Category Archives: Catatan Harianku

Reasons (Part 3)

Standard

Hai, jika kalian sudah sampai pada part ini, selamat! Kalian sungguh antusias! teruslah membaca hingga keseluruhan dari kisahku kalian fahami, jangan setengah-setengah karena mungkin pandangan kalian terhadapku akan berubah drastis, yang akhirnya membuat kebiasaan berkomentar jahat kalian semakin menjadi-jadi. Tapi, meskipun seandainya hal tersebut benar terjadi, aku akan berusaha untuk tidak peduli samasekali, toh ini urusanku. Untukmu yang senang membaca tulisan-tulisanku, sekarang kau senang ‘kan? membaca kisahku?

Meskipun hidup tidak sempurna, hidup indah begini adanya. Bukan, itu bukan kata-kataku, itu kutipan dari suatu film yang kutonton beberapa tahun lalu. Sesaat atau mungkin beberapa hari setelah film itu kutonton, segala sesuatunya dapat sedikit membaik karena kata-kata itu. Kata-kata itu sedikit menguatkan, kalian?

 

+3

Cinta selalu bersemi di tempat, waktu, dan situasi yang tidak terduga. Ia laksana mentari di tengah temaram, hijau diantara gersang. Cinta tidak pernah datang tiba-tiba, ia akan mengendap-endap menyusup kedalam urat nadimu, meledakkan jantungmu, lalu meninggalkanmu terbakar habis bersama bayang-bayangnya. Kali ini aku tidak bisa mengelak. Aku yakin bahwa hatiku sudah ada di genggamanmu, menjadi hak milik untuk kau rawat, atau mungkin kau hancurkan.  Sebenarnya hanya satu hal yang ingin aku katakana saat itu, berhenti memikat jika tidak mau mengikat. Begitulah kurang lebih potongan cerita dari salah satu novelis favoritku, fiersa besari dalam novelnya garis waktu, dan karena itu alasan ketigaku muncul, cinta. Bagi sebagian besar manusia, atau mungkin semuanya, cinta itu menguatkan, tapi bagiku, cinta sedikit memiliki peran yang berbeda, ia menguatkan untuk meruntuhkan.

Saat itu aku 19, disaat dirinya; seseorang yang kehadirannya pernah sangat kuagungkan dalam lingkaran jenuhku, datang. Meski sekuat apapun hati ini menolak, tak dapat kuhindari, aku terjerembab dalam jebakan cinta. Pertemuan itu pertemuan yang tak pernah aku rencanakan, bagaimana rasa itu tumbuh bukan juga merupakan hal yang kurencanakan, sama sekali tidak, seperti penggalan cerita diatas, dia mengendap-endap kedalam nadiku, kemudian meledakkan jantungku.

Selama aku mengenalnya, selama itu juga aku dan dirinya menjalani suatu hubungan yang aneh karena kata-kata cinta tak pernah sedikitpun terucap, bagiku saat itu, untuk apa kata-kata cinta ada jika perbuatan bisa lebih jelas menunjukannya, hingga pada suatu saat akhirnya aku mengutarakan kalimat itu, jujur aku malas mengingat kata-kata menjijikan yang waktu itu terungkap, yang pasti kalian lebih tau, ya ‘kan? Setelah kalimat itu tersampaikan, tak ada kata-kata maupun reaksi yang kudapatkan darinya, entah mungkin ia lelah berkata-kata, atau mendadak amnesia, hanya dia, tuhan dan setan yang tau, dan pada akhirnya, momen itupun terlewatkan.

Hari-hari pasca pengutaraan itu berjalan seperti biasa, aku bernafas, dia juga bernafas, kurang lebih seperti itu. Ada satu hal yang menggelitik untuk kusampaikan yaitu, meski tak ada jawaban, perlakuannya padaku tetap begitu manis, seolah ‘apa’ yang ada diantara kita masih ‘ada’, sehingga aku berasumsi bahwa diamnya seorang wanita adalah jawaban iya, tapi kenyataan berkata lain. Setelah perlakuan manis yang tetap ia lakukan pasca pengutaraan perasaanku, ia memutuskan untuk menambatkan perahu di dermaga lain saat dermagaku telah kupersiapkan hanya untuknya. Mengapa tak kau ubah saja haluanmu dari dulu? Untukmu, selamat! Kamu masuk alasan ketigaku mengapa aku membenci hidupku, tapi kamu hanya bagian kecil dari itu, berbanggalah! Ada yang lebih mengejutkan dari pengubahan haluanmu, adalah bahwa dermaga tempatmu singgah, memang ternyata seringkali disinggah-tinggalkan oleh perahu-perahu lain, ups. Aku tidak mengada-ada, dermaga sahabatku yang telah dia persiapkan untuk sebuah perahu menambatpun ‘tidak jadi’ untuk ditambatkan, lagi-lagi karena dermaga itu. Bagi sebagian perahu, dermaga itu terlalu indah sehingga dermaga lainpun rela ditinggalkan, begitulah. Sejak saat itu, kuputuskan dermagaku tutup sampai waktu yang tak kutentukan.

