Tag Archives: sahabat

Reasons (Part 3)

Standard

Hai, jika kalian sudah sampai pada part ini, selamat! Kalian sungguh antusias! teruslah membaca hingga keseluruhan dari kisahku kalian fahami, jangan setengah-setengah karena mungkin pandangan kalian terhadapku akan berubah drastis, yang akhirnya membuat kebiasaan berkomentar jahat kalian semakin menjadi-jadi. Tapi, meskipun seandainya hal tersebut benar terjadi, aku akan berusaha untuk tidak peduli samasekali, toh ini urusanku. Untukmu yang senang membaca tulisan-tulisanku, sekarang kau senang ‘kan? membaca kisahku?

Meskipun hidup tidak sempurna, hidup indah begini adanya. Bukan, itu bukan kata-kataku, itu kutipan dari suatu film yang kutonton beberapa tahun lalu. Sesaat atau mungkin beberapa hari setelah film itu kutonton, segala sesuatunya dapat sedikit membaik karena kata-kata itu. Kata-kata itu sedikit menguatkan, kalian?

 

+3

Cinta selalu bersemi di tempat, waktu, dan situasi yang tidak terduga. Ia laksana mentari di tengah temaram, hijau diantara gersang. Cinta tidak pernah datang tiba-tiba, ia akan mengendap-endap menyusup kedalam urat nadimu, meledakkan jantungmu, lalu meninggalkanmu terbakar habis bersama bayang-bayangnya. Kali ini aku tidak bisa mengelak. Aku yakin bahwa hatiku sudah ada di genggamanmu, menjadi hak milik untuk kau rawat, atau mungkin kau hancurkan.  Sebenarnya hanya satu hal yang ingin aku katakana saat itu, berhenti memikat jika tidak mau mengikat. Begitulah kurang lebih potongan cerita dari salah satu novelis favoritku, fiersa besari dalam novelnya garis waktu, dan karena itu alasan ketigaku muncul, cinta. Bagi sebagian besar manusia, atau mungkin semuanya, cinta itu menguatkan, tapi bagiku, cinta sedikit memiliki peran yang berbeda, ia menguatkan untuk meruntuhkan.

Saat itu aku 19, disaat dirinya; seseorang yang kehadirannya pernah sangat kuagungkan dalam lingkaran jenuhku, datang. Meski sekuat apapun hati ini menolak, tak dapat kuhindari, aku terjerembab dalam jebakan cinta. Pertemuan itu pertemuan yang tak pernah aku rencanakan, bagaimana rasa itu tumbuh bukan juga merupakan hal yang kurencanakan, sama sekali tidak, seperti penggalan cerita diatas, dia mengendap-endap kedalam nadiku, kemudian meledakkan jantungku.

Selama aku mengenalnya, selama itu juga aku dan dirinya menjalani suatu hubungan yang aneh karena kata-kata cinta tak pernah sedikitpun terucap, bagiku saat itu, untuk apa kata-kata cinta ada jika perbuatan bisa lebih jelas menunjukannya, hingga pada suatu saat akhirnya aku mengutarakan kalimat itu, jujur aku malas mengingat kata-kata menjijikan yang waktu itu terungkap, yang pasti kalian lebih tau, ya ‘kan? Setelah kalimat itu tersampaikan, tak ada kata-kata maupun reaksi yang kudapatkan darinya, entah mungkin ia lelah berkata-kata, atau mendadak amnesia, hanya dia, tuhan dan setan yang tau, dan pada akhirnya, momen itupun terlewatkan.

