan bulan siaga sinari langkahku

Ku terus berjalan

Ku terus melangkah

Kuingin kutahu engkau ada

 

Memandangimu saat senja

Berjalan di batas dua dunia

Tiada yang lebih indah

Tiada yang lebih rindu

Selain hatiku

Andai engkau tahu

 

Di pantai itu kau tampak sendiri

Tak ada jejakku di sisimu

Namun saat kau rasa

Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan

Memeluk pantaimu erat

 

Jingga di bahumu

Malam di depanmu

Dan bulan siaga sinari langkahmu

Teruslah berjalan

Teruslah melangkah

Ku tahu kau tahu aku ada”

Dan akhirnya dipenghujung lagu, baterai ipodku drop bersamaan dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat, menutup segala cerita cinta di senja sore ini, senja dengan segala rasa yang mewarnainya, dan segala yang terfikirkan saat melewatinya.

 

Advertisements

Heart Pieces

Standard

Kata hati : (n). ungkapan yang tak dapat disatukan dalam satu cerita utuh, hanya potongan-potongan yang terjebak dalam suatu lingkaran jenuh.

Semua potongan hati itu, dimulai dari sini :

LOST STARS

As the time’s passing by, people around us changed, you, I, and many other people change, according to the moments they’ve passed those bygone time. And the most terrifying part is finding yourself lost, lost in such thing that nobody else could never find you and bring you back to the right path, but yourself is the only one who can do it. Am I, Are we all lost stars?

HILANG

Setiap orang yang pernah kutemui, tak ada satupun dari mereka yang tidak berubah. Seiring berlalunya waktu, orang orang berubah, keadaan berubah tidak seperti sedia kala. Bagian paling mengerikan buatku saat ini yaitu menyadari kehilanganku dalam suatu kekacauan, kekacauan yang mungkin kubuat sendiri, yang tiada seorangpun yang dapat menemukanku didalamnya lantas membawaku kembali ke jalan yang benar, yang hanya dirikulah yang bias menemukan dan keluar dari keadaan itu.

PERUBAHAN

Aku tahu, entah teman, sahabat, pacar, mantan pacar, atau siapalah itu, mereka perlahan berubah, setiap dari mereka berubah sesuai dengan apa yang telah mereka lalui dan alami selama kurun waktu tertentu, ada yang semakin kuat, semakin teguh, bahkan ada juga yang semakin lemah dan frustasi, satu hal yang kutemukan yaitu kehidupan telah menyebabkan aku, kau, mereka, berubah seperti itu, namun demikian, tetap ada bagian dari diri mereka yang lama, yang masih tersisa dan dapat kutemukan, walaupun tidak seperti sedia kala, seperti ukiran senyum tersirat di wajah yang penuh kehangatan, yang bermuara di pelupuk mata itu. Oh no, mataku tiba tiba berkaca-kaca.

RINDU

Hai kawan, sahabat, lama tidak bertemu, apakah kamu merasakan rindu yang sama? Rindu mengarungi masa-masa indah itu, rindu melalui gang-gang sempit itu, rindu melangkahkan kaki berlari diatas rumput hijau lapangan itu, mengejar layang-layang putus meski entah siapa yang bias meraihnya lebih dulu, serta rindu akan berbagai hal ini dan itu yang telah aku lalui bersamamu. Rindu itu payah, tidak akan sembuh dengan sendirinya, satu satunya obat yang dapat menyembuhkannya yaitu bertemu, dan aku sekarang punya itu, rindu.

 CINTA

Adakah suatu hal kamu sadari yang sama seperti apa yang aku sadari? Aku sadar untuk saat ini, aku tak bisa merasakan cinta, atau apalah kau menyebutnya, satu satunya alasan yang mungkin menyebabkanku tidak dapat merasakan cinta saat ini yaitu karena yang kucintai selama ini hanyalah diriku sendiri. Aku cinta diriku sendiri, melebihi apapun yang kurasakan untuk orang orang di sekitarku, kulakukan segalanya sebagai bentuk rasa cintaku untuk diriku. Entahlah, mungkin ini kutukanku : tak bisa merasakan cinta yang ada disekitarku, bahkan merasakannya untuk mereka. Aku, egoku, mencinta diriku sendiri. I’ll be God damned, I must be cursed.

SAYANG

Senja, aku tak tau, semua rasa sayang yang kurasa untuk mereka, entah benar benar tulus, atau lagi lagi untuk diriku, karena aku yang terlalu takut kehilangan. Aku terlalu bingung untuk menyimpulkan, apakah sayang yang ada untuk mereka hanya sebatas pengorbanan yang kulakukan agar aku tak kehilangan mereka, jika memang begitu adanya, kau boleh menyebutku egois, mengerikan, yang hanya mementingkan egonya sendiri. I curse myself.

WAKTU

Dear time, the only thing I ask you is not to take those people away from me as you walked away, I beg you let them still be by my side. Satu hal yang pada akhirnya paling kutakuti, adalah semua orang berubah, keadaan berubah, dan mereka yang semula ada, perlahan berubah dan pergi, sehingga rasa itu, sayang itu, semua terkesan terpaksa karena aku terlalu takut kehilangan, waktu, bisakah sedikit saja kau taruh belas kasihanmu padaku? Sudikah?