Bagaimana dengan dongengnya? Apa kalian masih suka? Jujur aku mulai lelah menyampaikan cerita ini secara halus, biar setelahnya kugambarkan secara lebih gamblang. Alasan yang menguatkanku untuk membenci segala kejadian buruk yang terjadi saat itu adalah kisah teman dekatku, satu lagi teman dekatku mengalami kejadian serupa. Ia ditinggalkan oleh kekasihnya dengan alasan sang kekasih ingin menempuh jalan yang syar’i, dan setelah beberapa bulan, temanku mendapati kekasihnya telah memiliki pengganti dirinya, bagiku, membawa alasan agama untuk minta berpisah adalah pengalihan isu yang brengsek, aku iba pada temanku dan sekaligus frustasi. Akhirnya lagi-lagi hal tidak menyenangkan terjadi, menyaksikan 3 kejadian serupa yang kusaksikan langsung; aku, sahabatku, dan teman dekatku, semua hal itu melahirkan suatu statement mengerikan yang menggugus dalam benakku, “Girls are evil, and I hate girls”, Im sorry to say that, benci disini dalam hal percintaan itu,  nggak lebih. Banyak juga dari kalian yang baik kok, jadi tenang aja dan tak perlu merasa marah atau kecewa, toh kita tak pernah bercinta, ya ‘kan?

Salah satu ungkapan Bahasa Inggris yang kudapatkan saat sekolah menegah dulu adalah “Let gone be by gone”, yang lalu biarlah berlalu. Setelah kejadian itu, kuputuskan untuk melanjutkan hidup dengan statement mengerikan yang telah terpatri, bahwa aku takkan bisa menerima cinta yang datang bagaimanapun bentuknya, ingat dengan tulisanku tentang kutukanku yang tidak dapat merasakan cinta? Sekarang kalian tau asal mulanya. Waktupun tetap berjalan tak peduli, saat itu keadaan tak lagi sama, selain ketiga plusku, ditambah satu plus lagi yang sukses membuatku bertanya-tanya; apakah hidup ini adil? Mengapa langit selalu tega mengambil kebahagiaan orang-orang yang berbuat baik? Lalu apa salahnya menjadi buruk? FYI, ayahku masih sakit, perselisihan masih ada, akademik masih berantakan, ditambah satu plus lagi.

Sejenak mengingat kembali plus keduaku, saat perasaan ditinggalkan itu muncul, saat itu juga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan. Meninggalkan kehidupanku yang lama, kehidupan baikku yang lama. Yang kumaksud dengan hidup baikku disini misalnya, rajin melakukan ibadah, rajin berdoa, ramah kepada orang-orang disekitarku, optimis menghadapi kehidupan, dan hal-hal semacam itu. Itu hidup baik versiku, kalau menurutmu itu tidak ada baiknya samasekali, itu beda urusan.

Menginjak usiaku yang ke 20, aku ‘terlahir’ sebagai individu yang baru, yang masabodoh, yang tak lagi menggantungkan kehidupan kepada siapapun, tak terkecuali, siapapun, yang berhenti untuk berharap, kepada-Nya sekalipun, Dia pun tidak peduli ‘kan? Seiring berjalannya waktu, semenjak meninggalnya aku, aku melihat kehidupan lebih dengan kepala mendongak, menantang sombong. Aku tak tau entah apalagi yang akan takdir lakukan demi kesenangan dirinya sendiri, kuputuskan aku siap menghadapinya, meskipun hatiku mengatakan sebaliknya. And voila! it worked, but only for a while, saat itu prestasiku tidak memperburuk track recordku 4 semester sebelumnya, teman-temanku bertambah, hampir sebagian besar aspek kehidupanku membaik, kurasa, aku menyebutnya renaissance. Meskipun semuanya seakan membaik , tetap ada beberapa hal yang harus kurelakan untuk ‘hilang’, seperti teman-teman ‘baik’ ku, dan ketenangan batin itu, they’ve just gone, segalanya terasa hampa dan kosong.

-3

Disetiap kisah, ada klimaks dan antiklimaksnya, begitu juga cerita ini. Ya, kalian pasti sudah menangkap maksud dari plus dan minus dari dua part sebelumnya. Jika plus adalah klimaksnya, maka minus adalah antiklimaksnya. Mungkin saja antiklimaks yang ada hanya sampai part 3 ini, selanjutnya belum tahu, karena aku belum menemukan alasan lain bagiku untuk tetap hidup, baru t-i-g-a alasan.

Alasan ketigaku untuk tetap hidup adalah kalian, teman-temanku. Meski aku tak memiliki banyak teman, aku akan selalu berusaha menjaga setiap teman yang kupunya, kecuali jika temanku sendiri yang berusaha merusak pertemanan kami, sekalipun dengan cara yang tidak ia sadari, misalnya perahu dan dermaga itu. Jika aku tak pernah mengatakan ini pada kalian, mungkin sekarang waktunya: teman-teman, aku sayang kalian dan tak mau kehilangan kalian. Teman-teman, panggil aku jika kalian butuh, dan kumohon kalian untuk tetap ada, kuatkan aku, buat alasan terakhirku ini lebih kuat dari 7 plusku. Pada akhirnya, antiklimaks yang ada cukup sampai pada part ini. Untuk saat ini, bertahan masih kujadikan opsi terbaik, esok? Siapa yang tau.