Hari-hari pasca pengutaraan itu berjalan seperti biasa, aku bernafas, dia juga bernafas, kurang lebih seperti itu. Ada satu hal yang menggelitik untuk kusampaikan yaitu, meski tak ada jawaban, perlakuannya padaku tetap begitu manis, seolah ‘apa’ yang ada diantara kita masih ‘ada’, sehingga aku berasumsi bahwa diamnya seorang wanita adalah jawaban iya, tapi kenyataan berkata lain. Setelah perlakuan manis yang tetap ia lakukan pasca pengutaraan perasaanku, ia memutuskan untuk menambatkan perahu di dermaga lain saat dermagaku telah kupersiapkan hanya untuknya. Mengapa tak kau ubah saja haluanmu dari dulu? Untukmu, selamat! Kamu masuk alasan ketigaku mengapa aku membenci hidupku, tapi kamu hanya bagian kecil dari itu, berbanggalah! Ada yang lebih mengejutkan dari pengubahan haluanmu, adalah bahwa dermaga tempatmu singgah, memang ternyata seringkali disinggah-tinggalkan oleh perahu-perahu lain, ups. Aku tidak mengada-ada, dermaga sahabatku yang telah dia persiapkan untuk sebuah perahu menambatpun ‘tidak jadi’ untuk ditambatkan, lagi-lagi karena dermaga itu. Bagi sebagian perahu, dermaga itu terlalu indah sehingga dermaga lainpun rela ditinggalkan, begitulah. Sejak saat itu, kuputuskan dermagaku tutup sampai waktu yang tak kutentukan.

Bagaimana dengan dongengnya? Apa kalian masih suka? Jujur aku mulai lelah menyampaikan cerita ini secara halus, biar setelahnya kugambarkan secara lebih gamblang. Alasan yang menguatkanku untuk membenci segala kejadian buruk yang terjadi saat itu adalah kisah teman dekatku, satu lagi teman dekatku mengalami kejadian serupa. Ia ditinggalkan oleh kekasihnya dengan alasan sang kekasih ingin menempuh jalan yang syar’i, dan setelah beberapa bulan, temanku mendapati kekasihnya telah memiliki pengganti dirinya, bagiku, membawa alasan agama untuk minta berpisah adalah pengalihan isu yang brengsek, aku iba pada temanku dan sekaligus frustasi. Akhirnya lagi-lagi hal tidak menyenangkan terjadi, menyaksikan 3 kejadian serupa yang kusaksikan langsung; aku, sahabatku, dan teman dekatku, semua hal itu melahirkan suatu statement mengerikan yang menggugus dalam benakku, “Girls are evil, and I hate girls”, Im sorry to say that, benci disini dalam hal percintaan itu,  nggak lebih. Banyak juga dari kalian yang baik kok, jadi tenang aja dan tak perlu merasa marah atau kecewa, toh kita tak pernah bercinta, ya ‘kan?

Salah satu ungkapan Bahasa Inggris yang kudapatkan saat sekolah menegah dulu adalah “Let gone be by gone”, yang lalu biarlah berlalu. Setelah kejadian itu, kuputuskan untuk melanjutkan hidup dengan statement mengerikan yang telah terpatri, bahwa aku takkan bisa menerima cinta yang datang bagaimanapun bentuknya, ingat dengan tulisanku tentang kutukanku yang tidak dapat merasakan cinta? Sekarang kalian tau asal mulanya. Waktupun tetap berjalan tak peduli, saat itu keadaan tak lagi sama, selain ketiga plusku, ditambah satu plus lagi yang sukses membuatku bertanya-tanya; apakah hidup ini adil? Mengapa langit selalu tega mengambil kebahagiaan orang-orang yang berbuat baik? Lalu apa salahnya menjadi buruk? FYI, ayahku masih sakit, perselisihan masih ada, akademik masih berantakan, ditambah satu plus lagi.

Sejenak mengingat kembali plus keduaku, saat perasaan ditinggalkan itu muncul, saat itu juga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan. Meninggalkan kehidupanku yang lama, kehidupan baikku yang lama. Yang kumaksud dengan hidup baikku disini misalnya, rajin melakukan ibadah, rajin berdoa, ramah kepada orang-orang disekitarku, optimis menghadapi kehidupan, dan hal-hal semacam itu. Itu hidup baik versiku, kalau menurutmu itu tidak ada baiknya samasekali, itu beda urusan.

Menginjak usiaku yang ke 20, aku ‘terlahir’ sebagai individu yang baru, yang masabodoh, yang tak lagi menggantungkan kehidupan kepada siapapun, tak terkecuali, siapapun, yang berhenti untuk berharap, kepada-Nya sekalipun, Dia pun tidak peduli ‘kan? Seiring berjalannya waktu, semenjak meninggalnya aku, aku melihat kehidupan lebih dengan kepala mendongak, menantang sombong. Aku tak tau entah apalagi yang akan takdir lakukan demi kesenangan dirinya sendiri, kuputuskan aku siap menghadapinya, meskipun hatiku mengatakan sebaliknya. And voila! it worked, but only for a while, saat itu prestasiku tidak memperburuk track recordku 4 semester sebelumnya, teman-temanku bertambah, hampir sebagian besar aspek kehidupanku membaik, kurasa, aku menyebutnya renaissance. Meskipun semuanya seakan membaik , tetap ada beberapa hal yang harus kurelakan untuk ‘hilang’, seperti teman-teman ‘baik’ ku, dan ketenangan batin itu, they’ve just gone, segalanya terasa hampa dan kosong.

-3

Disetiap kisah, ada klimaks dan antiklimaksnya, begitu juga cerita ini. Ya, kalian pasti sudah menangkap maksud dari plus dan minus dari dua part sebelumnya. Jika plus adalah klimaksnya, maka minus adalah antiklimaksnya. Mungkin saja antiklimaks yang ada hanya sampai part 3 ini, selanjutnya belum tahu, karena aku belum menemukan alasan lain bagiku untuk tetap hidup, baru t-i-g-a alasan.

Alasan ketigaku untuk tetap hidup adalah kalian, teman-temanku. Meski aku tak memiliki banyak teman, aku akan selalu berusaha menjaga setiap teman yang kupunya, kecuali jika temanku sendiri yang berusaha merusak pertemanan kami, sekalipun dengan cara yang tidak ia sadari, misalnya perahu dan dermaga itu. Jika aku tak pernah mengatakan ini pada kalian, mungkin sekarang waktunya: teman-teman, aku sayang kalian dan tak mau kehilangan kalian. Teman-teman, panggil aku jika kalian butuh, dan kumohon kalian untuk tetap ada, kuatkan aku, buat alasan terakhirku ini lebih kuat dari 7 plusku. Pada akhirnya, antiklimaks yang ada cukup sampai pada part ini. Untuk saat ini, bertahan masih kujadikan opsi terbaik, esok? Siapa yang tau.

Advertisements

Aku dan Sebuah Cerita Cinta di Suatu Senja

Standard

Kepadamu, yang dekat namun terasa jauh saat senja sore itu, yang hanya dapat kupandangi tanpa pernah dapat kugapai, di tempat itu, kala itu, yang mungkin hanya aku, butiran pasir, deburan ombak yang menerpa karang, serta angin sore yang tau, semua cerita ini dimulai.

 

AKU CAKRA

“Stay a while,

I’m gazing the way you move, from far

Never look back since then

I won’t have to wander the woods again”

Sepeda motor yang kukemudikan perlahan semakin cepat, memulai perjalanan menuju suatu tempat yang akan kami jadikan destinasi perkumpulan saat itu. Lagu demi lagu, berputar seiring dengan putaran roda motor yang terus melaju. Aku Cakra, seorang mahasiswa semester tua yang sampai saat ini masih selalu dikejar berbagai macam deadline, yang masih berjuang menghilangkan status mahasiswa abadinya. Siang ini aku dan beberapa kawanku pergi ke suatu pantai untuk berkemah, yang susah sekali rasanya mendapatkan momen berharga seperti ini dikarenakan kesibukan masing-masing. Selama perjalanan, musik yang terlantun dari ipod kesayanganku membawa diriku ke alam damainya, dan pada suatu ketika, musik yang terputar saat itu terjadi bersamaan dengan pandanganku yang tertuju pada seseorang : kamu, yang hanya dapat kupandangi punggungnya dari kejauhan, tanpa pernah dapat kugapai dan kumiliki, yang hanya dapat kulihat sekilas sorot matanya tanpa pernah dapat kuselami, hanya kamu.