Advertisements

Reasons (Part 2)

Standard

Dari berbagai kisah hidup manusia yang kuamati dan kuketahui, dapat kuambil kesimpulan bahwa kebanyakan orang yang berhasil, orang yang kaya, menyukai kisah hidupnya, dan dengan begitu semangat menyebarkan kisahnya dengan tag line ‘kisah inspiratif’. Sedangkan sebagian dari orang yang menerima dinginnya perlakuan kenyataan, tidak menyukai kisahnya, meskipun tetap ada secuil kisah indah yang masih bisa disukai, namun terlalu banyak kisah kopinya. Ketika si kaya berperang memenangkan suatu kongsi bisnis, yang lain hanya bisa berperang melawan dirinya sendiri. Disaat sang suksesor bersikeras merumuskan hal hal yang akan dilakukannya besok, bulan depan, tahun depan, dan tahun tahun yang akan datang, sebagian yang lain hanya bisa bersikeras mengendalikan segala macam pikiran aneh yang ada di benaknya, ya begitulah kehidupan ini bekerja, tapi yang kurasa, roda itu tidak benar benar berputar bagiku, ia hanya stagnan bercanda.

+2

Sudah tahu kan kenapa kunamai part-part selanjutnya dengan (+) dan (-)? Tahukah? perjalanan mengenang masa lalu ini sebenarnya tidak terlalu menyenangkan, Karena harus kembali membuka perban yang tertutup rapat, bukan bekas luka, karena masih diperban, sembuh saja belum, tapi bagaimana lagi, kalian suka dengan dongeng sebelum tidur seperti ini ‘kan?

Seperti kataku di plus satu, aku tak menyukai perselisihan ataupun perpecahan, aku bahkan benci. Pada part ini, plus keduaku erat kaitannya dengan plus pertamaku, perpecahan, hanya saja terdapat amplifikasi disuatu bagiannya, menyebabkan butterfly effect yang terjadi semakin menjadi jadi. Kala itu aku 19, disaat kopi kopi kehidupan itu datang tanpa ampun, ya walaupun secara langsung  mulut dan lidahku tidak mengucapkannya, tapi hati ini iya, pasti, ia menjerit.

Tahun 2015, sebenarnya sejak 2014, orang terdekat di lingkaran jenuhku mengalami kejadian tidak menyenangkan, ya bagiku tidak menyenangkan, kalau bagimu terkapar hampir selama dua tahun itu menyenangkan, itu beda urusan, pokoknya buat kami ini tidak menyenangkan sama sekali, dan inilah amplitudonya.

Air keruh, mungkin dapat dijernihkan, hati keruh, mungkin dapat dibersihkan, keadaan keruh, mungkin dapat diperbaiki, namun entah penyelesaian itu tidak ada saat itu, keruh ya keruh saja.

Aku rasa tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak menyayangi orang tuanya, begitu juga aku, sekali lagi, kalua kamu tidak sayang orang tuamu, itu beda urusan. Ketika itu ayahku yang sedang terbaring lemah hampir dua tahun karena operasi penyakit yang telah lama diidapnya, masih saja mendapatkan serangan sana sini, aku sebagai anak, kalian tau apa yang kurasakan? Kalau nggak tau, itu beda urusan, pokoknya yang ada dicerita ini semuanya urusanku, kalau beda dengan urusanmu ya maap L. Kukira dengan sakitnya ayahku, segala perselisihan dapat mereda, setidaknya untuk sementara, ternyata tidak, entah apa yang orang-orang dewasa ini fikirkan, tidak cukupkah bagi mereka melihat orang yang diserang tergolek lemah, bahkan berkata-kata saja tidak bisa, sungguh aku tidak tau apa isi pikiran mereka.

Oh iya, sejauh ini aku belum mendeskripsikan siapa aku. Aku adalah seonggok daging bernyawa yang secara kebetulan Tuhan ciptakan menjadi suatu organisme. Hanya satu hal dari diriku yang kusukai saat itu adalah bahwa aku diterima sebagai mahasiswa baru jurusan teknik sipil, sesuai dengan jurusan yang kumau, tanpa tau monster apa yang menanti didalamnya, yang kutau pokoknya teknik itu keren, keren sih, pengorbanannya juga ga kalah keren, yang dipelajari juga ga kalah keren, pokoknya keren, karena saking kerennya, di semester awal, mereka satu paket keren keren itu berhasil menjatuhkanku, ya benar, nilaiku jeblok, permulaan yang tidak terlalu baik, I guess. Disaat itu aku mulai dibanding-bandingkan oleh orang-orang dalam lingkaranku dengan anak-anak luar teknik yang notabenenya selalu berprestasi sempurna. Bagaimana rasanya dibanding-bandingkan? Jika kamu suka dibanding-bandingkan, itu beda urusan.

Di tahun itu, yang kupikirkan hanya bagaimana aku mengatasi atau menghindari ketiga hal yang terus memenuhi pikiranku : perselisihan yang tak kunjung usai, kondisi ayahku, dan kondisi akademisku, seakan tiga hal itu menekanku dari tiga arah secara bersamaan bagaikan uji triaksial, benda uji itu bengkok, terdistorsi, bahkan patah, dan ini bagai aku yang menjadi benda ujinya, see?