AKU DEWI

“If only I could find my way to the ocean

I’m already there with you

If somewhere down the line

We will never get to meet

I’ll always wait for you after the rain”

Perjalanan kami terhenti, matahari yang begitu terik siang itu membuat kami kepayahan. Setengguk minuman dingin akan terasa cukup untuk mengembalikan energy, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di alf*mart, membeli minuman sambil menunggu teman kami yang tertinggal dibelakang. Aku turun dari motor, mataku menyapu setiap motor teman-teman yang berheti, dan aku tak menemukan sosok itu, kurasa dialah yang tertinggal. Aku Dewi, seorang film maniak yang terobsesi dengan suatu film yang diangkat dari novel dee : Perahu Kertas. Sebagai agen neptunus yang baik, saat ini pun aku sudah menyiapkan perahu kertasku untuk melapor kepada neptunus, laporan atas aku yang saat ini sedang merasa bahwa menemukan jalan ke laut bebas untuk melepas segala perasaan itu jauh lebih mudah daripada menemukan jalan ke ruang lingkup kehidupannya, dia yang tertinggal dibelakang, yang mungkin saat ini sedang asyik dengan dunianya. Andaikan aku dapat menemukan jalan itu, sudah pasti saat ini aku ada ‘disana’ bersamamu. Aku tau saat ini aku tak dapat melakukan apa apa, karena seberapapun dalamnya mataku menatap mata itu, lingkaran pupil itu akan tetap sama, tak ada rasa. Aku tersadar dari lamunanku, antrian kasir sudah habis tak terasa, celakanya aku lupa membawa uang, untung ada temanku, “Dio, aku pinjam uangmu dulu ya, hehehe”.

AKU DIO

“In a far land across

You’re standing at the sea

Then the wind blows the scent

And that little star will there to guide me”

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat dimana semua elemen yang ada di alam berkumpul untuk berpisah dan pulang, serta mengucakpan selamat malam satu sama lain. Saat itu, kaki kaki kecil berjejer di pasir pantai itu, duduk memandangi salah satu keagungan Sang pencipta alam. Matahari terbenam itu terasa hangat dan menenangkan, dari kejauhan mataku tertuju pada siluet seseorang ditepi pantai yang diterpa sinar mentari senja, gelap, hanya rambutnya saja yang terbang tertiup angin, aku mengenalnya, karena hanya kami berdelapan yang ada dipantai saat itu. Aku tahu selama ini pemilik sosok itu begitu baik, membuatku merasa beruntung dan bersalah sekaligus, beruntung karena ternyata ada seseorang yang memperlakukanku begitu istimewa, dan bersalah karena segala keresahan dan kebimbangan yang ada. Saat ini, aku tak bias memikirkan apapun tentang apa jadinya aku dan dia nanti, yang kubisa hanya menengguk perlahan segelas kopi ini, dan berharap bintang yang mulai menampakkan dirinya menunjukkanku jalan menuju kepadamu, atau tidak menuju kepadamu. Saat tegukan ketiga, seseorang dari dalam tenda keluar dan merangkul pundakku lembut, “mataharinya bagus ya sayang”, pacarku.

AKU, SEMILIR ANGIN DI SORE HARI

“Ketika angin bicara

tunjukkan arah titik bertemu

maukah kau simpan waktu

lupakan dunia temui aku di sana”

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, ini waktunya untuk berkumpul dan berpisah, akan tetapi ada sesuatu yang menahanku untuk pulang sore itu. Hai kamu, yang duduk terdiam menengguk secangkir kopi sambil memandangi dia di seberang sana, jika kamu mau, aku dapat menyampaikan pesanmu padanya, bicaralah dan berhenti membuat raut wajah resah dan bersalah itu, jika kamu tak sanggup untuk bertemu dan berkata, biar aku yang tunjukkan arahnya, maukah kau simpan waktu? Sejenak lupakan masalahmu dan temui aku disana? Baiklah, aku akan menghampirinya.