Disaat itu, penasehat-penasehat bodong mulai bermunculan, penasehat yang berbicara tanpa tau apa yang harus dibicarakan dengan orang dihadapannya, menghakimi tanpa mau mengerti, berbicara tanpa mau mendengar. Mereka bilang aku kurang dekat dengan Tuhan, padahal disetiap rintihan doa yang ada aku selalu mempertanyakan kehidupanku pada-Nya, yang ternyata tak kunjung Ia jawab, membuatku merasa ditinggalkan, bahkan oleh yang telah berjanji akan selalu ada di hati sekalipun, aku merasa seluruh semesta berhenti untuk peduli, selanjutnya mereka berjalan saja seperti sediakala, ada dan tiadanya aku bagi mereka sama saja. Menyesal atas perasaan ditinggalkan, akhirnya kuputuskan untuk ‘meninggalkan’.

-2

Sepertinya aku akan menyukai bagian ini, karena pada bagian ini terdapat alasan kedua yang cukup menguatkan akan eksistensiku di semesta.

Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang disuka maupun tidak disuka, tidak terkecuali aku. Sebersar besarnya kebencianku pada kehidupan, terdapat beberapa saat bagian darinya dimana aku ingin waktu terhenti dan berlama lama ada didalam momen itu, ia adalah senja. Aku suka senja, walau senja mengantarkan terang kepada gelap, walaupun perlahan langit biru terpayungi mega lembayung, aku selalu dapat menikmati saat saat itu. Senjaku begitu indah, banyak kenangan indah yang selalu dapat kita kenang bersama, hanya aku dan senja, lewat angin sore, biarkan kita bercengkrama, mungkin ia satu satunya bagian dari semesta yang keberadaannya kuingini dan keberadaanku diinginkannya, seolah olah kita teroneksi dan tak terpisahkan, aku dan senja adalah kesatuan, kami saling menguatkan.

Bagiku kehidupan akan tetap indah jika senjaku selalu ada, dan untuk satu hal, aku sangat berterimakasih kepada Tuhan atas izin-Nya bagiku untuk terus dapat menatap wajah senja, walau dilain kesempatan aku banyak ingkarnya. Tak perlu kuuraikan lebih mengenai senjaku, karena kalianpun tau seberapa berarti senja bagiku, namanya saja pengembara senja, masa tidak suka senja, setuju?

Reasons (Part 1)

Standard

images

Hai, siapapun, yang membaca ini, aku ingin memberi tau bahwa, terkadang yang orang butuhkan saat dia pikir tidak ada lagi tempat baginya untuk pergi, tidak ada seorangpun untuk dia datangi, hanyalah telinga, percayalah, tidak kurang tidak lebih, dengarkan saja apa yang ingin ia katakan dan utarakan, dan jangan lakukan kebiasaanmu untuk kali ini : memberikan komentar jahat, just don’t do it, because it just makes everything worse.

Meskipun jika nanti aku tidak lagi disini, percayalah aku tetap ada, hidup dalam cyber digital yang entah sampai kapan akan tetap ada, hanya saja mungkin takkan ada lagi kisah-kisah selanjutnya bagi kalian yang senang dengan dongeng sebelum tidur semacam yang biasa kutulis belakangan ini.

Ini bukan catatan bagaimana aku meneyerah pada hidupku dan bagaimana aku mengakhirinya, sama sekali bukan, karena itu terdengar mengerikan, sebut saja ini : Perjalanan mengenang masa lalu.

Bagi sebagian orang, masalalu dapat dijadikan batu pijakan untuk melompat lebih tinggi di kemudian hari, tapi bagiku, masa lalu menempati salah satu dari ruang ruang yang ada di alam bawah sadarku, ia mengganggu. Karena itu, terkadang aku membenci masa lalu itu dan selalu bertanya, kenapa segala hal buruk itu harus terjadi, namun tak selamanya buruk, hal hal yang indah dan layak untuk dikenang juga banyak kok, misalnya waktu yang aku lalui sama kamu kamu, sama kalian, iya kalian yang mungkin lagi baca tulisan ini.

+1

6b3acde154581f7193c41b074fa20c6dKalian pernah baca tulisanku tentang suatu lingkaran jenuh? heart pieces? Untuk kali ini, bukan kepingan hati itu yang terjebak dalam suatu lingkaran jenuh, tapi aku, kamu, dia, mereka. Semua orang yang ada di kehidupanku terjebak dalam suatu lingkaran jenuh, yang jika terlihat, benang benang tautan antara satu orang dengan orang yang lain amatlah awut awutan, semuanya saling berinteraksi, saling berhubungan, dan saling mempengaruhi. Setiap dari orang itu mungkin tidak tau, bagaimana dan kapan, apa yang dilakukannya akan berdampak pada orang lain, you will never know how what you did will affect someone else, trust me.

Kenapa aku namai bagian ini dengan +1? Kusebut +1 karena pada bagian ini, kalian akan mendapati 1 alasan kenapa aku membenci hidupku dan ingin istirahat darinya.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, setiap orang dari lingkaran jenuh itu mungkin tidak tau, bagaimana dan kapan apa yang dilakukannya akan berdampak kepada orang lain dalam lingkaran itu, dan disini alasan pertamaku.

Tidak ada manusia yang tidak ingin dihargai, begitupula mereka yang ada dalam lingkaran jenuhku. Sekecil apapun, perlakuan tidak menyenangkan tidak ada yang mau menolerirnya begitu saja. Dan bisa kubilang, alasan pertamaku terjadi sebelum aku punya cukup akal untuk memahami segala yang ada, kala itu aku masih 4, tahun 2000. Perilaku tidak menyenangkan yang salah seorang dari lingkaran jenuhku lakukan, menimbulkan butterfly effect dikemudian hari, tidak langsung meledak saat itu juga, tapi merembet pada hal-hal yang lain. Seseorang dalam lingkaran jenuhku, melakukan perlakuan tidak menyenangkan kepada seseorang, atau orang orang yang lain, menimbulkan perpecahan, aku yang masih 4 mana tau apa itu perselisihan, yang kutahu hanya dot berisi susu coklat yang selalu kuminta pada ibuku saat dia pulang dari tempat kerja. Aku benci untuk mengatakan ini, tapi ya, kurasa engkaulah yang menyebabkan alasan pertamaku muncul, aku tidak suka perselisihan dan perpecahan.

-1

Order and chaos, dua sisi berlainan yang tidak akan pernah dapat saling meniadakan, yang satu merupakan bagian dari yang lain, dan saat yang satu musnah, tidak lama akan terlahir kembali dalam bentuk yang baru. Order and chaos selalu terjadi pada segala aspek kehidupan manusia, begitu juga aku. Ada persaan tidak nyaman disaat aku harus menyayangi dan menyalahkan seseorang dalam waktu yang bersamaan, tapi itulah realitanya.

Kenapa aku namai bagian ini dengan -1? Kunamai demikian karena pada bagian ini, kepalaku, perasaanku, sejenak melunak pada kehidupan. Pada bagian ini, aku condong ke arah penerimaan dan penghargaan atas hidup yang telah Ia berikan, sehingga disini, kalian akan mendapatiku ingin tetap tinggal, karena selain membenci hidup ini, aku mempunyai alasan untuk tetap menjalaninya, setuju?

Alasan itu bermula di tahun yang bahkan aku sendiri pun tidak tau aku ada dimana saat itu, waktu itu aku -2, tahun 1994. Alasanku untuk tetap bertahan bermula disaat dua orang dalam lingkaranku bertemu, memutuskan untuk menciptakan suatu dunia baru yang dijalani bersama, sekata dan seiya, mereka adalah orang tuaku. Alasan aku disini, berjuang, menikmati hidup yang sebenarnya tidak begitu nikmat, biasa saja, adalah mereka. Alasan kenapa aku harus tetap tinggal dan berjuang adalah mereka.

Ah! Order and chaos memang selalu mampu memporakporandakan fikiran, disaat aku mati-matian (atau mungkin hidup-hidupan) bertahan, mereka menguatkan, namun tanpa disadari menumbangkan secara perlahan dengan cara tak langsung, butterfly effect. Namun yang aneh adalah, selain mereka yang ‘memaksaku’ bertahan, ada secuil dari perasaan ini yang tidak ingin menyakiti dan mengecewakan, entah sebagai bentuk terimakasih, atau rasa sayang, bahkan cinta? Entahlah, kaupun tau semua rasaku telah mati dan tertinggal didasar jurang gelap itu, ya kan? Tapi, bagaimanapun, di bagian ini, aku ingin berterimakasih atas segala yang telah mereka lakukan untukku, karena mereka, aku ingin tetap hidup.

Aku dan Sebuah Cerita Cinta di Suatu Senja

Standard

Kepadamu, yang dekat namun terasa jauh saat senja sore itu, yang hanya dapat kupandangi tanpa pernah dapat kugapai, di tempat itu, kala itu, yang mungkin hanya aku, butiran pasir, deburan ombak yang menerpa karang, serta angin sore yang tau, semua cerita ini dimulai.

 

AKU CAKRA

“Stay a while,

I’m gazing the way you move, from far

Never look back since then

I won’t have to wander the woods again”

Sepeda motor yang kukemudikan perlahan semakin cepat, memulai perjalanan menuju suatu tempat yang akan kami jadikan destinasi perkumpulan saat itu. Lagu demi lagu, berputar seiring dengan putaran roda motor yang terus melaju. Aku Cakra, seorang mahasiswa semester tua yang sampai saat ini masih selalu dikejar berbagai macam deadline, yang masih berjuang menghilangkan status mahasiswa abadinya. Siang ini aku dan beberapa kawanku pergi ke suatu pantai untuk berkemah, yang susah sekali rasanya mendapatkan momen berharga seperti ini dikarenakan kesibukan masing-masing. Selama perjalanan, musik yang terlantun dari ipod kesayanganku membawa diriku ke alam damainya, dan pada suatu ketika, musik yang terputar saat itu terjadi bersamaan dengan pandanganku yang tertuju pada seseorang : kamu, yang hanya dapat kupandangi punggungnya dari kejauhan, tanpa pernah dapat kugapai dan kumiliki, yang hanya dapat kulihat sekilas sorot matanya tanpa pernah dapat kuselami, hanya kamu.