Hai kamu yang berdiri termenung memandanginya dari kejauhan, meski wajahmu menjadi siluet, aku masih dapat melihatmu, tatapan itu, sama seperti yang kutemukan dua hari lalu saat pasangan itu kemari dan mengikrar janji, tatapan cinta dan penuh kasih sayang, tak inginkah kau aku untuk menyampaikan sayang itu sekali lagi? Akhirnya aku kembali.

Akhirnya aku menyerah, biarlah insan-insan itu membungkam bisu dalam tatapan serta segala yang mendera fikirnya, mungkin suatu saat, setiap dari mereka akan menemukan jawabannya. Oh! Hai senja! Kau masih disini?

AKU SENJA

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, aku biasa pulang lebih larut dari yang lain, hingga pertemuanku dengan angin sore terjadi. Aku hanya bisa tersenyum, sedikit kasihan, namun lucu, jujur aku tak dapat berkata, jika saja kau rasa, aku telah berusaha memelukmu, memeluk kalian dan memberikan segala kehangatan yang kupunya untuk menenangkan kalian, hanya saja, perasaan kalian yang terlalu larut, sehingga aku seakan terabaikan, tapi percayalah, AKU ADA.

AKU TAMA

Ipod tua ini masih berfungsi dengan sangat baik, rasanya kurang sempurna jika tidak kuputar lagu favoritku untuk mengisi backsound senja ini. Aku ada, lagu favoritku, karena aku yakin bahwa aku selalu ada.

“Melukiskanmu saat senja

Memanggil namamu ke ujung dunia

Tiada yang lebih pilu

Tiada yang menjawabku selain hatiku

Dan ombak berderu

 

Di pantai ini kau slalu sendiri

Tak ada jejakku di sisimu

Namun saat ku tiba

Suaraku memanggilmu akulah lautan

Ke mana kau s’lalu pulang

 

Jingga di bahuku

Malam di depanku

Dan bulan siaga sinari langkahku

Ku terus berjalan

Ku terus melangkah

Kuingin kutahu engkau ada

 

Memandangimu saat senja

Berjalan di batas dua dunia

Tiada yang lebih indah

Tiada yang lebih rindu

Selain hatiku

Andai engkau tahu

 

Di pantai itu kau tampak sendiri

Tak ada jejakku di sisimu

Namun saat kau rasa

Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan

Memeluk pantaimu erat

 

Jingga di bahumu

Malam di depanmu

Dan bulan siaga sinari langkahmu

Teruslah berjalan

Teruslah melangkah

Ku tahu kau tahu aku ada”

Dan akhirnya dipenghujung lagu, baterai ipodku drop bersamaan dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat, menutup segala cerita cinta di senja sore ini, senja dengan segala rasa yang mewarnainya, dan segala yang terfikirkan saat melewatinya.

 

Kita Selamanya

Standard

 

IMG_0736

eiyo..it’s not the end, it’s just the beginning
ok..detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario..eyo..baru mulai diusung
lembaran kertas baru pun terbuka
tinggalkan yang lama,biarkan sang pena berlaga
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
memori crita cinta aku, dia dan kamu

Saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
cinta masa sekolah yang pernah terjadi
dat was the moment a part of sweet memory
kita membumi, melangkah berdua
kita ciptakan hangat sebuah cerita
mulai dewasa, cemburu dan bungah
finally now, its our time to make a history
*Reff: Bergegaslah, kawan..tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan.
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat..kita untuk slamanya!

Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat di dalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan

saat duka bersama, tawa bersama
berpacu dalam prestasi..(huh) hal yang biasa
satu per satu memori terekam
di dalam api semangat yang tak mudah padam
kuyakin kau pasti sama dengan diriku
pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
kawan..kau tahu, kawan..kau tahu khan?
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan

*Reff: Bergegaslah, kawan..tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan.
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat..kita untuk slamanya!

Kita untuk slamanya 🙂 #FUTURE.GEN