AKU DEWI

“If only I could find my way to the ocean

I’m already there with you

If somewhere down the line

We will never get to meet

I’ll always wait for you after the rain”

Perjalanan kami terhenti, matahari yang begitu terik siang itu membuat kami kepayahan. Setengguk minuman dingin akan terasa cukup untuk mengembalikan energy, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di alf*mart, membeli minuman sambil menunggu teman kami yang tertinggal dibelakang. Aku turun dari motor, mataku menyapu setiap motor teman-teman yang berheti, dan aku tak menemukan sosok itu, kurasa dialah yang tertinggal. Aku Dewi, seorang film maniak yang terobsesi dengan suatu film yang diangkat dari novel dee : Perahu Kertas. Sebagai agen neptunus yang baik, saat ini pun aku sudah menyiapkan perahu kertasku untuk melapor kepada neptunus, laporan atas aku yang saat ini sedang merasa bahwa menemukan jalan ke laut bebas untuk melepas segala perasaan itu jauh lebih mudah daripada menemukan jalan ke ruang lingkup kehidupannya, dia yang tertinggal dibelakang, yang mungkin saat ini sedang asyik dengan dunianya. Andaikan aku dapat menemukan jalan itu, sudah pasti saat ini aku ada ‘disana’ bersamamu. Aku tau saat ini aku tak dapat melakukan apa apa, karena seberapapun dalamnya mataku menatap mata itu, lingkaran pupil itu akan tetap sama, tak ada rasa. Aku tersadar dari lamunanku, antrian kasir sudah habis tak terasa, celakanya aku lupa membawa uang, untung ada temanku, “Dio, aku pinjam uangmu dulu ya, hehehe”.

AKU DIO

“In a far land across

You’re standing at the sea

Then the wind blows the scent

And that little star will there to guide me”

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat dimana semua elemen yang ada di alam berkumpul untuk berpisah dan pulang, serta mengucakpan selamat malam satu sama lain. Saat itu, kaki kaki kecil berjejer di pasir pantai itu, duduk memandangi salah satu keagungan Sang pencipta alam. Matahari terbenam itu terasa hangat dan menenangkan, dari kejauhan mataku tertuju pada siluet seseorang ditepi pantai yang diterpa sinar mentari senja, gelap, hanya rambutnya saja yang terbang tertiup angin, aku mengenalnya, karena hanya kami berdelapan yang ada dipantai saat itu. Aku tahu selama ini pemilik sosok itu begitu baik, membuatku merasa beruntung dan bersalah sekaligus, beruntung karena ternyata ada seseorang yang memperlakukanku begitu istimewa, dan bersalah karena segala keresahan dan kebimbangan yang ada. Saat ini, aku tak bias memikirkan apapun tentang apa jadinya aku dan dia nanti, yang kubisa hanya menengguk perlahan segelas kopi ini, dan berharap bintang yang mulai menampakkan dirinya menunjukkanku jalan menuju kepadamu, atau tidak menuju kepadamu. Saat tegukan ketiga, seseorang dari dalam tenda keluar dan merangkul pundakku lembut, “mataharinya bagus ya sayang”, pacarku.

AKU, SEMILIR ANGIN DI SORE HARI

“Ketika angin bicara

tunjukkan arah titik bertemu

maukah kau simpan waktu

lupakan dunia temui aku di sana”

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, ini waktunya untuk berkumpul dan berpisah, akan tetapi ada sesuatu yang menahanku untuk pulang sore itu. Hai kamu, yang duduk terdiam menengguk secangkir kopi sambil memandangi dia di seberang sana, jika kamu mau, aku dapat menyampaikan pesanmu padanya, bicaralah dan berhenti membuat raut wajah resah dan bersalah itu, jika kamu tak sanggup untuk bertemu dan berkata, biar aku yang tunjukkan arahnya, maukah kau simpan waktu? Sejenak lupakan masalahmu dan temui aku disana? Baiklah, aku akan menghampirinya.

Hai kamu yang berdiri termenung memandanginya dari kejauhan, meski wajahmu menjadi siluet, aku masih dapat melihatmu, tatapan itu, sama seperti yang kutemukan dua hari lalu saat pasangan itu kemari dan mengikrar janji, tatapan cinta dan penuh kasih sayang, tak inginkah kau aku untuk menyampaikan sayang itu sekali lagi? Akhirnya aku kembali.

Akhirnya aku menyerah, biarlah insan-insan itu membungkam bisu dalam tatapan serta segala yang mendera fikirnya, mungkin suatu saat, setiap dari mereka akan menemukan jawabannya. Oh! Hai senja! Kau masih disini?

AKU SENJA

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, aku biasa pulang lebih larut dari yang lain, hingga pertemuanku dengan angin sore terjadi. Aku hanya bisa tersenyum, sedikit kasihan, namun lucu, jujur aku tak dapat berkata, jika saja kau rasa, aku telah berusaha memelukmu, memeluk kalian dan memberikan segala kehangatan yang kupunya untuk menenangkan kalian, hanya saja, perasaan kalian yang terlalu larut, sehingga aku seakan terabaikan, tapi percayalah, AKU ADA.

AKU TAMA

Ipod tua ini masih berfungsi dengan sangat baik, rasanya kurang sempurna jika tidak kuputar lagu favoritku untuk mengisi backsound senja ini. Aku ada, lagu favoritku, karena aku yakin bahwa aku selalu ada.

“Melukiskanmu saat senja

Memanggil namamu ke ujung dunia

Tiada yang lebih pilu

Tiada yang menjawabku selain hatiku

Dan ombak berderu

 

Di pantai ini kau slalu sendiri

Tak ada jejakku di sisimu

Namun saat ku tiba

Suaraku memanggilmu akulah lautan

Ke mana kau s’lalu pulang

 

Jingga di bahuku

Malam di depanku

Dan bulan siaga sinari langkahku

Ku terus berjalan

Ku terus melangkah

Kuingin kutahu engkau ada

 

Memandangimu saat senja

Berjalan di batas dua dunia

Tiada yang lebih indah

Tiada yang lebih rindu

Selain hatiku

Andai engkau tahu

 

Di pantai itu kau tampak sendiri

Tak ada jejakku di sisimu

Namun saat kau rasa

Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan

Memeluk pantaimu erat

 

Jingga di bahumu

Malam di depanmu

Dan bulan siaga sinari langkahmu

Teruslah berjalan

Teruslah melangkah

Ku tahu kau tahu aku ada”

Dan akhirnya dipenghujung lagu, baterai ipodku drop bersamaan dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat, menutup segala cerita cinta di senja sore ini, senja dengan segala rasa yang mewarnainya, dan segala yang terfikirkan saat melewatinya.

 

Heart Pieces

Standard

Kata hati : (n). ungkapan yang tak dapat disatukan dalam satu cerita utuh, hanya potongan-potongan yang terjebak dalam suatu lingkaran jenuh.

Semua potongan hati itu, dimulai dari sini :

LOST STARS

As the time’s passing by, people around us changed, you, I, and many other people change, according to the moments they’ve passed those bygone time. And the most terrifying part is finding yourself lost, lost in such thing that nobody else could never find you and bring you back to the right path, but yourself is the only one who can do it. Am I, Are we all lost stars?

HILANG

Setiap orang yang pernah kutemui, tak ada satupun dari mereka yang tidak berubah. Seiring berlalunya waktu, orang orang berubah, keadaan berubah tidak seperti sedia kala. Bagian paling mengerikan buatku saat ini yaitu menyadari kehilanganku dalam suatu kekacauan, kekacauan yang mungkin kubuat sendiri, yang tiada seorangpun yang dapat menemukanku didalamnya lantas membawaku kembali ke jalan yang benar, yang hanya dirikulah yang bias menemukan dan keluar dari keadaan itu.

PERUBAHAN

Aku tahu, entah teman, sahabat, pacar, mantan pacar, atau siapalah itu, mereka perlahan berubah, setiap dari mereka berubah sesuai dengan apa yang telah mereka lalui dan alami selama kurun waktu tertentu, ada yang semakin kuat, semakin teguh, bahkan ada juga yang semakin lemah dan frustasi, satu hal yang kutemukan yaitu kehidupan telah menyebabkan aku, kau, mereka, berubah seperti itu, namun demikian, tetap ada bagian dari diri mereka yang lama, yang masih tersisa dan dapat kutemukan, walaupun tidak seperti sedia kala, seperti ukiran senyum tersirat di wajah yang penuh kehangatan, yang bermuara di pelupuk mata itu. Oh no, mataku tiba tiba berkaca-kaca.

RINDU

Hai kawan, sahabat, lama tidak bertemu, apakah kamu merasakan rindu yang sama? Rindu mengarungi masa-masa indah itu, rindu melalui gang-gang sempit itu, rindu melangkahkan kaki berlari diatas rumput hijau lapangan itu, mengejar layang-layang putus meski entah siapa yang bias meraihnya lebih dulu, serta rindu akan berbagai hal ini dan itu yang telah aku lalui bersamamu. Rindu itu payah, tidak akan sembuh dengan sendirinya, satu satunya obat yang dapat menyembuhkannya yaitu bertemu, dan aku sekarang punya itu, rindu.

 CINTA

Adakah suatu hal kamu sadari yang sama seperti apa yang aku sadari? Aku sadar untuk saat ini, aku tak bisa merasakan cinta, atau apalah kau menyebutnya, satu satunya alasan yang mungkin menyebabkanku tidak dapat merasakan cinta saat ini yaitu karena yang kucintai selama ini hanyalah diriku sendiri. Aku cinta diriku sendiri, melebihi apapun yang kurasakan untuk orang orang di sekitarku, kulakukan segalanya sebagai bentuk rasa cintaku untuk diriku. Entahlah, mungkin ini kutukanku : tak bisa merasakan cinta yang ada disekitarku, bahkan merasakannya untuk mereka. Aku, egoku, mencinta diriku sendiri. I’ll be God damned, I must be cursed.

SAYANG

Senja, aku tak tau, semua rasa sayang yang kurasa untuk mereka, entah benar benar tulus, atau lagi lagi untuk diriku, karena aku yang terlalu takut kehilangan. Aku terlalu bingung untuk menyimpulkan, apakah sayang yang ada untuk mereka hanya sebatas pengorbanan yang kulakukan agar aku tak kehilangan mereka, jika memang begitu adanya, kau boleh menyebutku egois, mengerikan, yang hanya mementingkan egonya sendiri. I curse myself.

WAKTU

Dear time, the only thing I ask you is not to take those people away from me as you walked away, I beg you let them still be by my side. Satu hal yang pada akhirnya paling kutakuti, adalah semua orang berubah, keadaan berubah, dan mereka yang semula ada, perlahan berubah dan pergi, sehingga rasa itu, sayang itu, semua terkesan terpaksa karena aku terlalu takut kehilangan, waktu, bisakah sedikit saja kau taruh belas kasihanmu padaku? Sudikah?

Those days

Standard

“Bagian menyakitkan dari sebuah proses melupakan adalah tanpa sengaja kembali teringat hal-hal yang dahulu sudah tertinggal”

Tidak ada hal lain yang cukup menyakitkan buatku saat ini selain perpisahan. Berpisah dengan mereka yang sudah seperti keluarga, mereka yang merupakan bagian dari senang dan sedihku, dan karena perpisahan, lagi lagi dan lagi aku harus merelakan sebuah rasa yang telah tertanam kuat untuk melunak, serta membiarkan fikiran ini menyendiri, menenangkan dirinya.

IMG_0249Perpisahan itu, perpisahan yang membuatku tak merindukan jogjakarta samasekali, perpisahan yang tak pernah terbayang sebelumnya. Bahkan jogjakarta dengan segalanya yang dulu selalu kuelukan kini tak lagi sama, keramaian yang dulu seakan memelukku erat, kini meninggalkanku dengan sejuta kesepian, tak tahu kenapa seakan hati ini tetap tertambat disana bersama mereka.

Mendengarkan kembali lagu lagu itu seakan menghadirkan mesin waktu yang membawaku kembali ke masa itu. Tempat tempat yang pernah dikunjungi bersama, jalan jalan yang selalu ditelusuri bersama, bahkan waktu fajar dan senja yang tak pernah terlewatkan tanpa kebersamaan yang menyertainya. Semuanya terekam jelas di benak, kenangan itu tertancap kuat, yang begitu sakit dan pilu bagi siapapun yang mencoba untuk mencabutnya, dan nampaknya ia akan menancap semakin dalam pada hati orang orang yang masih enggan untuk selamanya melupakan. Namun untuk melupakan, bagaimana bisa? Tempat tempat itu, jalan jalan itu, saat saat itu, ditemani wajah wajah menyenangkan dan menghangatkan itu, siapa mampu melupakannya dan beranjak pergi? Aku tahu semua ini cukup untuk menyayat hati, namun aku lebih memilih untuk itu daripada melupakan, because this story is worth to remember, even it’s painful to accept the fact that we no longer stay in that memory, all went done.

IMG_0134

Aku, Senja, Dan Kamu

Standard

Hai Senja, kamu adalah favoritku. Entah mengapa, seketika senja kali ini terasa begitu memilukan, begitu menyayat hati. Kamu, favoritku yang terkadang tak kenal rasa iba menghujami hati dan fikiran ini dengan bayang-bayang itu, bayang dan angan tentang senja, tentangmu. Ketika itu aku percaya, senja dan aku dipertemukan pada satu titik pertemuan; cinta, dan sampai saat ini pun aku percaya memang takdir mempertemukan kami demikian adanya, namun sejak saat itu, senja menjadi tak sesempurna biasanya. Aku hilang cukup lama. Hilang dalam kesendirian, hilang jauh dalam kenangan. Sejak saat itu, seringkali aku mencari dan terus mencari, menanti dan terus menanti, sebuah pencarian dan penantian yang tiada berujung. Ketika rasa hilang dan rindu itu memuncak, aku hanya tahu satu kata kemana aku dapat merebahkan keduanya, mengistirahatkan keduanya, kamu tau itu, empat huruf dalam sebuah kata mengisyaratkan seseorang yang padanya aku mampu melepaskan semua rasa yang ada, kamu.

Hai kamu, bagaimana kabarmu disana? Aku ingin tahu, masihkah tangan mungil itu mampu menuliskan apapun itu yang dapat menyenagkanku, menenangkanku? Senja sebelum saat itu selalu terasa sempurna, saat saat dimana kamu selalu ada menghiasi kosongnya hariku. Senja yang selalu ditemani dengan segala canda dan gurauanmu, meski hanya sekelebat ada dalam ingatan. Senja yang selalu ditemani dengan segala kata-kata itu, puisi-puisi itu, ucapan-ucapan itu. Senja yang mengantarkan terang kepada gelap, yang selalu membuatku merasa bahwa akulah orang yang paling beruntung di dunia, bahwa akulah orang yang paling bahagia di dunia, tahukah kamu letak kebahagiaanku? Hanya Aku, dirimu, dan senja yang dapat menjawab dan merasakannya. Senja, padamu seringkali aku berbagi, berbagi kesenangan, kenestapaan, kenangan, juga harapan. Senja, jangan pergi, aku belum selesai, secepat itukah kau akan meninggalkanku? Percakapan singkat ini kuutarakan hanya padamu, dan mungkin kau bisa mengutarakan padanya, apa maksud diri dan hati, tiga kata yang dapat menggambarkan semua itu, Aku rindu padamu.